Subway Jimbaran yang Ditunggu, Warga Cemas Jimbaran Jadi “Leher Botol” Kemacetan Baru

Iklan Home Page

Mangupura, baliwakenews.com

Setiap sore, tepat saat matahari mulai tenggelam di pesisir Jimbaran, bukan hanya panorama pantai yang menjadi perhatian warga, kepadatan lalu lintas yang dari Pecatu menuju Ungasan, merayap pelan di simpang Nakula–Sahadewa kini menjadi kegelisahan harian. Terlebih rencana Jalur Lingkar Selatan (JLS) yang akan mengalirkan arus kendaraan dari Pecatu dan Ungasan ke kawasan Simpang Nakula-Sahadewa.

Kondisi itu membuat wacana pembangunan subway bawah tanah dari pesisir Pantai Jimbaran hingga Kelan kembali mengemuka. Tokoh masyarakat Jimbaran, I Made Dharmayasa, menegaskan bahwa proyek ini bukan lagi wacana masa depan, melainkan kebutuhan nyata sebelum Jimbaran menjadi titik kemacetan fatal baru di jalur wisata dan logistic ring Bali Selatan.

Baca Juga:  Jenderal TNI Purn Dr Moeldoko: Gubernur Koster Pelopor Ekonomi Hijau dan Kendaraan Listrik

“Kajian sudah selesai, seharusnya sudah bisa direalisasikan,” ujarnya, Rabu (23/10/2025). Sebagai bagian dari Tim Percepatan Pembangunan Kelurahan Jimbaran, Dharmayasa mengingatkan, bila subway tidak segera dikerjakan setelah JLS rampung, Simpang Nakula–Sahadewa akan menjadi “leher botol” yang jauh lebih parah dibanding saat tekanan arus kendaraan masih berfokus di Pecatu–Ungasan.

Baca Juga:  Universitas Warmadewa Terakreditasi Unggul, Raih 8 Penghargaan LLDikti 8 Award 2024

Saat ini, progres JLS untuk Jimbaran baru memasuki tahap setting out di kawasan Jimbaran Hijau, dengan target pembayaran lahan pada 2026. Artinya, subway seharusnya disiapkan paralel, bukan menunggu kemacetan parah terjadi terlebih dahulu.

Dharmayasa mengungkap bahwa kajian pendahuluan subway, termasuk amdal oleh tim Universitas Udayana, sudah rampung. Yang diduga menjadi faktor penahan kini tinggal satu, dukungan anggaran dari pemerintah pusat untuk menggerakkan megaproyek itu.

“Kalau tidak ada subway, JLS hanya akan menciptakan bottleneck baru di Jimbaran. Jalan mengecil, kemacetan pasti tak terhindarkan.” ucapnya.

Baca Juga:  Jaga Pariwisata Berkelanjutan, Pecatu Canangkan Kawasan Bersih dan Hijau

Sementara itu, di pesisir Pantai Kelan, area yang direncanakan menjadi trase awal subway, aktivitas nelayan dan usaha ikan bakar pesisir tetap berjalan seperti biasa. Namun, bayang-bayang bahwa kawasan ini bisa menjadi simpul tersibuk (atau tersumpek) di Bali Selatan beberapa tahun ke depan, kini tak lagi terbantahkan. BWN-04

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment - Iklan Lapor PajakIklan Nyepi Pemkab BadungIklan Idul Fitri Pemkab BadungIklan Idul Fitri Pemprov. BaliIklan Nyepi Pemprov. BaliIklan BWNIklan Nyepi PDAM BadungIklan Nyepi DPRD Badung Iklan UNWAR