Kuta, baliwakenews.com
Desa Adat Kuta kembali melakukan penyerahan bantuan sembako ke krama untuk tahap kedua, Rabu (10/6). Menurut Bendesa Adat Kuta, Wayan Wasista pembagian sembako tahap kedua ini dengan jumlah krama yang disasar adalah sebanyak 2269 KK dari 13 banjar se-Desa Adat Kuta. “Ini adalah pemberian sembako tahap kedua. Dan kalau memang situasi ini masih berkepanjangan, tidak tertutup kemungkinan kami akan menyelenggarakan yang ketiga kalinya,” ungkapnya.
Dia juga menjelaskan dalam pembagian bahan pokok kali ini yang diserahkan berupa 25 kg beras dan uang tunai untuk membeli lauk pauk senilai Rp 150 ribu. Wasista juga memaparkan, Kuta yang merupakan wilayah tujuan wisata internasional, sangat merasakan dampak dari pandemi ini. Karena itulah kehadiran desa adat untuk membantu meringankan beban krama menjadi hal yang sangat dibutuhkan. Kepedulian antar warga semacam itu dinilai sangat dibutuhkan di masa pandemi seperti sekarang ini. “Mari kita bersatu meringankan beban satu sama lain,” ajaknya.
Karenanya dia menyampaikan terimakasih kepada salah seorang Tokoh Kuta, IGN Anom Gumanti yang telah menyerahkan bantuan sebesar Rp 80 Juta ke Desa Adat Kuta. Sesuai beberapa pertimbangan dana tersebut dibagi secara merata ke masing-masing banjar untuk diteruskan ke krama. Dalam pembagian sembako tahap kedua ini memang murni kerjasama antara desa adat dan LPD. Kebetulan ada tokoh masyarakat dari dapil Kuta dan warga asli Kuta, IGN Anom Gumanti terketuk membangun desa ditujukan ke seluruh banjar. “Ini murni untuk membantu seluruh krama sebesar rp 80 juta. Dan dengan berbagai pertimbangan bantuan ini diserahkan ke masing masing banjar dibagi rata,” paparnya sembari menambahkan dengan pambagian merata ini tanpa terkecuali masing-masing banjar menerima bantuan sekitar Rp 6 juta lebih.
Langkah yang dilakukan Anom Gumanti diharapkan nantinya bisa diikuti oleh tokoh dan masyarakat lain yang ekonominya mampu. “Kami desa adat sangat mengharapkan dan membuka diri bagi siapapun yang ingin membantu, agar kas desa tidak habis dan juga bisa digunakan untuk keperluan lainnya,” paparnya. Karena untuk menyambut new normal juga ada pembiayaan pembiayan yang harus dilakukan. Seperti pengadaan alat pengukur suhu, tempat cuci tangan, hand sanitizer dan lainnya. “Kalau bisa bersma-sama kan sangat baik, ayo bersama demi kepentingan desa adat. Kalau ada keiklasan kami senantisa membuka tangan,” imbuhnya.
Terkait persiapan menyambut new normal di Pantai Kuta, Wasista mengatakan kalau pihaknya sampai saat masih sedang merancangnya, mengacu arahan dari Pemerintah Kabupaten Badung. Adapun beberapa hal yang mungkin akan dilakukan saat awal pembukaan nanti yakni, pembatasan jumlah pintu keluar/masuk, pembatasan terhadap jumlah pedagang yang beroperasi di setiap harinya, serta pengaturan jarak antar wisatawan yang berjemur. “Kami juga menyediakan tempat cuci tangan dan penempatan petugas pengecek suhu di setiap pintu masuk,” pungkasnya.BW-04


































