Mangupura, baliwakenews.com
Sebanyak 40 karya seniman asal Bali dan Perancis dipamerkan selama sebulan di Museum Pasifika dalam pameran yang bertajuk Reflections Across Borders: Artistic Dialogues Between Indonesia and France. Pembukaan pameran yang menampilkan 40 karya seni 6 seniman dari Bali dan Perancis ini akan dilaksanakan Minggu (22/6/2025) malam.
Pameran ini akan berlangsung selama sebulan yakni dari tanggal 22 Juni hingga 19 Juli 2025. Pameran ini merupakan bagian dari perayaan 75 tahun hubungan diplomatik antara Indonesia-Perancis serta menjadi bagian penting dari rangkaian acara Pesta Kesenian Bali XLVII.
Keenam seniman yang hasil karyanya ditampilkan dalam pameran yaitu, karya I Made Wianta, I Wayan Sujana Suklu, dan I Ketut Budiana,Titouan Lamazou, Joël Alessandra, dan Pascal Hierholtz (Paisi).
Kurator Pameran tersebut, Marlowe Bandem, mangatakan, pameran yang digelar kali ini, bukan sekadar perayaan hubungan diplomatik antara Indonesia dan Prancis serta sebagai bagian penting dari rangkaian acara Pesta Kesenian Bali XLVII, namun merupakan upaya reflektif terhadap sejarah panjang relasi budaya Indonesia dan Prancis, khususnya dalam konteks Bali dan Perancis.
Selain itu momen Ini adalah sebuah kesempatan untuk mempertanyakan lagi relasi kebudayaan ini, bagaimana cara kita memandang Bali dari masa kolenial ke masa sekarang. “Hal ini lah yang kami dorong untuk teman-teman seniman,” ujarnya.
Pameran ini lanjut dia, menampilkan karya lebih dari 40 seniman dari Bali dan Prancis yang merefleksikan hubungan timbal balik antara dua tradisi artistik ini. Pameran ini menggali bagaimana seniman Bali termasuk Made Wianta, I Wayan Sujana Suklu, dan I Ketut Budiana yang terinspirasi oleh modernisme Prancis dan mengolahnya dalam bahasa visual yang berpijak pada filosofi lokal.
Karya mereka menampilkan perpaduan antara abstraksi, simbolisme, dan spiritualitas Bali dengan pendekatan formal ala Prancis. Sementara itu, para seniman Prancis seperti Titouan Lamazou, Joël Alessandra, dan Pascal Hierholtz (Paisi), memamerkan karya-karya yang lahir dari pengalaman langsung mereka di Bali.
Dengan pendekatan yang penuh penghormatan, mereka menggali tema spiritualitas, ritual, serta lanskap budaya dan alam Bali dalam lukisan, gambar, dan karya abstrak yang menyerap suasana khas pulau ini. “Pameran ini dirancang sebagai perjalanan visual yang melampaui batas geografis dan ideologis,” ujarnya.
Selain itu, Reflections Across Borders menampilkan karya-karya yang tidak hanya menceritakan tentang inspirasi lintas budaya, tetapi juga mengajak pengunjung untuk merenungkan makna perjumpaan artistik di dunia yang semakin saling terhubung. Direktur Museum Pasifika, Laksmi Sugiri menambahkan, Museum ini memiliki koleksi lebih dari 600 karya seni dari 25 negara.
Museum Pasifika telah menjadi duta budaya kawasan Asia Pasifik, menyatukan koleksi seni dari berbagai negara dan era. “Tidak hanya menjadi rumah bagi karya seni, museum ini juga merupakan ruang dialog bagi seniman dan masyarakat untuk memahami warisan budaya dunia. Keikutsertaan Museum Pasifika dalam pameran internasional seperti di Venice La Biennale, Singapore, dan pameran seni di Evian dan Paris memperkuat posisinya sebagai institusi yang berkomitmen pada promosi seni lintas budaya,” pungkasnya. BWN-04


































