PKM Unwar Pengolahan Limbah Ternak Menjadi Pupuk Organik KUBE Ternak Kambing Rare Angon

Iklan Home Page

Gianyar, baliwakenews.com

Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas Warmadewa (Unwar) kali ini dilaksanakan dengan menggandeng mitra Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Ternak Kambing Rare Angon di Desa Temesi, Kabupaten Gianyar. Tim PKM Unwar yang diketuai Ir. Ni Ketut Mardewi, MP., memberikan pelatihan Pengolahan Limbah Ternak Menjadi Pupuk Organik Yang Berkualitas dan Bernilai Ekonomi.

Ketut Mardewi, bersama anggota tim Ir. Yan Tonga, M.P., Ir. I Gede Sutapa, M.P., dan dibantu mahasiswa I Putu Ngurah Natama, I Agus Karta Pranamya, serta Chevita Firdhi Audita pada 3 Mei 2024, melaksanakan kegiatan PKM diawali penerimaan di kantor Desa Temesi, dilanjutkan dengan kegiatan penyuluhan mengenai budidaya ternak kambing yang baik dan benar serta pentingnya melakukan penanganan terhadap limbah yang dihasilkan dalam usaha peternakan. Sekitar 16 orang hadir dalam kegiatan.

Ketut Mardewi memaparkan ternak kambing merupakan salah satu komoditas ternak penghasil daging yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan karena mampu memberikan pendapatan keluarga walaupun diusahakan dalam skala kecil/rumah tangga. Oleh karena itu pemerintah Desa Temesi mengupayakan melakukan pengembangan usaha ternak kambing melalui pemanfaatan dana desa dengan program ketahanan pangan yaitu meningkatkan kapasitas petani dan produktivitas ternak kambing yang diberikan kepada beberapa anggota masyarakat dibawah naungan KUBE Ternak Kambing Rare Angon Desa Temesi.

Saat ini KUBE Ternak Kambing Rare Angon Desa Temesi memiliki 15 orang anggota yang 100% bermata pencaharian sebagai petani peternak. Sebagai petani seluruh anggota mengembangkan pertanian khususnya padi dan bunga pacah yang hasil panen dan limbahnya bisa sebagai bahan pupuk organik, namun produktivitasnya rendah akibat serangan hama dan penyakit.

Baca Juga:  Teco Cugurra Rampungkan Lisensi A Pro

“Hal ini juga disebabkan karena sistem budidaya yang masih secara konvensional yaitu tanah tidak diolah, bibit langsung ditanam, pemupukan dilakukan hanya sekali saja dengan dosis yang belum memenuhi standar kebutuhan hara, ” ungkapnya.

Sedangkan untuk usaha peternakan dilakukan dalam skala kecil/rumah tangga yang dikembangkan oleh setiap anggota adalah kambing. Dengan kepemilikan berkisar 2-20 ekor ternak kambing, yangmana kelompok mitra sangat merasakan manfaat beternak kambing karena hal ini menjadi tumpuan/penopang pendapatan keluarga. Karena dari ternak kambing menghasilkan ternak kambing yang bisa dijual dan limbah ternaknya berupa kotoran dan urinenya bisa bernilai ekonomi.

“Saat ini kotoran kambing dijual 1 karung isi 30 kg seharga Rp 20.000 (Rp.650/kg) dan urinenya terbuang begitu saja, maka jika diberikan sentuhan tenologi maka kompos dari kotoran kambing bisa bernilai Rp 45.000 (Rp 1.500/kg) dan pupuk organik cair dari urine bisa seharga Rp 15.000/liter, ” ucapnya menerangkan.

Namun saat ini produktivitas ternak kambing masih rendah dan tingkat kematiannya juga tinggi serta limbahnya belum diolah untuk dijadikan pupuk organik. Hal ini tidak terlepas dari faktor anggota mitra belum begitu paham tentang pengetahuan dan keterampilan memelihara ternak kambing yang baik dan benar serta belum mengetahui tentang cara mengolah limbah ternak padat dan cair menjadikan pupuk organik.

Baca Juga:  Pelajari Cara Budidaya Dan Pemasaran Koi, Dinas Perikanan Kabupaten Badung Kunjungi Sukabumi

“Selama ini, mitra belum pernah sama sekali mendapatkan pengetahuan dan keterampilan tentang hal tersebut di atas sehingga dijual begitu saja dengan sangat murah. Mengenai limbah ternak dan pertanian yang berlimpah juga belum dimanfaatkan/diolah menjadi pupuk organik, ” katanya.

Limbah ternak dan limbah pertanian dibiarkan begitu saja dan tanpa diolah, langsung saja dimanfaatkan sebagai humus untuk tanaman. Padahal jika limbah tersebut diolah dengan sentuhan teknologi akan bisa menjadi pupuk organik yang berkualitas dan bernilai ekonomis.

“Kelompok mitra saat ini, mengembangkan tanaman padi dan bunga pacah yang produktivitasnya masih rendah karena adanya serangan hama penyakit dan penggunaan pupuknya sangat rendah karena harganya mahal. Sehingga dengan mampunya mitra memproduksi pupuk organik padat dan cair ini akan bisa mengatasi permasalahan serangan hama penyakit dari pupuk cair dari urine ternak kambing dan akan mampu meningkatkan produktivitas dengan pupuk padat yang lebih murah, ” tukasnya.

Selama ini feses dan urine kambing dibiarkan saja berserakan di bawah kandang tidak ditampung atau diolah. Bila limbah ditangani dengan baik dan tepat berdampak pada lingkungan kandang yang bersih dan nyaman, berdampak pada kesehatan ternak dan peternak, dan berdampak sosial. Limbah yang semula kurang bernilai bila ditangani dengan baik akan meningkat nilainya baik nilai nutrisi maupun ekonominya.

Dari persoalan tersebut Tim PKM Unwar memberikan penyuluhan mengenai upaya untuk meningkatkan produktivitas ternak kambing (penyuluhan mengenai manajemen pemeliharaan ternak kambing yang baik) dengan harapan peternak dapat memahami dan terampil beternak kambing yang baik. Penyuluhan dan pelatihan / praktek tentang penerapan teknologi pengolahan limbah ternak menjadi pupuk organik yang berkualitas dan bernilai ekonomis agar petani/peternak mengerti, memahami, serta mampu membuat pupuk organik cair dari urin dan pembuatan kompos dari limbah padat ternak ( feses dan sisa-sisa pakan) sekaligus untuk mengurangi masalah limbah ternak.

Baca Juga:  Mudahkan Orang Asing Dapatkan Visa, Imigrasi Kerja Sama dengan VFS Global

Setelah kegiatan penyuluhan, kemudian dilakukan praktek pembuatan Pupuk Organik Cair dan Pupuk Padat yang berkualitas bertempat di area kandang, sekaligus mendemontrasikan peralatan dan bahan yang disumbangkan pada kelompok seperti peralatan dan bahan fermentasi, alat ukur, alat saring, mesin penghalus pupuk, mesin jahit karung kemasan, sejumlah botol kemasan dilengkapi label, dan beberapa karung kemasan dilengkapi label untuk pupuk padat.

Kelompok sangat tertarik dan aktif dalam pelaksanaan kegiatan. Sebulan setelah pertemuan pertama, pada 17 Juni 2024 Tim PKM melaksanakan Monev terhadap Pupuk Organik Cair dan Pupuk Organik Padat yang telah dibuat. Anggota kelompok sangat antusias dan semangat mengikuti kegiatan. Kelompok berterimakasih kepada tim PKM karena telah melakukan transfer ilmu, dan keterampilan serta memberikan sumbangan peralatan dan bahan yang dibutuhkan kelompok. Ketua kelompok berharap selanjutnya tim tetap membina kelompok mereka. BWN-03

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -Iklan Galungan DPRD BadungIklan Galungan Pemkab BadungIklan Galungan PDAM BadungIklan Galungan DPRD Provinsi Bali Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR