Mangupura, Baliwakenews.com
Akselerasi pembayaran digital di Bali terus melesat. Hingga Februari 2026, jumlah merchant QRIS di Provinsi Bali telah menembus 1.202.497 merchant. Kabupaten Badung tercatat sebagai wilayah dengan capaian tertinggi, disusul Denpasar dan Gianyar.
Data tersebut dipaparkan oleh pembicara dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Zetra Les Saputra dalam Workshop Literasi Digital yang digelar Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Badung di Kertha Gosana Puspem Badung, Selasa (21/4/2026).
Menurut Zetra, lonjakan penggunaan QRIS menunjukkan transformasi digital di Bali berjalan sangat cepat, terutama di sektor pariwisata dan UMKM.
“Badung tertinggi capaian QRIS-nya karena kawasan pariwisata dan UMKM-nya masif menggunakan QRIS. Turis asing juga kini banyak menggunakan QRIS cross border,” jelasnya.
Data Bank Indonesia menunjukkan komposisi merchant QRIS di Bali masih didominasi pelaku usaha mikro sebesar 86,79 persen. Disusul usaha kecil 10,96 persen, usaha menengah 1,95 persen, usaha besar 0,29 persen, dan lainnya 0,01 persen.
Hal ini menandakan QRIS telah menjangkau pelaku usaha kecil hingga menengah sebagai tulang punggung ekonomi Bali.
Selain itu, Bank Indonesia juga memaparkan skema tarif Merchant Discount Rate (MDR) QRIS tahun 2026. Untuk usaha mikro, transaksi di bawah Rp500 ribu tidak dikenakan potongan atau 0 persen. Sementara transaksi di atas Rp500 ribu dikenakan potongan 0,3 persen.
Untuk usaha kecil, menengah, dan besar, MDR ditetapkan sebesar 0,7 persen. Sedangkan kategori khusus seperti pendidikan dikenakan 0,6 persen, SPBU 0,4 persen, serta BLU dan PSO 0 persen. Adapun transaksi G2P dan P2G seperti bansos, pajak, paspor, dan donasi juga tidak dikenakan biaya.
“Kalau pembeli bayar QRIS Rp20.000 di usaha mikro, uang masuk tetap Rp20.000 tanpa potongan. Baru ada potongan 0,3 persen jika transaksi di atas Rp500.000,” jelas Zetra.
Di tengah pertumbuhan transaksi digital, Bank Indonesia juga mengingatkan risiko keamanan yang mengintai, seperti call center palsu, phishing, QR code palsu, hingga malware APK.
“Jika ada masalah QRIS seperti sudah bayar tapi belum masuk, atau menemukan stiker QRIS mencurigakan, segera laporkan ke penyedia jasa. Jika belum selesai, laporkan ke Bank Indonesia,” tegasnya.
Bank Indonesia juga telah bersinergi dengan Otoritas Jasa Keuangan melalui kanal pengaduan Indonesia Anti Scam Center (IASC). Kanal ini memungkinkan korban penipuan melapor secara cepat agar rekening pelaku segera diblokir.
Workshop literasi digital ini diikuti ratusan peserta dari mahasiswa, pelajar, hingga pelaku UMKM. Mereka mendapatkan edukasi terkait tips mengatasi transaksi gagal, jaringan lambat saat pembayaran, serta cara mengantisipasi barcode QRIS tertukar.
Melalui kegiatan ini, Bank Indonesia berharap masyarakat Bali semakin cerdas, aman, dan percaya diri dalam menggunakan sistem pembayaran digital yang terus berkembang pesat. BWN-03
































