Tabanan, baliwakenews.com
Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang terus meningkat di Desa Kelating mendorong mahasiswa Universitas Mahasaraswati (UNMAS) Denpasar yang tergabung dalam Tim Pengabdian Masyarakat UNMAS untuk turun tangan. Dengan bimbingan apoteker, Ni Made Dharma Shantini Suena, pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan mahasiswa UNMAS ini berlangsung dari Juli hingga Agustus 2024.
Para mahasiswa tidak hanya memberikan penyuluhan, tetapi juga melakukan fogging di enam wilayah banjar di desa tersebut. Hal ini, untuk memutus rantai penularan penyakit berbahaya tersebut
“Edukasi pemberantasan DBD yang dilakukan di Desa Kelating fokus pada lingkungan bersih. Untuk itu pada 14 Juli 2024, mahasiswa yang tergabung dalam Tim Pengabdian Masyarakat UNMAS menggelar penyuluhan bagi ibu-ibu PKK di Desa Kelating,” ujar Shantini Suena.
Mereka, sambungnya memberikan edukasi tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan untuk mencegah gigitan nyamuk Aedes aegypti, penyebab utama DBD. Dalam kegiatan ini, mahasiswa juga mendemonstrasikan cara membuat obat tradisional dari daun pepaya, yang dipercaya dapat meningkatkan trombosit pada pasien DBD, serta pembuatan abate alami dari biji pepaya untuk membunuh jentik-jentik nyamuk.
“Ibu-ibu sangat antusias dengan penyuluhan ini, terutama karena kasus DBD di desa kami terus meningkat setiap tahunnya,” ujar Ibu Cok, Ketua Wilayah Banjar Dangin Jalan, yang mendukung penuh kegiatan ini.
Kegiatan pengabdian ini menghadirkan solusi alami yaitu dengan obat tradisional dari Pepaya. Para mahasiswa mendemonstrasikan pembuatan perasan daun pepaya, dengan langkah-langkah berikut: siapkan 50 gram daun pepaya muda (6-7 helai) yang sudah dibersihkan. Kemudian iris daun pepaya, lalu tumbuk halus dan tambahkan 50 ml air. Peras dan saring hingga jernih (tanpa serat daun yang tersisa). Takar sebanyak 30 ml perasan daun pepaya. Untuk mengurangi rasa pahit, tambahkan 1-1,5 sendok makan madu.
“Disarankan untuk mengonsumsi ramuan ini dua kali sehari setelah makan. Penting untuk dicatat bahwa daun pepaya tidak boleh dimasak, direbus, atau dicuci dengan air panas agar khasiatnya tetap terjaga,” tutur Shantini Suena.
Selain pembuatan obat transisional, Tim Pengabdian Masyarakat UNMAS juga melatih ibu-ibu PKK membuat Abate Alami yang efektif membunuh jentik nyamuk. Kegiatan pelatihan dilaksanakan pada 11 Agustus 2024, yang sebelumnya telah diawali dengan penyuluhan.
“Mahasiswa kami mendemonstrasikan pembuatan abate alami dari biji pepaya, yang telah terbukti efektif membunuh jentik nyamuk. Dalam pengujian, serbuk biji pepaya yang ditaburkan ke dalam air berisi jentik nyamuk berhasil membuat semua jentik lemas dan mati dalam waktu kurang dari satu menit,” ungkapnya.

Langkah-langkah pembuatannya abate alami dari biji pepaya adalah jemur biji pepaya di bawah sinar matahari atau keringkan dengan oven. Setelah kering, tumbuk atau blender biji pepaya hingga halus. Serbuk abate dari biji pepaya siap digunakan.
“Penyuluhan yang kami lakukan tidak hanya memberikan informasi terkait bahaya DBD dan cara penanganannya, tetapi juga mengajarkan ibu-ibu PKK di Desa Kelating cara praktis untuk turut serta dalam pemberantasan DBD di lingkungan mereka,” tukasnya.
Selanjutnya Tim Pengabdian Masyarakat UNMAS melakukan upaya menekan populasi Nyamuk Aedes Aegypti dengan Fogging. Rangkaian pelaksanaan fogging pada 24 Juli hingga 13 Agustus 2024 di enam wilayah banjar Desa Kelating. Kepala Bidang Kesehatan Desa Kelating menyatakan, kasus DBD di Desa Kelating, terutama di Balai Banjar Dangin Jalan, menunjukkan tingkat kasus yang tinggi dibandingkan wilayah lain. Pihaknya membutuhkan bantuan untuk melaksanakan fogging secara rutin di seluruh desa.
Fogging ini bertujuan mengurangi populasi nyamuk Aedes Aegypti sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Selain itu, dilakukan penyebaran bubuk Abate setelah pemeriksaan rumah-rumah warga untuk menemukan genangan air yang menjadi tempat berkembang biaknya jentik nyamuk. Masyarakat juga diberikan edukasi tentang pentingnya menguras genangan air secara rutin sebagai upaya pencegahan DBD.
Dengan aksi nyata ini, mahasiswa UNMAS Denpasar, di bawah bimbingan apoteker Ni Made Dharma Shantini Suena, tidak hanya menurunkan populasi nyamuk di Desa Kelating, tetapi juga berhasil meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan lingkungan.
“Langkah ini kami harapkan menjadi inspirasi bagi komunitas lain di seluruh Bali,” pungkas Shantini Suena. BWN-03


































