Kuta, baliwakenews.com
Malam baru saja turun, lampu-lampu kafe dan hotel di Kuta berkilauan, sementara denting musik dari bar di pinggir jalan bersaing dengan debur ombak yang tak pernah lelah. Di antara riuhnya wisata malam, puluhan pasang mata menatap ke arah berbeda, beberapa penuh harap, sebagian pasrah saat petugas berseragam khaki mulai menyusuri trotoar.
Rabu (6/8/2025) malam hingga Kamis dini hari, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Badung melakukan operasi penertiban gepeng, pengamen, dan orang terlantar. Operasi itu berlangsung hingga lewat tengah malam, dimulai dari Pantai Kuta, Legian, dan Seminyak, lalu merambat ke Sunset Road, Patih Jelantik, Dewi Sri, hingga Petitenget, Kayu Aya, Tibubeneng, dan Pantai Canggu.
Hasilnya, 27 orang terjaring. Mayoritas 22 orang adalah gepeng. Ada pula tiga anak punk, satu pengamen, dan satu orang terlantar. Beberapa di antaranya mengaku baru tiba di Bali, tapi tak sedikit yang merupakan “wajah lama” yang sudah akrab di mata petugas.
“Mereka datang dari berbagai daerah. Untuk gepeng, hampir semua dari Pedahan, Karangasem. Anak punk dan pengamen ada dari Lombok dan Kudus, sedangkan satu orang terlantar berasal dari Kalimantan,” ujar Kepala Satpol PP Badung, IGAK Suryanegara Jumat (8/8/2025).
Meski operasi seperti ini rutin dilakukan, cerita yang mengiringinya jarang berubah. Banyak yang kembali turun ke jalan setelah dipulangkan, terdesak kebutuhan ekonomi atau tergiur peluang belas kasihan wisatawan. Beberapa bahkan menganggap momen liburan di Bali sebagai “musim panen” untuk mendapatkan uang dari turis yang dermawan.
Malam itu, setelah diangkut mobil patroli, mereka dibawa ke Dinas Sosial. Di sana, proses pembinaan dan pemulangan menanti. Namun di luar ruang itu, denyut malam Kuta tetap berjalan, musik tetap mengalun, gelas-gelas tetap berdenting, dan di lorong-lorong gelap, mungkin cerita baru para pendatang jalanan sudah mulai ditulis. BWN-04


































