Mangupura, Baliwakenews.com
Peringatan HUT ke-22 Baladika Bali tak sekadar seremoni. Di hadapan ratusan anggota dan undangan, Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta melontarkan pesan tegas: organisasi kemasyarakatan (ormas) harus berhenti pada wacana dan mulai membuktikan diri lewat aksi nyata.
Peringatan yang digelar di Pusat Latihan PSPS Bakti Negara, Sading, Mengwi, Selasa (5/5/2026), menjadi panggung konsolidasi sekaligus refleksi peran ormas di tengah dinamika sosial Bali yang semakin kompleks.
“Yang dikenang masyarakat bukan apa yang kita ucapkan, tetapi apa yang kita lakukan,” tegas Giri Prasta, menyoroti pentingnya kontribusi riil dibanding sekadar retorika.
Ia juga mengingatkan bahwa soliditas adalah kunci utama kekuatan organisasi. Tanpa persatuan, menurutnya, setengah perjuangan sudah hilang sebelum dimulai. Sebaliknya, kekompakan justru membuka peluang besar untuk mencapai tujuan.
Pesan keras tersebut selaras dengan semangat yang dibangun dalam HUT ke-22 Baladika Bali. Ketua Panitia, Komang Merta Jiwa, menegaskan bahwa peringatan ini menjadi momentum menata langkah organisasi ke depan, bukan sekadar perayaan tahunan.
“Ini ruang refleksi untuk memperkuat jati diri, kepemimpinan, dan tanggung jawab sosial,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Ketua Umum DPD Baladika Bali, I Bagus Alit Sucipta, yang menyebut usia 22 tahun sebagai fase kematangan organisasi. Ia menekankan pentingnya memastikan kehadiran organisasi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Tak berhenti pada wacana, Baladika Bali langsung menunjukkan aksi konkret. Bantuan disalurkan kepada penyandang disabilitas, disertai dukungan lingkungan berupa 35 tong komposter dan 2.000 kantong komposter untuk warga Sading.
Di sektor kemanusiaan, kolaborasi dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Bali menghasilkan 345 kantong darah angka yang tergolong besar untuk kegiatan donor di tingkat lokal.
Ketua Umum DPP Aliansi Bali Angunggah Shanti, AA Ketut Suma Widana, bahkan menegaskan bahwa stigma negatif terhadap ormas hanya bisa dipatahkan lewat kerja nyata yang konsisten. “Jawab stigma dengan aksi, bukan narasi,” tegasnya.
Sementara itu, Dewan Pembina Baladika Bali, I Nyoman Gde Sudiantara, mengingatkan pentingnya menjaga nilai dasar organisasi yang dibangun dari semangat kebersamaan sejak awal berdiri.
Momentum HUT ini pun menjadi penegasan arah baru: Baladika Bali ingin tampil sebagai kekuatan sosial yang aktif, solutif, dan relevan di tengah masyarakat.
Dengan kombinasi refleksi, aksi sosial, dan pesan tegas dari pimpinan daerah, peringatan ini mengirim sinyal kuat era ormas hanya “nampang” sudah lewat. Kini, publik menuntut bukti. BWN-03


































