Denpasar, Baliwakenews.com
Optimisme sektor ritel di Bali terus menguat pada Maret 2026. Hal itu tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) yang mencapai 123,8 atau tumbuh 5,1 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka tersebut masih berada di zona optimis karena berada di atas level 100.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, dalam keterangannya Senin 21 April 2026, mengatakan kenaikan juga terjadi secara bulanan sebesar 0,5 persen (month to month/mtm), didorong momentum Hari Besar Keagamaan Nasional seperti Hari Raya Nyepi dan Idulfitri. Rangkaian hari besar tersebut mendorong peningkatan konsumsi masyarakat, terutama untuk bahan bakar kendaraan bermotor (BBM), pakaian, serta makanan dan minuman.
Survei Penjualan Eceran yang dilakukan Bank Indonesia Provinsi Bali terhadap 100 pengecer di wilayah Denpasar dan sekitarnya menunjukkan sejumlah subsektor mencatat pertumbuhan bulanan. Kategori Barang Lainnya—meliputi farmasi, kosmetik, elpiji rumah tangga, dan bahan kimia—menjadi yang tertinggi dengan kenaikan 2,4 persen (mtm). Disusul bahan bakar kendaraan bermotor serta peralatan informasi dan komunikasi masing-masing tumbuh 1,5 persen.
“Selain itu, sektor sandang dan barang budaya-rekreasi meningkat 1,2 persen, sementara makanan, minuman, dan tembakau tumbuh 0,8 persen,” ujar Erwin.
Pertumbuhan konsumsi yang terkendali juga tercermin dari inflasi tahunan Maret 2026 sebesar 2,81 persen (yoy), masih berada dalam rentang target inflasi nasional 2,5±1 persen.
Prospek ritel Bali juga diproyeksikan tetap positif. Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) untuk Mei 2026 tercatat sebesar 174, lebih tinggi dibanding April 2026 sebesar 170. Bahkan untuk enam bulan ke depan, IEP Agustus 2026 diperkirakan mencapai 194, meningkat dari proyeksi Juli 2026 sebesar 184. Kedua indikator tersebut berada di zona optimis.
Erwin Soeriadimadja, menegaskan pihaknya bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus menjaga stabilitas ekonomi melalui berbagai langkah, termasuk operasi pasar murah untuk komoditas strategis.
Selain itu, kebijakan suku bunga yang tetap dan kelanjutan subsidi BBM dari pemerintah juga menjadi faktor penopang daya beli masyarakat. “Langkah tersebut kami harapkan mampu menjaga pertumbuhan ekonomi Bali tetap berkelanjutan di tengah ketidakpastian global, ” pungkasnya. BWN-03

































