baliwakenews.com – Belakangan beredar anggapan bahwa konsumsi kerang dapat memicu autisme, terutama pada anak-anak. Klaim ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan orang tua, khususnya yang rutin mengonsumsi makanan laut. Namun, benarkah makan kerang bisa menyebabkan autisme?
Menurut berbagai penelitian ilmiah, autisme atau gangguan spektrum autisme (ASD) adalah kondisi neurodevelopmental kompleks yang berkaitan dengan perkembangan otak. Hingga kini, para ilmuwan sepakat bahwa penyebab utama autisme adalah kombinasi faktor genetik dan gangguan perkembangan otak sejak dalam kandungan.
Isu keterkaitan makanan laut dengan autisme biasanya dikaitkan dengan paparan logam berat seperti merkuri, yang dapat ditemukan dalam beberapa jenis ikan laut. Namun, penting dicatat bahwa kerang justru tergolong makanan laut yang rendah kandungan merkuri. Risiko kesehatan akibat merkuri lebih sering dikaitkan dengan konsumsi ikan besar seperti hiu, tuna sirip biru, atau swordfish dalam jumlah berlebihan.
“Belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa makan kerang bisa menyebabkan autisme,” kata seorang pakar gizi. Ia menambahkan bahwa selama kerang dikonsumsi dalam jumlah wajar dan berasal dari sumber yang bersih, makanan tersebut aman dan bahkan kaya nutrisi seperti protein, zinc, dan omega-3.
Dengan demikian, klaim bahwa makan kerang bisa menyebabkan autisme tidak berdasar dan termasuk informasi yang menyesatkan. Masyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati dalam menyebarkan informasi yang belum terbukti kebenarannya secara ilmiah. BWN-01





























