Singaraja, Baliwakenews.com
Di sudut Titik Nol Kota Singaraja, arah tak lagi sekadar penunjuk jalan. Ia kini menjadi simbol perubahan. Di bawah langit pesisir utara Bali, papan nama jalan berdiri dengan warna dan tekstur yang tak biasa terbuat dari limbah plastik daur ulang, hasil kolaborasi Pemerintah Kabupaten Buleleng dan komunitas pengolah sampah lokal.
Gagasan ini lahir dari semangat mempercantik kota tanpa melupakan bumi. Melalui Dinas Perhubungan Kabupaten Buleleng, penataan kawasan strategis Titik Nol tak hanya menata arus lalu lintas dan estetika ruang, tetapi juga menyelipkan pesan kuat tentang keberlanjutan.
Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Buleleng, Gede Gunawan Adnyana Putra, menuturkan bahwa arahan pimpinan daerah menjadi titik awal lahirnya inovasi tersebut. Kawasan kota, menurutnya, harus aman, tertib, dan sekaligus ramah lingkungan.
Lampu penerangan jalan dirancang menggunakan PJUTS (Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya), kabel ditanam di bawah tanah untuk menjaga kerapian visual kota, dan papan nama jalan dipilih sebagai medium edukasi publik tentang pentingnya pengelolaan sampah.
“Kenapa tidak memanfaatkan sampah plastik yang selama ini menjadi persoalan?” begitu kira-kira pertanyaan yang kemudian menggerakkan ide ini.
Dari Desa Petandakan, Plastik Mendapat Kehidupan Kedua
Di Desa Petandakan, denyut perubahan itu berawal. Melalui kolaborasi dengan Rumah Plastik Mandiri Buleleng, limbah plastik yang semula tercecer di lingkungan kini dipilah, dicacah, dan dipadatkan menjadi lembaran-lembaran kokoh.
Eka Darmawan, pemilik Rumah Plastik Mandiri Buleleng, mengaku proyek ini menjadi kebanggaan tersendiri. Baginya, ini bukan sekadar pekerjaan teknis, tetapi warisan visual yang akan dinikmati masyarakat setiap hari.
Material yang digunakan adalah plastik jenis HDPE bahan yang dikenal kuat, tahan cuaca, dan aman. Namun papan nama jalan ini tak hanya mengedepankan fungsi. Sentuhan seni Bali disematkan pada desainnya, bahkan dirancang kemungkinan penambahan ukiran khas Bali di masa mendatang.
Regulasi dari Kementerian Perhubungan tetap menjadi pijakan utama. Petunjuk teknis dipatuhi sepenuhnya, sementara kreativitas lokal memberi identitas yang membedakan Singaraja dari kota lain.
Yang menarik, papan nama jalan ini bersifat dinamis. Ada bagian yang dapat dimodifikasi mengikuti momentum tertentu mulai dari peringatan Hari Ulang Tahun Kota Singaraja hingga Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Penanda arah pun bisa “bercerita” sesuai suasana kota.
Satu Ton Plastik untuk Sepuluh Penanda
Di balik satu papan nama jalan, ada kisah panjang tentang pengumpulan sampah. Untuk memproduksi 10 papan nama lengkap dengan tiangnya, dibutuhkan sekitar 880 kilogram plastik dalam kondisi sudah tercacah. Jika dihitung dari sampah mentah, jumlahnya melebihi satu ton.
Plastik-plastik itu dikumpulkan dari jaringan bank sampah dan TPST binaan yang tersebar di seluruh Kabupaten Buleleng. Tahap terlama justru berada pada proses pengumpulan bahan baku. Setelah material siap, produksi relatif cepat sekitar dua hingga tiga hari untuk satu papan.
Secara keseluruhan, sejak pengumpulan hingga pemasangan, sepuluh papan nama jalan dapat dirampungkan dalam waktu kurang lebih satu bulan. Pada tahap awal penataan Titik Nol, sepuluh unit tersebut akan dipasang di lima ruas jalan masing-masing di awal dan akhir ruas.
Lebih dari sekadar proyek fisik, desain papan nama jalan ini juga direncanakan untuk didaftarkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI) melalui BRIDA, sebagai identitas resmi milik Dinas Perhubungan Kabupaten Buleleng.
Kota sebagai Ruang Edukasi
Langkah kecil di Titik Nol ini menyimpan makna besar. Di tengah persoalan sampah plastik yang menjadi isu global, Kabupaten Buleleng memilih menjadikannya solusi estetika sekaligus edukasi.
Warga yang melintas mungkin hanya melihat papan nama jalan. Namun di baliknya, ada lebih dari satu ton plastik yang tak lagi mencemari sungai dan laut. Ada kolaborasi pemerintah dan komunitas. Ada pesan bahwa keindahan kota tak harus mengorbankan lingkungan.
Jika inovasi ini terus dikembangkan, bukan tidak mungkin Singaraja akan dikenal bukan hanya sebagai kota tua bersejarah di Bali utara, tetapi juga sebagai kota yang berani mengubah sampah menjadi simbol arah masa depan. BWN-03


































