Denpasar, baliwakenews.com
Isu sampah saat ini menjadi persoalan krusial yang harus ditangani bersama, mengingat pemerintah sudah tak sanggup lagi menangani sendiri dan menyerahkan pengentasannya kepada mereka yang menghasilkan sampah. Untuk itu Tim Pemberdayaan Wilayah (PW) Universitas Mahasaraswati (Unmas) Denpasar melaksanakan pemberdayaan kepada masyarakat di Banjar Lipah, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung dalam pengelolaan sampah rumah tangga, beberapa waktu lalu.
Program pengabdian yang diketuai oleh Prof. Dr. Ir I Ketut Arnawa, MP dengan anggota Dr.Eng. Putu Edi Yastika, S.Si., M.Eng., M.Si., Dr. Ir. I Gusti Bagus Udayana, M.Si dan Ir. I Made Budiasa.M.M.Agb., merupakan Hibah Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat . Hibah tersebut merupakan salah satu model Pemberdayaan Berbasis Wilayah (PW), yaitu pemberdayaan yang melibatkan kelompok Masyarakat di Banjar Lipah Kecamatan Petang, Akademisi dari Universitas Mahasaraswati Denpasar dan Universitas Warmadewa serta Pemerintah Kabupaten Badung.
Program Pemberdayaan yang dilakukan oleh Tim PW Unmas yaitu Pengelolaan Sampah berbasis sampah rumah tangga. Kegiatan ini sejalan dengan Surat Edaran Gubernur No.09 Tahun 2025 tentang Gerakan Bali Bersih Sampah, yang mana sampah organik dikelola secara mandiri oleh masyarakat. Adapun kegiatan yang dilakukan oleh Tim PW yaitu memberikan bantuan tempat penampungan sampah (tebe modern) untuk dimanfaatkan menampung sampah organik dan sampah sisa upakara. Bantuan tempat pengelolaan/penampungan sampah diberikan 23 set untuk 23 kepala keluarga (KK) sebagai tebe modern dan 10 set untuk ditempatkan di pure/kayangan sebagai penampungan sampah sisa upakara.
Ketua Tim Prof. Arnawa, memaparkan pengelolaan sampah organik berbasis rumah tangga merupakan salah satu upaya strategis dalam mengurangi timbunan sampah yang terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas masyarakat. Sampah organik, seperti sisa makanan, daun kering, dan limbah dapur, memiliki potensi besar untuk diolah menjadi produk bermanfaat, seperti kompos dan pupuk cair, apabila dikelola dengan baik.
“Sayangnya, sebagian besar sampah rumah tangga masih bercampur dengan sampah anorganik, sehingga menyulitkan proses daur ulang dan menimbulkan masalah lingkungan, seperti pencemaran tanah, air, dan udara akibat pembusukan yang tidak terkendali,” ungkap Prof. Arnawa.
Pengelolaan sampah organik yang tepat tidak hanya mengurangi volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), tetapi juga memberikan manfaat ekonomi dan ekologi bagi masyarakat. Melalui metode sederhana seperti komposting skala rumah tangga, warga dapat memanfaatkan limbah organik menjadi pupuk alami untuk tanaman, sekaligus mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia. “Tapi penerapan pengelolaan sampah organik berbasis rumah tangga memang memerlukan kesadaran, pengetahuan, dan partisipasi aktif masyarakat,” ujarnya.
Tim PW Unmas melakukan edukasi dan pendampingan dalam pembuatan tempat sampah dari bis (tebe modern) dimasing-masing area rumah masyarakat. Harapan dari Tim PW Unmas Denpasar dengan pengelolaan sampah berbasis rumah tangga dapat memberikan dampak positif yang signifikan terhadap kelestarian lingkungan.
Dengan memisahkan dan mengolah sampah organik menjadi kompos atau pupuk cair, volume sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir dapat berkurang secara drastis, sehingga mengurangi pencemaran tanah, air, dan udara. Selain itu, hasil olahan sampah organik dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesuburan tanah dan mengurangi penggunaan pupuk kimia.
“Harapan kami, kebiasaan ini dapat membentuk budaya ramah lingkungan di masyarakat, menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan untuk generasi mendatang,” pungkasnya. BWN-03































