baliwakenews.com – Musim sepi atau low season di Bali tahun ini terasa lebih lengang dibandingkan tahun sebelumnya. Sejumlah destinasi wisata, hotel, dan restoran melaporkan penurunan jumlah wisatawan yang cukup signifikan, menimbulkan kekhawatiran bagi para pelaku industri pariwisata di Pulau Dewata.
Menurut data dari Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, tingkat okupansi hotel pada bulan Februari hingga Maret 2025 mengalami penurunan sekitar 20% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Beberapa kawasan wisata seperti Kuta, Seminyak, dan Ubud yang biasanya tetap ramai meski di low season kini terlihat lebih sepi.
“Kami merasakan penurunan jumlah tamu yang cukup drastis, terutama dari wisatawan mancanegara. Biasanya, meski sedang low season, masih ada cukup banyak turis Australia dan Eropa. Namun tahun ini berbeda, lebih sepi dari yang kami perkirakan,” ujar Made Wijaya, pemilik salah satu vila di Canggu.
Beberapa faktor diduga menjadi penyebab sepinya wisatawan di Bali tahun ini. Salah satunya adalah kondisi ekonomi global yang melemah, menyebabkan banyak turis internasional menunda perjalanan mereka. Selain itu, kebijakan visa dan pajak turis yang baru diterapkan pemerintah juga dinilai mempengaruhi minat wisatawan untuk datang ke Bali.
“Mulai tahun ini, ada biaya kontribusi wisatawan sebesar Rp 150.000 per orang. Meskipun jumlahnya tidak besar, hal ini bisa menjadi pertimbangan bagi beberapa wisatawan, terutama yang melakukan perjalanan dalam kelompok besar,” tambah Made.
Selain itu, tren perjalanan ke destinasi alternatif juga disebut sebagai penyebab berkurangnya kunjungan wisatawan. Sejumlah negara di Asia Tenggara seperti Vietnam dan Filipina semakin gencar mempromosikan pariwisata mereka dengan harga yang lebih kompetitif.
Meski mengalami penurunan, para pelaku pariwisata di Bali berharap kondisi ini hanya sementara. Mereka berharap pada musim liburan mendatang (high season), jumlah kunjungan wisatawan bisa kembali meningkat. BWN-01

































