baliwakenews.com – Tradisi ngaben yang telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan umat Hindu di Bali kini mengalami pergeseran. Seiring perkembangan zaman, praktik kremasi modern semakin banyak digunakan sebagai alternatif dari prosesi ngaben tradisional. Faktor ekonomi, efisiensi waktu, serta kesadaran lingkungan menjadi pendorong utama perubahan ini.
Secara tradisional, ngaben merupakan upacara pembakaran jenazah yang sarat dengan ritual adat, simbolisme, serta biaya yang tidak sedikit. Prosesi ini melibatkan pembuatan bade (menara jenazah), perlengkapan upacara, serta berbagai sesajen yang harus dipenuhi oleh keluarga yang ditinggalkan. Namun, dengan semakin kompleksnya kehidupan modern, banyak keluarga memilih jalur yang lebih sederhana: kremasi di krematorium.
“Ngaben tradisional masih dilakukan, tetapi sekarang banyak keluarga yang memilih kremasi di krematorium karena lebih praktis dan tetap sesuai ajaran Hindu,” ujar I Ketut Sudarma, seorang tokoh adat di Denpasar.
Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan pergeseran ini:
- Biaya yang Lebih Terjangkau
Ngaben tradisional bisa menghabiskan puluhan hingga ratusan juta rupiah, tergantung pada skala upacara. Sementara itu, kremasi di krematorium memiliki biaya yang jauh lebih rendah dan tidak memerlukan banyak persiapan. - Efisiensi Waktu
Dalam ngaben tradisional, persiapan bisa memakan waktu berbulan-bulan, terutama jika keluarga memilih untuk menunggu upacara massal. Dengan kremasi modern, proses bisa dilakukan dalam hitungan hari tanpa mengurangi makna spiritualnya. Kesadaran Lingkungan
Pembakaran jenazah dengan kayu bakar dalam ngaben tradisional membutuhkan banyak sumber daya alam. Kremasi dengan teknologi modern dianggap lebih ramah lingkungan karena menggunakan sistem pembakaran yang lebih efisien.Dukungan dari Lembaga Keagamaan dan Adat
Beberapa desa adat dan lembaga keagamaan kini mulai memberikan keleluasaan bagi umat Hindu untuk memilih metode kremasi. Selama prosesi dilakukan dengan doa dan ritual yang sesuai, kremasi tetap dianggap sah dalam ajaran Hindu.
Dengan meningkatnya minat terhadap kremasi modern, fasilitas krematorium di Bali semakin berkembang. Beberapa krematorium yang terkenal, seperti Krematorium Santha Bhuana di Gianyar dan Krematorium Catur Eka Budhi di Denpasar, kini melayani lebih banyak umat Hindu yang memilih cara ini untuk menghormati leluhur mereka.
“Kami memastikan bahwa setiap proses tetap sesuai dengan ritual Hindu, dari pembakaran hingga prosesi pengantaran abu ke laut atau tempat suci lainnya,” ujar seorang pengelola krematorium di Badung. BWN-01





























