Hervina Buktikan Pendidikan Non-Formal Bisa Mendunia Lewat Sentuhan Tri Hita Karana

Iklan Home Page

Singaraja, Baliwakenews.com

Di tengah derasnya perubahan zaman dan tantangan pendidikan modern, seorang pendidik asal Kabupaten Buleleng memilih menempuh jalan yang berbeda. Bukan sekadar mengajar membaca dan menulis, ia merancang pembelajaran yang mengajarkan cara bertahan hidup, memahami budaya, sekaligus membangun karakter.

Adalah Ni Putu Ayu Hervina Sanjayanti, sosok pendidik yang berhasil mengharumkan nama Bali di tingkat nasional setelah meraih penghargaan Inovator Pendidikan 2026 kategori Pendidikan Non-Formal dalam ajang Apresiasi Nasional Insan Pendidikan Berdampak 2026.

Penghargaan bergengsi itu diraih melalui inovasi bertajuk “Model SANJAYANTI Terintegrasi Tri Hita Karana: Menganyam Literasi dan Kecakapan Hidup untuk Akselerasi Asta Cita dan SDGs di PKBM Widya Aksara.”

Bagi Hervina, pendidikan bukan hanya soal angka dan ijazah. Ia percaya pembelajaran harus mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Dari keyakinan itulah lahir model pembelajaran yang memadukan literasi, kecakapan hidup, serta filosofi lokal Bali, Tri Hita Karana.

Baca Juga:  Dirancang Jadi Ikon Pariwisata, Tokoh Jimbaran Usulkan Pembangunan Patung Nelayan

Di ruang belajar PKBM Widya Aksara, pendidikan dirancang lebih membumi. Peserta didik tidak hanya diajak memahami teori, tetapi juga dibekali keterampilan hidup, kemampuan beradaptasi, hingga nilai harmoni dengan sesama manusia, alam, dan spiritualitas.

“Pendidikan non-formal memiliki peran strategis dalam membuka akses pembelajaran sepanjang hayat. Melalui model SANJAYANTI, kami ingin menghadirkan pembelajaran yang bukan hanya menguatkan literasi, tetapi juga membangun kecakapan hidup dan karakter berbasis budaya lokal,” ujar Hervina saat dikonfirmasi, Minggu (10/5/2026).

Perjalanan inovasi itu kemudian mengantarkan namanya ke panggung nasional. Ajang penghargaan yang digelar oleh GuruInovatif.id bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah tersebut diikuti ratusan peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Baca Juga:  Pesta Rakyat dan "Aquabike Jetski World Championship" Hadir Kembali di Danau Toba

Pada puncak acara yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting, Hervina tampil sebagai salah satu inovator pendidikan yang dinilai berhasil menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat melalui pendidikan non-formal.

Namun bagi perempuan asal Buleleng itu, penghargaan bukanlah garis akhir. Ia justru melihatnya sebagai pengingat bahwa pendidikan harus terus bergerak mengikuti kebutuhan zaman tanpa kehilangan akar budaya.

“Kami ingin peserta didik memiliki kemampuan untuk bertahan, berkembang, dan tetap berakar pada nilai-nilai budaya serta harmoni kehidupan sebagaimana filosofi Tri Hita Karana,” tegasnya.

Prestasi yang diraih Hervina pun mendapat apresiasi luas dari kalangan pendidikan di Kabupaten Buleleng. Keberhasilannya dinilai menjadi bukti bahwa inovasi dari daerah mampu bersaing dan memberi kontribusi nyata di tingkat nasional.

Baca Juga:  Gubernur Koster Tutup Bulan Bung Karno VII Tahun 2025, JAS MERAH dan Bung Karno Milik Bangsa Indonesia

Lebih dari sekadar trofi penghargaan, capaian tersebut menjadi pesan bahwa transformasi pendidikan bisa lahir dari ruang-ruang belajar sederhana, selama dijalankan dengan gagasan yang berpihak pada manusia dan masa depan.

Di tangan Hervina, pendidikan non-formal tak lagi dipandang sebelah mata. Ia menjelma menjadi ruang harapan baru — tempat literasi, kecakapan hidup, budaya, dan nilai kemanusiaan dirajut menjadi bekal menghadapi dunia yang terus berubah. BWN-03

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment - Iklan Lapor PajakIklan Nyepi Pemkab BadungIklan Idul Fitri Pemkab BadungIklan Idul Fitri Pemprov. BaliIklan Nyepi Pemprov. BaliIklan BWNIklan Nyepi PDAM BadungIklan Nyepi DPRD Badung Iklan UNWAR