Denpasar, Baliwakenews.com
Pemerintah Provinsi Bali terus mempercepat penggunaan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) sebagai bagian dari transisi energi bersih dan penguatan ekonomi hijau. Langkah ini dinilai sejalan dengan visi pembangunan Bali Nangun Sat Kerthi Loka Bali yang menekankan keharmonisan alam dan kesejahteraan masyarakat secara sekala-niskala.
Komitmen tersebut ditegaskan Gubernur Bali, Wayan Koster saat rapat Percepatan Penggunaan Kendaraan Listrik bersama Direktur Retail dan Niaga PT PLN (Persero) Adi Priyanto di Ruang Rapat Kertha Sabha, Jayasabha, Sabtu 24 Januari 2026.
Rapat ini merupakan tindak lanjut pembahasan awal pengembangan ekosistem kendaraan listrik di Bali yang telah dilakukan pada 26 Desember 2025, melibatkan Pemerintah Provinsi Bali, PLN, serta perwakilan Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM).
Koster menegaskan kendaraan listrik menawarkan efisiensi energi yang lebih tinggi, ramah lingkungan, tidak bising, dan bebas emisi gas buang. Menurutnya, kebijakan ini bukan sekadar tren, tetapi bagian dari visi besar pembangunan Bali berkelanjutan.
“Program ini sebenarnya sudah direncanakan sejak lama, namun tertunda akibat pandemi Covid-19. Saat ini ekonomi masyarakat sudah membaik, sehingga kebijakan kendaraan listrik bisa kembali digerakkan sebagai bagian dari visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali,” ujar Koster.
Ia menargetkan Bali menjadi pionir pengembangan industri dan penggunaan kendaraan listrik di Indonesia. Upaya tersebut akan dimulai dari penerapan zonasi kendaraan listrik di kawasan pariwisata seperti Ubud, Sanur, Kuta, Nusa Dua, hingga Nusa Penida yang direncanakan sebagai green island.
“Infrastruktur harus siap. SPKLU harus memadai, kampanye harus masif, dan masyarakat harus dilibatkan. Kita juga perlu event bersama sebagai ajang promosi kendaraan listrik di Bali,” jelasnya.
Koster juga menekankan manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat. Kendaraan listrik dinilai lebih hemat karena tidak memerlukan bahan bakar fosil, pergantian oli, serta biaya perawatan yang relatif lebih rendah.
Sementara itu, Direktur Retail dan Niaga PT PLN (Persero) Adi Priyanto menyatakan PLN siap mendukung penuh percepatan ekosistem kendaraan listrik di Bali. PLN memastikan pasokan listrik yang andal serta penguatan infrastruktur pengisian daya yang telah masuk dalam RUPTL dan RJPP PLN.
“PLN terus meningkatkan infrastruktur charging melalui inovasi berkelanjutan. Semua terintegrasi dalam aplikasi PLN Mobile, mulai dari pencarian SPKLU, pemesanan antrean, hingga layanan hotline 24 jam,” ungkapnya.
Adi juga menyebutkan pertumbuhan kendaraan listrik nasional mencapai rata-rata 2,5 kali lipat per tahun dalam tiga tahun terakhir, dengan total mencapai sekitar 175 ribu unit hingga 2025. Pertumbuhan ini didorong oleh insentif pemerintah serta semakin kompetitifnya harga dan pilihan kendaraan listrik.
Di Bali, konsumsi energi kendaraan listrik masih didominasi pengisian di rumah (home charging) sebesar 55 persen atau 2,24 GWh, sementara SPKLU menyumbang 45 persen atau 1,82 GWh. Menurutnya, keseimbangan pengembangan keduanya menjadi kunci keberlanjutan ekosistem EV, khususnya untuk mendukung sektor pariwisata dan mobilitas tinggi di Bali.
“PLN siap berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Bali untuk menjadikan Bali sebagai pusat pengembangan kendaraan listrik nasional,” pungkasnya. BWN-03





























