Tedung Jagat hingga Jagat Hita, GKW Badung Tuai Apresiasi di PKB

Iklan Home Page

Denpasar, baliwakenews.com

Gong Kebyar Wanita (GKW) Duta Kabupaten Badung di Pesta Kesenian Bali Ke-47 yang diwakili oleh Sekaa gong Wanita Karang Asti Komala, Desa Adat Ungasan, Kecamatan Kuta Selatan benar-benar digarap secara apik dan professional. Garapan seni yang dipadukan teknologi masa kini membuat penonton di Panggung Arda Candra, Taman Budaya Art Center Bali, Senin (7/7) malam memberikan tepuktangan meriah.

Koordinator Gong Kebyar Wanita Duta Badung, I Made Suada S.Ag, M.Si yang ditemui sebelum pagelarn dimulai mengatakan, dalam lomba gong kebyar wanita kali ini, Badung menampilkan tiga kesenian yakni tabuh telu, tari kreasi Tedung Jagat dan Sandya Gita dengan judul Jagat Hita.

“Tabuh Telu ini menceritakan kritikan sosial tentang Bali dalam situasi yang tidak aman dan nyaman lagi. Bali yang semula dikenal ramah tenang mempesona kini telah penuh, terpenuhi paradoks-paradoks extrim dengan berbagai kedok yang sengaja secara radikal menggerogoti tata pesona nyaman Bali,”paparnya

Baca Juga:  Jaga Kamtibmas Jelang Tahun Politik 2024, Polda Bali Gelar Literasi Digital Media Online dan Medos

Lebih lanjut dikatakan, penampilan kedua adalah tari kreasi Tedung Jagat. Tedung berarti payung atau peneduh, jagat berarti bumi atau dunia, Tedung Jagat adalah sebuah istilah kiasan kata untuk seorang pemimpin yang memiliki kebijaksanaan dan kewajiban memberikan kenyaman kepada rakyatnya.

“Tari ini menceritakan Seorang pemimpin yang dikagumi oleh rakyatnya adalah seorang pemimpin yang tajam akan ilmu pengetahuan, selalu berbakti kepada sang pencipta, tidak pernah lupa dengan jasa para leluhur dan mencintai, menghargai serta menghormati semua makhluk yang hidup di Bumi ini. Tari kreasi ini diciptakan pada ajang Pesta Kesenian Bali yang ke 40 tahun 2018,” tegasnya sembari menambahkan Penata tari kreasi Tedung Jagat ini dilakukan oleh I Made Nova Antara dan Kadek Ayu Era Pinatih, untuk penata Tabuh I Komang Sumastra Jaya. Pembina Tabuh I Wayan Karyana Ngurah Sena dan Penata Gerong yakni Desak Made Suartilaksmi.

Baca Juga:  Ini Syarat Maju Jadi Ketua Umum INKAI Bali

Penampilan pamungkas dari GKW Duta Badung ini menampilkan Sandyagita “Jagat Hita”. Hal ini menyiratkan kesadaran dalam pencapaian moksartam jagadhita, konsepsi holistik dunia sekala niskala. Memperoleh kesejahteraan duniawi dalam siklus kehidupan, merujuk kepada pengejawantahan konsepsi Tri Hita Karana, menjaga kesucian dan sujud syukhur kehadapan Sang Maha Pencipta atas karunia kehidupan menjadi kesadaran hakiki berkeTuhanan.

“Dengan konsep garap paduan suara Bali mengedepankan harmoni dan accord dengan ornamentasi tembang Bali mengajak kita menjaga keharmonisan diantara sesama sebagai wujud saling hormat-menghormati dalam interaksi kemasyarakatan mengedepankan toleransi. Memelihara dan menjaga kelestarian alam semesta dan segala isinya dengan penuh welas asih mewujudkan lingkungan asri lestari. Dari pola pikir, wacana, dan laksana, penuh kesadaran berdasar- ajaran dharma menjadi tujuan hakiki dalam maprawerti untuk mencapai kesejahteraan wujud pencapaian Jagat Kertih,”ujar Suada.

Baca Juga:  Kejurnas PB FORKI 2024, Bali Bawa Pulang 3 Medali Emas

Ada pun Penata vocal atau Syair Sandyagita ini adalah Desak Made Suarti Laksmi, Penata Tabuh I Ketut Gde Rudita, Pembina Tabuh I Komang Sumastra Jaya dan I Wayan Karyana, Penata Gerak Tabuh I Made Nova Antara serta Penyanyi para Bandana Yowana Desa Adat Ungasan Kerjasama dengan Sanggar Seni Citta Usadhi. BWN-05/Kominfo

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -Iklan Galungan Pemkab BadungIklan Galungan PDAM Badung Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR