Kintamani, baliwakenews.com
Kulit kopi, selama ini menjadi limbah yang tidak bermanfaat bagi para petani di Desa Belantih, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Melihat persoalan tersebut Program Kemitraan Masyarakat Universitas Warmadewa (PKM Unwar) berupaya memperkenalkan teknologi dan melatih Kelompok Wanita Tani (KWT) Di Kawasan Wisata Kintamani, Bangli, Bali, mengolah limbah kulit kopi sebagai sumber penghasilan tambahan.
Ketua Tim PKM Unwar, Ir. A. A. Ngurah Mayun Wirajaya,MM., memaparkan limbah kulit kopi dapat diolah menjadi pupuk organik kualitas tinggi dengan memanfaatkan teknologi. Untuk itulah Tim PKM Unwar melaksanakan pengabdian pada 6 Mei 2021 dan dilanjutkan 27 Mei 2021 pada KWT “Merta Sari Sabang” di Desa Belantih, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali.
Kegiatan mengusung tema “PKM Peningkatan Nilai Tambah Limbah Kulit Kopi Pada Kelompok Wanita Tani Di Kawasan Wisata Kintamani, Bangli, Bali”.
Lebih lanjut dipaparkan Desa Belantih yang terletak di bagian barat kawasan wisata Kintamani memiliki pemandangan dan bentang alam yang indah serta tanah yang subur. Kawasan ini merupakan sentra penghasil produk hortikultura, perkebunan kopi (282 ha) dan jeruk (175 ha) yang dominan selain buncis, tomat, kubis, terong dan cabai seluas 11,13 ha.
“Sebagian besar masyarakat Desa Belantih masih mengandalkan bekerja di sektor pertanian sebagai sumber penghasilan utama. Untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman selain menggunakan pupuk kimia, sebagian besar petani masih menggunakan pupuk organik yang berasal dari kotoran sapi dan ayam yang mudah didapat dalam jumlah besar serta memenuhi kebutuhan luasan tanam, ” ungkapnya didampingi anggota tim PKM Ir. Made Sri Yuliartini,M.Si, dan Dr.Ir. I Gusti Bagus Udaya, M.Si.
Sampai saat ini, sumber pupuk organik yang sebenarnya dapat dimanfaatkan dari limbah kulit buah kopi dari sisa pengolahan basah dari pabrik yang ada disekitar Desa Belantih masih tidak dilakukan pemrosesan lebih lanjut guna meningkatkan mutu limbah sebagai sumber pupuk.
“Limbah ini sebenarnya dapat dimanfaatkan oleh kelompok wanita tani sebagai peluang untuk mensuplai pupuk organik dari limbah kulit kopi padat. Kandungan hara yang dikandung pada limbah kulit kopi bila diberi sentuhan teknologi akan dapat menjadi sumber hara bagi tanaman, ” ucapnya.
Dikatakan persoalan yang dihadapi KWT untuk mendapatkan nilai ekonomi yang lebih tinggi dari limbah kulit kopi yaitu limbah kulit kopi dari hasil pengolahan basah dan HS belum dimanfaatkan dan diolah untuk dijadikan pupuk organik padat, belum dimilikinya peralatan dan bahan untuk melakukan pengolahan, belum dimilikinya rumah tempat proses fermentasi, anggota kelompok belum paham terhadap proses fermentasi limbah kulit kopi dan faktor penunjang lainnya.
Oleh karena itu kelompok mitra perlu difasilitasi dari aspek teknologi pengolahan limbah kulit kopi, uji mutu produk pada laboratorium, pemilahan limbah kopi, manajemen usaha kelompok mitra.
“Tujuan kegiatan PKM ini yaitu adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan mitra dalam budidaya kopi, serta pasca panen KWT dapat memanfaatkan limbah kulit kopi sebagai pupuk organik dalam mensubstitusi penggunaan pupuk anorganik yang ada di wilayah mitra, ” tukasnya.
Dengan demikian limbah kulit kopi padat dapat menjadi alternatif bagi masyarakat disekitar mitra sebagai pupuk organik dalam pemupukan tanaman yang dibudidayakan selain pupuk-pupuk organik dari sapi dan ayam yang telah digunakan selama ini.
“Sentuhan teknologi dalam pengolahan limbah kulit kopi kami harapkan memberi nilai tambah yang tinggi bagi kelompok wanita tani mitra. Dengan pupuk yang telah dikemas akan lebih dikenal, diminati dan dibeli oleh masyarakat diluar wilayah Desa Belantih, ” kata Ngurah Mayun.
Dengan adanya PKM Unwar kelompok mitra telah mampu mengadopsi berbagai perkembangan teknologi yang akan dikembangkan, yang sebelumnya tidak dilakukan. Sehingga saat tersedianya limbah kulit kopi cukup melimpah pada musim panen kopi dapat dimanfaatkan untuk kompos, yang menjadi sumber penghasilan tambahan.
“Dengan semakin dipahami tentang pemanfaatan limbah kulit kopi untuk produk pupuk kompos, pada pertemuan ini kami telah praktekkan bagaimana mengolah limbah tersebut sehingga mempunyai nilai tambah yang cukup tinggi bagi kelompok dan dapat dihasilkan Pupuk Organik Padat (POP) yang dikemas setelah difermentasi 3 minggu, ” ucapnya.
Anggota KWT sangat mengapresiasi pengabdian yang dilakukan PKM Unwar, yang membuat mereka termotivasi melakukan kegiatan lebih aktif dan manajemen organisasi berjalan lebih baik. Selain itu kesadaran anggota kelompok memanfaatkan limbah kulit kopi sebagai sumber kompos juga meningkat.*BWN-03





























