baliwakenews.com – Sabtu siang itu, langit Kuta mendung pekat. Hujan deras turun, disertai angin kencang yang menderu tanpa ampun. Di tengah cuaca yang tidak bersahabat itu, Desima Christina Renta Damanik (48) dan putranya, Kevin Renner Totouta Purba (9), duduk di dalam mobil Daihatsu Agya putih mereka. Perjalanan singkat untuk makan siang berubah menjadi tragedi yang tak terduga.
Di depan Pondok Lensa Rental, Jalan Raya Kuta, sebuah pohon perindang jenis kayu santan yang berdiri tegak selama bertahun-tahun akhirnya menyerah. Hujan dan angin membuatnya kehilangan daya tahan. Dengan suara gemuruh, pohon itu tumbang, menimpa mobil yang sedang melintas.
Kevin, yang duduk di dalam mobil bersama ibunya, hanya bisa berteriak. Warga sekitar bergegas membantu. I Wayan Bayu Adi Guna, pegawai Pondok Lensa yang sedang makan siang di kantornya, berlari ke luar begitu mendengar suara benturan keras. “Saya lihat ada seorang anak di bagian belakang mobil. Kami memecahkan kaca untuk menyelamatkannya,” ujarnya. Kevin berhasil diselamatkan, tetapi sang ibu masih terjepit di balik kemudi.
Sementara itu, Kadek Ananta Wiguna, rekan kerja Bayu, bergegas mencari nomor darurat untuk menghubungi pemadam kebakaran. Tidak butuh waktu lama, tim BPBD dan kepolisian tiba di lokasi. Lalu lintas dialihkan, listrik diputus, dan evakuasi segera dilakukan. Namun, harapan untuk menyelamatkan Desima pupus. Ia ditemukan dalam kondisi sudah tidak bernyawa.
Tragedi ini bukan satu-satunya. Hanya dua hari sebelumnya, I Nyoman Adiawan (20), seorang pelajar asal Tabanan, juga kehilangan nyawanya ketika sebuah pohon suar tumbang di Jalan Raya Sembung, Mengwi, Badung. Ia tengah mengendarai sepeda motor saat pohon besar itu roboh, menghantam tubuhnya seketika. Seorang saksi mata, Munawar (40), mencoba memanggilnya, tetapi tidak ada respons. Sang pemuda telah pergi sebelum pertolongan datang.
Di Karangasem, kejadian serupa menimpa Nengah Suari (56), seorang petani yang sedang dalam perjalanan pulang dari sawah. Ia tertimpa tiang listrik yang roboh akibat hujan dan angin kencang. Warga yang menyaksikan hanya bisa pasrah, takut memberikan pertolongan karena aliran listrik masih menyala.
Bencana ini menjadi pengingat bahwa alam memiliki kekuatan yang tak bisa diremehkan. Angin, hujan, dan akar yang melemah bisa merenggut nyawa dalam sekejap. Di balik setiap peristiwa, ada keluarga yang berduka, anak yang kehilangan orang tua, dan masyarakat yang terhenyak dalam kesedihan.
Kevin mungkin tidak akan pernah melupakan momen ketika ia harus menyaksikan ibunya tertimpa pohon di depan matanya. Sebuah perjalanan makan siang yang seharusnya biasa saja, kini menjadi kenangan yang pahit.
Di tengah semua ini, ada satu hal yang pasti: kita semua harus lebih waspada. Masyarakat dan pemerintah perlu memperhatikan kondisi pohon-pohon tua yang berisiko tumbang. Karena bagi mereka yang telah kehilangan orang yang dicintai, tak ada yang lebih menyakitkan selain tahu bahwa tragedi ini bisa dicegah. BWN-01

































