Mangupura, baliwakenews.com
Wacana penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung mendorong kawasan pariwisata The Nusa Dua mempercepat penguatan sistem pengelolaan sampah mandiri. Kawasan yang dikelola InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) ini menegaskan tidak menunggu krisis terjadi, dengan menyiapkan berbagai skema pengolahan sampah sejak dari sumbernya.
General Manager The Nusa Dua, Made Agus Dwiatmika, mengungkapkan kawasan menghasilkan sekitar 35 ton sampah setiap hari, dengan dominasi sampah organik mencapai 75–80 persen. Kondisi tersebut menjadi dasar pengelola untuk memperkuat pengelolaan internal melalui keterlibatan tenant, fasilitas pengolahan kawasan, hingga kemitraan dengan pihak ketiga.
“Sebagian besar sampah organik sudah diolah langsung oleh tenant menjadi kompos. Untuk residu yang tidak bisa ditangani sendiri, kami bekerja sama dengan layanan TPS3R,” ujar Dwiatmika, Senin (22/12).
Selain pengolahan di tingkat tenant, The Nusa Dua juga mengoperasikan fasilitas pengolahan sampah organik mandiri di area Lagoon dengan kapasitas 3–5 ton per hari. Pupuk hasil pengolahan dimanfaatkan sepenuhnya untuk kebutuhan lanskap kawasan. Sementara itu, sampah plastik ditangani melalui kerja sama dengan institusi pengolah plastik dan TPS3R, sebagai upaya menekan volume sampah yang keluar dari kawasan.
Untuk memperkuat sistem tersebut, ITDC menyiapkan investasi lebih dari Rp10 miliar pada 2026 yang diawali dengan penyusunan Detail Engineering Design (DED) dan pembangunan fisik tahap pertama. Fasilitas baru ini akan dirancang berdasarkan perhitungan volume dan karakteristik sampah, termasuk kemungkinan pengolahan mandiri yang lebih menyeluruh.
Dwiatmika mengakui penutupan TPA Suwung tetap berpotensi berdampak, khususnya terhadap pengelolaan sampah residu rekanan ITDC yang selama ini bermuara ke TPA tersebut. Namun, langkah antisipatif telah dilakukan sejak beberapa bulan terakhir dengan menekan timbulan sampah dari hulu. “Tenant sudah meningkatkan kapasitas pengolahan internal, sehingga volume sampah yang keluar semakin kecil. Kami di kawasan juga melakukan hal yang sama,” jelasnya.
Meski optimistis mampu mengantisipasi dampak penutupan TPA, Dwiatmika mengingatkan persoalan sampah di luar kawasan pariwisata tetap menjadi tantangan bagi citra Bali. Menurutnya, kenyamanan wisatawan tidak hanya ditentukan oleh kondisi di satu kawasan. “Kita tidak bisa hanya memikirkan Nusa Dua. Wisatawan bergerak ke banyak tempat, sehingga persoalan sampah harus ditangani secara menyeluruh,” tegasnya.
Sebagai bagian dari komitmen keberlanjutan, The Nusa Dua juga menyalurkan limbah kayu ke Sekolah Luar Biasa (SLB) untuk diolah menjadi karya seni dan cinderamata. Sementara sampah kiriman ke kawasan bersifat fluktuatif, dengan peningkatan volume biasanya terjadi pada Januari dan Februari, terutama saat kunjungan wisatawan tinggi. BWN-04































