Mangupura, Baliwakenews.com
Bupati Badung, I Wayan Adi Arnwa, menggulirkan gagasan strategis memanfaatkan air hujan sebagai air baku untuk Perumda Air Minum (PDAM) sebagai bagian dari solusi terpadu penanggulangan banjir, khususnya di kawasan Dewi Sri dan sekitarnya.
Wacana tersebut disampaikan di tengah langkah konkret Pemkab Badung dalam memperkuat infrastruktur pengendalian banjir pada tahun pertama masa jabatannya. Saat ini, pemerintah daerah tengah berproses dalam pengadaan dan penataan sungai, termasuk pembebasan lahan di kawasan Central Parkir senilai lebih dari Rp2 miliar untuk memperlebar aliran sungai guna mengurangi potensi luapan air.
Selain itu, Pemkab Badung juga segera menenderkan pengadaan delapan unit pompa air berkapasitas 30.000 liter per detik. Pompa tersebut dirancang untuk mempercepat pembuangan genangan saat curah hujan tinggi. Upaya normalisasi sungai pun diklaim dilakukan secara rutin, disertai imbauan kepada masyarakat agar tidak membuang sampah ke aliran sungai.
Namun, yang menjadi sorotan adalah pemikiran baru Adi Arnwa terkait pengelolaan air hujan. Ia menilai, selama ini air hujan yang berlimpah saat musim penghujan lebih banyak dibuang ke laut, padahal berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber air baku.
“Curah hujan ini harusnya membawa berkah. Saat hujan deras dan berpotensi banjir di satu titik, kenapa tidak kita sedot airnya untuk dimanfaatkan sebagai cadangan air baku?” ujarnya.
Untuk merealisasikan gagasan tersebut, ia telah menginstruksikan PDAM Badung menyiapkan sistem pengolahan air bersifat portable, dilengkapi teknologi membran. Sistem ini dirancang agar dapat ditempatkan di titik-titik rawan genangan. Air hujan yang terkumpul nantinya disedot, diproses, lalu dialirkan ke jaringan pipa terdekat atau ditampung di reservoir sebagai cadangan.
Menurutnya, dengan teknologi membran seperti sistem Membrane Bioreactor (MBR) yang telah diterapkan PDAM Badung, bahkan air limbah pun dapat diolah menjadi air layak konsumsi. Karena itu, ia menilai air hujan yang relatif lebih bersih secara teknis lebih memungkinkan untuk diolah menjadi air minum.
Tahap awal, Adi Arnwa menargetkan pengadaan 20 unit instalasi portable untuk uji coba. Perangkat tersebut diharapkan mampu merespons cepat saat terjadi hujan intens di lokasi tertentu, sehingga selain mengurangi genangan, juga menambah suplai air baku.
Ia mengakui konsep ini masih dalam tahap penjajakan dan uji kelayakan teknis. Namun secara logika kebutuhan, menurutnya, gagasan tersebut masuk akal, mengingat Badung membutuhkan sumber air alternatif di tengah tekanan kebutuhan air bersih yang terus meningkat.
“Selama ini kita memanfaatkan air dari estuary dam dan air olahan. Sekarang kita punya air hujan yang melimpah saat musim hujan. Tinggal dihitung secara teknis dan tarif oleh PDAM,” tegasnya. BWN-05

































