Baliwakenews.com-Pada dini hari yang seharusnya tenang di kawasan wisata Munggu, Badung, Bali, suara debur ombak dan desir angin laut tiba-tiba tergantikan oleh letusan senjata api. Sebuah vila privat yang biasanya menjadi tempat para turis melepas penat berubah menjadi lokasi pembunuhan. Di antara tembok putih CS Villa, dua turis Australia menjadi sasaran penembakan. Satu tewas. Satu lainnya tergeletak kritis.
Bukan perampokan. Tak ada barang hilang. Para pelaku datang cepat, menghabisi target, lalu menghilang. Yang tertinggal hanyalah selongsong peluru, kaca pecah, dan satu petunjuk aneh: mereka bicara dalam bahasa Inggris, dengan aksen Australia.
Zivan R (33) ditemukan tewas bersimbah darah di kamar mandi. Temannya, Sanar G (35), kini dirawat intensif di RS BIMC Kuta. Mereka datang bersama istri masing-masing dan menempati kamar terpisah di vila tersebut. Namun liburan itu berakhir dengan teriakan, peluru, dan kehilangan.
GJ, istri Zivan, mengisahkan bagaimana malam itu berubah menjadi tragedi. Suaminya sempat berteriak dari dalam kamar mandi. Saat ia membuka mata dari balik selimut, seorang pria asing telah berdiri di kamar mereka berjaket oranye mencolok, helm hitam menutupi wajah, dan tangan menggenggam pistol. Beberapa detik kemudian, suara tembakan meledak di ruang sempit.
“Aku hanya bisa melihat dia mengarahkan senjata ke arah kamar mandi. Lalu tembakan. Aku tak tahu berapa kali,” kata GJ lirih dalam pemeriksaan penyidik.
GJ segera berlari keluar kamar, hanya untuk mendapati Sanar bersimbah darah di vila sebelah. DN, istri Sanar, juga mengalami malam penuh horor. Ia mendengar ledakan kaca dari jendela, dan sesosok pria dengan jaket hijau masuk menerobos ke dalam kamar. Ia tak sempat melihat wajah pelaku hanya ingat warna masker gelap, dan sepeda motor matic kecil yang terparkir di luar.
Mereka berdua, dua perempuan yang kehilangan rasa aman di pulau yang menjanjikan ketenangan lari dari vila dan meminta pertolongan. Tapi malam sudah telanjur diwarnai peluru.
Petugas dari Polres Badung dan tim Inafis Polda Bali bergerak cepat. Lokasi segera dipasangi garis polisi. Di kamar Zivan, ditemukan 17 selongsong peluru, dua proyektil utuh, dan puluhan pecahan lainnya. Tubuhnya mengalami luka tembak di kaki kanan, dua di dada kiri, serta luka robek di wajah dan bahu.
Namun, satu detail yang menarik perhatian penyidik adalah kesaksian soal logat pelaku.
“Dia bilang ‘I can’t start my bike!’ dengan aksen Australia yang jelas,” kata Gede Putu ABW (27), penjaga vila yang malam itu mendengar suara aneh dari halaman. Ia mengintip lewat celah pintu dan melihat salah satu pelaku berjaket hijau, mirip jaket ojek online, sedang panik karena motornya tak menyala. Bersamanya, satu pria lain menunggu sambil berbicara cepat dalam bahasa Inggris.
Gede Putu dan rekannya, Galang (35), mengurung diri sambil mencatat apa yang bisa mereka lihat dan dengar. Setelah para pelaku berhasil menyalakan motor dan melarikan diri ke arah barat, mereka keluar dan melihat pintu vila rusak, darah tercecer, dan dua keluarga yang hancur secara emosional.
Hingga kini, polisi belum merilis motif pasti. Tidak ada barang berharga yang hilang, dan dugaan perampokan tampak tak cukup kuat. Adakah motif pribadi? Ataukah ini bagian dari konflik yang dibawa lintas negara? Pelaku, jika benar WNA seperti yang dicurigai, berhasil lolos dengan identitas tersembunyi di balik helm dan masker.
“Penanganan ada di Polres Badung. Kami masih menunggu perkembangan penyelidikan,” ujar Kabid Humas Polda Bali, Kombespol Ariasandy, sehari setelah kejadian.
Polisi kini memburu dua pria misterius yang sempat berbicara dalam bahasa Inggris. Rekaman CCTV di sekitar vila tengah dikumpulkan, dan tim forensik sedang menganalisis proyektil serta jejak peluru. Bahkan sepeda motor yang mereka gunakan, kemungkinan motor sewaan atau milik warga lokal, sedang ditelusuri keberadaannya.
Insiden ini mengingatkan publik bahwa bahkan tempat seindah Bali pun tak luput dari bayang-bayang kekerasan. Kawasan wisata yang biasanya hanya dipenuhi turis dan tawa, kini menjadi latar kekerasan bersenjata yang belum sepenuhnya terjawab.
Vila-vila mewah, langit tropis, dan suara debur ombak tak mampu menyembunyikan ketakutan yang tersisa. GJ dan DN—dua perempuan yang semula berharap pada matahari pagi dan pantai putih, harus menatap hari dengan mata penuh trauma. Zivan sudah tak bernyawa. Sanar masih bertarung hidup di ruang ICU. BWN-01





























