Denpasar, Baliwakenews.com
Komitmen pelestarian warisan budaya Bali mendapat dorongan kuat setelah peneliti asal Australia, David J. Stuart-Fox, menghibahkan 30 naskah lontar koleksi pribadinya kepada Unit Lontar Universitas Udayana (ULU).
Serah terima berlangsung di Perpustakaan Lontar ULU, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana pada Senin (23/2/2026).
David J Stuart-Fox merupakan pustakawan, peneliti, dan penulis terkemuka asal Australia yang berfokus pada budaya Bali. Pustakawan di Museum Volkenkunde (Museum Etnologi Nasional) di Leiden, Belanda dari 1991 hingga 2013 telah menerbitkan sejumlah buku penting tentang kebudayaan Bali, salah satunya buku berjudul “Pura Besakih: Temple, Religion and Society in Bali” (2002) yang diterbitkan dalambahasa Indonesia menjadi “Besakih: Pura, Agama, dan Masyarakat Bali” (2013). Buku ini menjadi rujukan fundamental yang merekam Pura Besakih sebagai situs Hindu terpenting di Bali.
Dikumpulkan Sejak 1970-an, Kini Dikembalikan
Stuart-Fox mengungkapkan, lontar-lontar tersebut dikumpulkan saat dirinya meneliti di Bali pada periode 1970-an hingga 1980-an. Sebagian besar diperoleh dari artshop di berbagai daerah di Bali.
Namun di balik itu, ada kegelisahan besar yang mendorongnya mengoleksi lontar—yakni kekhawatiran warisan budaya Bali hilang karena dibeli wisatawan asing dan tidak pernah kembali.
“Saya membeli lontar untuk menjaganya. Banyak yang keluar dari Bali dan tidak kembali. Sekarang saatnya saya kembalikan,” ujarnya.
Dari Koleksi Pribadi Jadi Aset Ilmiah
Lontar yang dihibahkan terdiri dari berbagai genre dan sebagian bahkan dibuat secara khusus. Kini, koleksi tersebut resmi menjadi bagian dari khazanah akademik Udayana dan akan dimanfaatkan untuk penelitian serta pengembangan ilmu pengetahuan.
Rektor Unud, I Ketut Sudarsana, menyampaikan apresiasi atas hibah tersebut. Ia menilai langkah ini sebagai bentuk nyata kolaborasi lintas negara dalam menjaga warisan intelektual dan spiritual Bali.
“Ini bukan hanya tentang menyimpan, tetapi membuka dan membagikan pengetahuan yang terkandung di dalam lontar,” tegasnya.
Tak Sekadar Disimpan, Harus Diungkap
Senada dengan itu, Dekan FIB Unud, I Nyoman Aryawibawa, menekankan pentingnya pengolahan isi lontar melalui kajian, transliterasi, dan diseminasi.
Menurutnya, keberadaan lontar tidak boleh berhenti sebagai artefak fisik semata, tetapi harus menjadi sumber pengetahuan yang hidup dan relevan bagi masyarakat.
“Hibah ini menunjukkan kepercayaan besar kepada institusi kami untuk merawat sekaligus mengembangkan warisan budaya tersebut,” ujarnya.
Simbol Kepercayaan dan Pelestarian Budaya
Hibah ini menjadi simbol penting bahwa pelestarian budaya Bali tidak hanya menjadi tanggung jawab lokal, tetapi juga mendapat perhatian komunitas internasional.
Dengan pengelolaan yang profesional, lontar-lontar tersebut diharapkan tidak hanya terjaga, tetapi juga terus memberi kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan pelestarian nilai-nilai budaya Bali lintas generasi. BWN-03

































