Mangupura, baliwakenews.com
Upaya pembersihan sampah kiriman di kawasan pariwisata Badung terus dikebut. Aksi bersih pantai masih berlangsung hingga Senin (10/2/2026), dengan dukungan alat berat dan armada angkut yang semakin diperkuat. Namun di balik keberhasilan mengendalikan sampah di pesisir, persoalan serius justru mengemuka di hilir: antrean panjang truk di TPA Suwung.
Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Badung telah menambah kapasitas penanganan di lapangan dengan menyewa delapan unit alat berat tambahan, sehingga total yang beroperasi kini mencapai 12 unit. Armada pengangkut pun diperkuat dengan 20 unit truk tambahan untuk mengimbangi lonjakan volume sampah kiriman saat musim angin barat.
Kepala Bidang Pengelolaan Kebersihan dan Limbah B3 DLHK Badung, AA Gede Dalem, menegaskan bahwa secara teknis pihaknya kini jauh lebih siap dibanding sebelumnya. Bahkan, jumlah personel juga diperkuat melalui kerja sama dengan TNI. “Di lapangan sebenarnya pengumpulan sudah bisa kita kejar. Sampah di pantai sudah tidak menumpuk lagi,” ujarnya.
Namun persoalan muncul saat sampah harus dibawa ke TPA Suwung. Setiap hari, sekitar 800 hingga 1.000 truk dari berbagai daerah mengantre untuk membuang sampah di lokasi tersebut. Akibatnya, satu truk dari Badung yang berangkat sejak pagi hari baru bisa menurunkan muatan pada sore hari.
“Berangkat pagi, jam tiga sore baru bisa turun sampah. Kalau balik lagi untuk angkut kedua, operator dan sopir sudah kelelahan,” jelasnya.
Situasi semakin kompleks pada malam hari. Minimnya penerangan serta kondisi jalur di area TPA yang tidak stabil membuat aktivitas malam dinilai berbahaya. Meski secara teori pengangkutan bisa dilakukan 24 jam, faktor keselamatan menjadi batasan utama.
“Kerja malam risikonya tinggi. Jalannya tidak stabil, penerangan minim. Keselamatan operator dan sopir tidak bisa dikompromikan,” tegas Dalem.
Untuk mencegah penumpukan kembali di pantai, DLHK Badung menerapkan langkah taktis dengan memaksimalkan pengumpulan di lapangan. Sejumlah warga bahkan mengizinkan lahannya digunakan sebagai penampungan sementara, dengan komitmen sampah segera diangkut begitu antrean TPA memungkinkan.
Dalem memastikan, saat ini tidak ada lagi sampah yang menumpuk di bibir pantai. Puluhan truk sampah laut telah berhasil diangkut. Sampah laut sendiri dikategorikan sebagai sampah spesifik, karena berasal dari sumber lintas wilayah bahkan lintas pulau, sehingga menjadi tanggung jawab nasional dan diperbolehkan dibuang ke TPA Suwung.
Meski demikian, di lokasi TPA tetap terjadi perebutan antrean dengan sampah rumah tangga dan jasa swakelola dari daerah lain. “Tidak bisa saling salip. Kalau ada yang menyalip, pasti ada konflik,” ujarnya.
Kondisi ini, menurut DLHK Badung, menjadi sinyal kuat bahwa solusi jangka panjang tak bisa lagi ditunda. Salah satu opsi yang terus didorong adalah pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi (PSEL) atau incinerator skala besar yang direncanakan dibangun di kawasan Pelindo.
“Kalau PSEL sudah ada, pengangkutan bisa lebih dimanajemenkan. Kalau sekarang sampah dikumpulkan tapi macet di TPA, hasilnya sama saja,” pungkasnya. BWN-04
































