Kolaborasi Akademisi Unwar dan Undhira, Laksanakan Pengabdian Pemberdayaan Masyarakat Usaha Produk Unggulan Daerah 2025

Iklan Home Page

Pekutatan, baliwakenews.com

Meningkatkan penghasilan dan mengembangkan kewirausahaan pada Kelompok Tani Mekar Nadi dan Kelompok Tani Tunas Jaya, di Dusun Segah, Desa Asah Duren, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana, kolaborasi akademisi Universitas Warmadewa ( Unwar) Denpasar dan Universitas Dhyana Pura (Undhira) Kabupaten Badung, melaksanakan pengabdian di desa setempat, beberapa waktu lalu.

Pengabdian Pemberdayaan Mayarakat Usaha Produk Unggulan Daerah ini dilakukan di Dusun Segah, Desa Asahduren, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali pada Tahun 2025, merupakan kegiatan yang didanai oleh Kemendiktisaintek. Pengabdian diketui oleh Dr. Ni Made Ayu Suardani Singapurwa, S.TP., M.Si, dengan tim Ir. Luh Suariani, M.Si., Ir. Ketut Agung Sudewa, M.Si dari Universitas Warmadewa, Denpasar, dan Dr. Ni Wayan Nursini, S.TP., M.Si dari Universitas Dhyana Pura Kabupaten Badung, Propinsi Bali.

Ayu Suardani Singapurwa memaparkan Kelompok Tani Mekar Nadi beranggotakan 21 orang dengan ketua kelompok bernama I Made Sukadana, dan Kelompok Tani Tunas Jaya beranggotakan 23 orang dengan dipimpin oleh ketua kelompok yang bernama I Wayan Sudiana.

Lokasinya yang berdampingan dengan hutan Negara membuat kelompok ini jauh dari keramaian dan masih agak tertinggal dalam berbagai hal keterampilan. “Karena lokasinya yang jauh dan berdampingan dengan hutan Negara membuat kelompok ini masih sangat membutuhkan dukungan agar dapat mengelola perkebunan kakao dan pasca panennya, sehingga memerlukan pendampingan agar kelompok mempunyai kegiatan penunjang yang dapat membantu meningkatkan penghasilan,” ungkap Ayu Suardani Singapurwa.

Baca Juga:  IPF Badung Geber Mangupura Cup I, Diikuti Ratusan Peserta

Kemampuan tersebut akan banyak digunakan atau dipraktekkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, selain juga ada keinginan untuk memiliki kemampuan memiliki usaha sendiri (wirausaha, red).

Permasalahan penerapan teknologi pascapanen pada petani kecil antara lain 1). Terbatasnya pengetahuan petani tentang teknologi pengelolaan kakao; 2). Terbatasnya aksesibilitas petani terhadap teknologi pengolahan kakao; 3). Kurangnya minat petani untuk menerapkan teknologi pada tanaman kakao; 4). Lemahnya posisi tawar petani terhadap pembeli, sehingga cenderung menjual kakao tidak diolah.

“Berdasarkan permasalahan tersebut, proses penerapan dan pemanfaatan teknologi pascapanen menjadi sangat penting agar diadopsi dan dikembangkan petani. Untuk keberlanjutannya, peran kelembagaan yang mengarah pada pengembangan agroindustri perdesaan serta proses pemberdayaan dan pendampingan,” ujarnya.

Dipaparkan agroindustri dapat memperluas kesempatan kerja diperdesaan, tidak hanya pada usaha tani, tetapi juga di luar usaha tani termasuk dalam penanganan pascapanen, pengemasan, pengolahan, transportasi, dan pemasaran.

Komersialisasi hasil pertanian juga menjadi kendala yang dihadapi masyarakat dalam meningkatkan penghasilan untuk kesejahteraan. Selain kondisi produk komoditas pertanian yang belum memenuhi standar, sementara pasar menghendaki produk standar agar bisa bersaing.

Terkait tantangan yang dihadapi berkenaan dengan daya saing produk, Tim Pengbdian antara lain melakukan upaya pendampingan dalam proses manajemen pemasaran yang masih lemah. Peran pendampingan dari akademisi yang menguasai bidangnya menjadi kebutuhan utama disamping kebijakan pemerintah yang kondusif.

Baca Juga:  Dosen dan Mahasiswa Prodi PIK Undhira Melakukan PKM Rekam Medis Elektronik di Praktik Mandiri Perawat

Selian itu teknologi sistem budi daya mendorong peningkatan produksi pertanian, sementara teknologi pascapanen dapat mendorong peningkatan produksi juga meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan petani. “Namun, kendala di lapangan terindikasi bahwa teknologi pascapanen masih kurang dimanfaatkan petani khususnya petani kecil,” tukasnya.

Kondisi tersebut diakibatkan luas pemilikan lahan semakin kecil, dan petani kecil hanya mampu menggunakan teknologi yang relatif sederhana dan murah, bahkan umumnya cenderung menggunakan teknologi yang bersifat tradisional dan manual.

“Sebenarnya berbagai inovasi teknologi pertanian termasuk teknologi pascapanen telah dihasilkan dan didiseminasikan kepada para petani, terutama bagi petani yang sudah bergabung dalam kelompok-kelompok petani, untuk mempermudah koordinasi penyampaian teknologi dan inovasi untuk peningkatan hasil pertanian,” ungkapnya.

Teknologi pertanian yang dihasilkan dinilai terlalu mahal bagi petani kecil dan mereka tidak mampu untuk menerapkannya sehingga perlu dilakukan oleh kelompok petani, untuk mampu menerapkannya.

Prioritas yang ditangani dari permasalahan mitra adalah memberikan pengetahuan Teknologi Tepat Guna dalam pengelolaan budidaya, pasca panen, penangananan produk (GHP), penanganan yang baik (GMP) kakao, serta memberikan bantuan peralatan budidaya, pasca panen dan pengolahan kakao yang didatangkan langsung dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia di Kota Jember Jawa Timur.

Baca Juga:  Tatap PON 2024, Korfball Rutin Latihan di Pantai Jerman

Dipaparkan tantangan pemanfaatan teknologi pertanian pascapanen ke depan adalah pemanfaatan teknologi yang mampu menekan tingkat kehilangan hasil dan meningkatkan mutu produk kakao, penekanan tingkat kehilangan dilakukan dengan penggunaan metode dan peralatan/mesin pascapanen yang tepat guna. Peningkatan mutu produk dilakukan dengan memperhatikan waktu panen yang tepat dan tingkat kematangannya, pengeringan, penyortiran, dan pengepakan yang baik, sehingga diharapkan mampu meningkatkan harga jual dan daya saing komoditas pertanian.

Dengan sistem budidaya yang baik, bibit kakao MCC 02 bantuan dari Kenmenristek Dikti pada tahun 2023 sudah mulai berbuah pada umur tanam 1 tahun 8 bulan, dengan biji buah lebih besar dari pada biji tanaman kakao yang sudah ada, sehingga regenerasi tanaman kakao akan dapat meningkatkan pendapatan kelompok.

Sementara biji Kakao yang diolah dengan proses fermentasi, mampu meningkatkan nilai jual menjadi Rp110.000 per kg, dibandingkan dengan biji Kakao tanpa fermentasi yang hanya dihargai Rp80.000 per kg.

“Pada kegiatan PM – UPUD ini kami memberikan bantuan peralatan yang kami harapakan akan dapat digunakan untuk memproduksi bubuk kakao yang siap untuk dipasarkan di sekitar Bali,” pungkasnya. BWN-03

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment - Iklan Lapor PajakIklan Nyepi Pemkab BadungIklan Idul Fitri Pemkab BadungIklan Idul Fitri Pemprov. BaliIklan Nyepi Pemprov. BaliIklan BWNIklan Nyepi PDAM BadungIklan Nyepi DPRD Badung Iklan UNWAR