Mangupura, baliwakenews.com
Bencana alam datang tanpa bisa diprediksi. Di balik keindahan Pulau Bali, tersimpan kerentanan terhadap gempa bumi, banjir, dan longsor. Kesadaran inilah yang mendorong DPC PDI Perjuangan Kabupaten Badung menggelar simulasi mitigasi gempa bumi di Lapangan Kelurahan Sading, Sabtu (13/9).
Kegiatan ini bukan sekadar latihan teknis menghadapi gempa, melainkan wujud nyata politik kemanusiaan yang diusung PDI Perjuangan: hadir di tengah rakyat, mendampingi saat masyarakat membutuhkan perlindungan dan rasa aman.
Wakil Ketua Bidang Kebencanaan DPC PDI Perjuangan Badung, Ni Putu Yunita Oktari, menegaskan bahwa keselamatan masyarakat adalah hukum tertinggi. “Penanggulangan bencana tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Semua pihak, termasuk masyarakat, harus mengambil peran. Melalui simulasi ini, kita menekankan pentingnya edukasi, kesiapsiagaan, dan kerja sama lintas sektor. Politik bagi PDI Perjuangan adalah politik kemanusiaan,” ujarnya.
Ketua DPC PDI Perjuangan Badung, I Nyoman Giri Prasta, menyampaikan bahwa kesiapsiagaan harus menjadi budaya bersama. Ia menekankan pentingnya belajar dari pengalaman negara lain, seperti Jepang, yang sudah terbiasa mengantisipasi gempa sejak dini.
“Bencana bisa datang kapan saja, kita tidak boleh panik, tapi harus siap. Bahkan di Jepang, anak-anak sekolah sudah diajarkan cara melindungi diri ketika gempa terjadi. Itulah contoh nyata bahwa mitigasi harus dibudayakan. Lebih baik kita basah-basahan dalam latihan, daripada berdarah-darah dalam kenyataan. Dengan semangat gotong royong, kita ingin masyarakat Badung semakin sadar bahwa keselamatan adalah tanggung jawab bersama,” tegasnya.
Simulasi ini disambut antusias oleh warga Sading. Mereka tidak hanya belajar teknik menyelamatkan diri, tetapi juga merasakan kehadiran partai yang tidak sekadar hadir saat pemilu, melainkan berdiri bersama rakyat dalam situasi darurat. BWN-05

































