Ironi Terjadi di Kuta Selatan, Di Tengah Kekhawatiran Air Bersih, Puluhan Meteran Raib Digondol Maling

Iklan Home Page

Mangupura, baliwakenews.com

Malam-malam di sejumlah sudut Kuta Selatan belakangan terasa lebih sunyi. Tak ada suara keras, tak ada tanda kerusakan mencolok. Namun keesokan paginya, air terus mengalir tanpa henti dari pipa-pipa rumah warga tanpa angka yang mencatat, tanpa meteran yang mengukur. Water meter itu hilang.


Sejak akhir Desember 2025 hingga Januari 2026, 77 unit water meter milik pelanggan Perumda Air Minum Tirta Mangutama Badung dilaporkan raib. Angka itu bukan sekadar statistik. Ia menjelma menjadi cerita tentang air yang terbuang, tekanan distribusi yang melemah, dan kegelisahan pelanggan yang tiba-tiba kehilangan alat ukur di halaman rumahnya.


Direktur Utama Perumda Tirta Mangutama Badung, I Wayan Suyasa, menyebut kerugian fisik akibat kehilangan aset tersebut mencapai Rp 51 juta. Namun baginya, kerugian terbesar justru tak kasat mata.

Baca Juga:  Syukuran HUT Kemerdekaan RI Ke-79 di Kabupaten Badung


“Air terus mengalir tanpa pengukuran. Tekanan ke pelanggan lain ikut terganggu. Ini bukan hanya soal barang hilang,” ujarnya.


Air yang seharusnya dibagi merata justru menguap percuma. Di wilayah yang kerap menghadapi persoalan distribusi air, pemborosan semacam ini menjadi ironi yang menyakitkan.


Yang membuat Perumda semakin waspada, kehilangan ini terjadi beruntun dan masif. Polanya seragam, waktunya berdekatan, lokasinya menyebar di Kuta Selatan. Dugaan pencurian pun tak terelakkan. Meski begitu, Perumda memastikan pelanggan tidak menjadi pihak yang disalahkan.


“Water meter memang dititipkan kepada pelanggan, tapi pola kejadian ini jelas tidak wajar. Kami tidak melihat ada unsur kesengajaan dari pelanggan,” tegas Suyasa.

Baca Juga:  Ditegur Stel Musik Bersuara Keras, Dua Pria New York Aniaya Pecalang di Kuta


Alih-alih membebani warga, Perumda memilih menanggung kerugian dengan mengganti seluruh water meter yang hilang tanpa biaya. Di beberapa titik rawan, besi pengaman mulai dipasang—perlahan, bertahap, mengikuti kemampuan anggaran.


Kasus ini tak dibiarkan menjadi urusan internal semata. Perumda menggelar pertemuan lintas unsur: kepolisian, TNI, camat, lurah, bendesa adat, pecalang, hingga tokoh masyarakat se-Kuta Selatan. Dalam ruang rapat itu, rekaman CCTV diputar, data kehilangan dipaparkan, dan satu pesan ditekankan: air adalah kepentingan bersama.


Suyasa juga menepis isu keterlibatan orang dalam. Setiap water meter, katanya, memiliki nomor register dan bodi khusus yang tak bisa digunakan sembarangan. Tanpa sistem dan data, meter curian tak akan berfungsi sebagaimana mestinya.


Di balik angka kerugian dan proses hukum yang berjalan, ada dampak yang dirasakan langsung warga. Tekanan air menurun, distribusi terganggu, dan pelayanan tak lagi optimal. Yang dirugikan bukan hanya Perumda, tetapi seluruh pelanggan.

Baca Juga:  Pengukuhan TPPS Kabupaten, Kecamatan, Desa/Kelurahan Se-Badung  


Karena itu, Perumda mengajak masyarakat ikut menjaga infrastruktur air di lingkungannya melapor jika ada aktivitas mencurigakan, saling mengingatkan, dan menyadari bahwa air bersih bukan sekadar fasilitas, melainkan sumber daya yang harus dijaga bersama.


Di Kuta Selatan, air mungkin terus mengalir. Namun tanpa kepedulian, ia bisa hilang, bukan karena kekeringan, melainkan karena kelalaian dan tangan-tangan tak bertanggung jawab. BWN-04

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment - Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR