Dari Sawah ke Hotel Mewah, Ketika Burung Hantu Jadi Garda Terdepan Pertanian Organik di Kedisan

Iklan Home Page

Mangupura, baliwakenews.com

Di tengah gempuran pariwisata modern dan pola konsumsi instan, sekelompok petani di Desa Kedisan, Tegallalang, Gianyar, justru bergerak ke arah sebaliknya, kembali ke alam, kembali ke organik. Semangat ini mendapat dukungan dari kawasan The Nusa Dua melalui program Green Journey yang digagas oleh ITDC, Selasa (29/7/2025).

Tak sekadar seremonial, kegiatan ini membuka peluang nyata, yakni beras organik dari Kedisan akan disalurkan langsung ke hotel-hotel bintang lima di The Nusa Dua. Dalam momen tersebut, ITDC juga menyerahkan bantuan dua ekor sapi untuk mendukung ekosistem pertanian organik.

“Petani di sini luar biasa. Di tengah zaman serba instan, mereka masih bertahan dengan cara-cara alami. Ini harus diapresiasi,” ujar General Manager The Nusa Dua, I Made Agus Dwiatmika.

Desa Kedisan memang bukan desa biasa. Selain telah ditetapkan sebagai desa wisata sejak 2017, desa ini berhasil menyulap lokasi pembuangan sampah menjadi destinasi Air Terjun Ulu Petanu, sekaligus mendongkrak pendapatan desa hingga 700 persen.

Baca Juga:  Sekda Badung Adi Arnawa Terima Audiensi Pengurus Pendidik TK Se-Kabupaten Badung  

Namun bukan hanya wisata yang jadi unggulan. Melalui Kelompok Tani Kedisan Mandiri, sebanyak 170 petani kini aktif membudidayakan padi secara organik di lahan seluas 37 hektare. Meski baru 4 hektare yang tersertifikasi resmi, potensi produksinya sudah mulai dirasakan. Tiap panen bisa menghasilkan sekitar 40 ton beras, meski yang dijual baru 4–5 ton per musim karena prioritasnya adalah ketahanan pangan lokal.

“Kalau produksinya bisa ditingkatkan hingga 10 ton ke atas, kami sangat terbuka untuk menyerap ke hotel dan restoran,” kata Widiatmika.

Ketua kelompok tani, Putu Yoga Wibawa, menyebut alasan utama mereka memilih pertanian organik adalah krisis ekosistem akibat pupuk kimia. Tapi jalan organik bukan tanpa tantangan. Serangan hama tikus bisa merusak hingga 40 persen hasil panen, karena mereka menolak menggunakan racun kimia.

Baca Juga:  Dampak WWF ke-10, Tingkat Akupansi Kawasan The Nusa Dua Capai 83 Persen

Solusi yang diajukan? Rumah burung hantu sebagai pengendali hayati. ITDC mengaku siap membantu. “Kalau bisa bahkan burung hantunya diternakkan. Kita ingin semua makhluk hidup kembali ke sawah,” ujar Widiatmika.

Kolaborasi antara petani Kedisan dan kawasan The Nusa Dua bukan hanya soal jual beli beras. Ini tentang bagaimana ekonomi pariwisata bisa selaras dengan ekologi lokal. Wisatawan yang datang ke Bali kini mulai mencari pengalaman yang otentik dan bertanggung jawab dan melihat langsung proses bertani organik bisa menjadi atraksi baru.
“Kami tidak menutup kemungkinan menjadikan kelompok tani ini sebagai destinasi wisata edukatif. Ini wisata anti-mainstream yang justru semakin dicari,” ujar Widiatmika.

Baca Juga:  Sidang Paripurna Dilakukan Secara Virtual, Dewan Sampaikan Rekomendasi atas LKPJ Bupati Badung 2019

Kepala Desa Kedisan, Dewa Ketut Raka, menegaskan bahwa desa yang konsisten menjaga lingkungan tidak akan miskin secara ekonomi. Tapi dia juga menyoroti minimnya dukungan pemerintah pusat yang masih condong ke pertanian kimia. “Kami ingin bentuk dukungan lebih konkret. Misalnya, subsidi langsung untuk pupuk organik,” tegasnya.

Apa yang dilakukan Desa Kedisan adalah bukti bahwa pertanian dan pariwisata tak harus saling menyingkirkan. Ketika lahan sawah tak lagi dianggap sebagai beban, melainkan bagian dari solusi, maka Bali akan tetap jadi pulau surga,bukan hanya untuk turis, tapi juga untuk warganya sendiri. BWN-04

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -Iklan Galungan DPRD BadungIklan Galungan Pemkab BadungIklan Galungan PDAM BadungIklan Galungan DPRD Provinsi Bali Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR