Nusa Dua, baliwakenews.com
Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) ke-7, yang dilaksanakan di BNDCC, Nusa Dua, Badung, merupakan wake-up call untuk meningkatkan tindakan pencegahan dan menghentikan spiral peningkatan dampak dan risiko bencana.
Mami Mizutori, Special Representative of the Secretary-General for Disaster Risk Reduction, UNDRR dalam konfrensi pers usai penutupan GPDRR ke-7, Jumat 27 Mei 2022 mengatakan Forum PBB ini menyimpulkan, lebih banyak negara harus Think Resilience (berpikir ketahanan) dan segera mengadopsi dan meningkatkan sistem peringatan dini untuk mengurangi risiko dari meningkatnya jumlah bencana di seluruh dunia.
Sekitar 184 negara berkumpul di Bali untuk meninjau upaya melindungi masyarakat dari meningkatnya jumlah bahaya iklim dan bencana lainnya di seluruh dunia. Namun hanya 95 negara yang dilaporkan memiliki sistem peringatan dini multi-bahaya yang memberikan pemberitahuan kepada pemerintah, lembaga, dan masyarakat umum tentang bencana yang akan datang, dengan cakupan yang sangat rendah di Afrika, Negara Tertinggal, dan Negara Berkembang Pulau Kecil.
Padahal sistem peringatan dini merupakan pertahanan penting terhadap bencana seperti banjir, kekeringan, dan letusan gunung berapi dalam Laporan Penilaian Global baru-baru ini, yang memperkirakan 560 – atau 1,5 bencana per hari – pada tahun 2030 berdasarkan lintasan saat ini. Itu terjadi setelah António Guterres, Sekjen PBB, menyerukan sistem peringatan untuk mencakup setiap orang di planet ini dalam waktu lima tahun.
Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) ke-7, menghasilkan Bali Agenda for Resilience (Agenda Bali untuk Ketahanan) yang intinya mengenai sistem peringatan dini harus mencakup komunitas yang paling berisiko dengan kapasitas kelembagaan, keuangan, dan manusia yang memadai untuk bertindak atas peringatan dini.
“Rekomendasi inti adalah untuk menerapkan pendekatan Think Resilience untuk semua investasi dan pengambilan keputusan, mengintegrasikan pengurangan risiko bencana dengan seluruh pemerintah dan seluruh masyarakat, ” kata Mami Mizutori.
Agenda Bali untuk Ketahanan, muncul menjelang Hari Internasional Pengurangan Risiko Bencana 2022 pada 13 Oktober yang didedikasikan untuk sistem peringatan dini, dan dipresentasikan pada akhir Platform Global yang diselenggarakan oleh Pemerintah Indonesia.
Pertemuan yang merupakan forum internasional pertama kebencanaan PBB sejak dimulainya pandemi Covid-19 ini juga berlangsung seiring dengan berlangsungnya Midterm Review of Sendai Framework for Disaster Risk Reduction.
Mengingat pandemi, Agenda Bali menyoroti perlunya menilai kembali cara risiko diatur dan kebijakan dirancang serta jenis pengaturan kelembagaan yang perlu diterapkan di tingkat global, regional, dan nasional.
“Pendekatan saat ini untuk pemulihan dan rekonstruksi tidak cukup efektif dalam melindungi hasil pembangunan maupun dalam membangun kembali dengan lebih baik, lebih hijau dan lebih adil,” tandasnya.
Letnan Jenderal Suharyanto, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Republik Indonesia, mengatakan Platform Global memiliki lebih dari 4000 peserta dari total 185 negara. Menunjukkan kemajuan menuju kesetaraan gender dan aksesibilitas terlihat jelas di seluruh platform. Setengah dari panelis dan 40 persen peserta adalah perempuan. Lebih dari 200 penyandang disabilitas aktif terlibat dalam panel dan diskusi, dua kali lipat jumlahnya dibandingkan Platform Global 2019.
Para delegasi juga berbagi kemajuan sejak Platform Global terakhir pada tahun 2019, dengan peningkatan 33 persen jumlah negara yang sekarang mengembangkan strategi pengurangan risiko bencana dan pelaporan melalui Sendai Framework Monitor, yang mengukur kemajuan menuju target global.
“Meskipun ada beberapa kemajuan, seperti dalam pengembangan mekanisme pembiayaan baru, dan hubungan yang lebih baik dengan aksi iklim, data tersebut masih menunjukkan kurangnya investasi dan kemajuan dalam pengurangan risiko bencana di sebagian besar negara, terutama dalam berinvestasi dalam pencegahan,” kata Suharyanto.
Kurang dari setengah negara yang melaporkan target Kerangka Kerja Sendai menunjukkan memiliki informasi risiko bencana yang sesuai untuk tujuan, dapat diakses, dan dapat ditindaklanjuti. Agenda Bali untuk Ketahanan akan dibawa ke COP27, G20 dan Tinjauan Tengah Waktu Kerangka Sendai.*BWN-03





























