Denpasar, Baliwakenews.com
Buku Seabad Relokasi Batur menjadi perhatian dalam Diskusi Buku Program Beranda Pustaka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) 2026 di Taman Budaya Bali, Jumat (24/7/2026). Karya yang diterbitkan Mahima Institute Indonesia ini dinilai bukan sekadar kumpulan tulisan, melainkan dokumen penting yang merekam ingatan kolektif masyarakat Batur pasca-letusan dahsyat Gunung Batur pada 1926.
Diskusi berlangsung dinamis. Antusiasme peserta terlihat dari tingginya respons terhadap pembahasan buku yang menghimpun 32 tulisan dari penulis lokal, nasional, hingga peneliti mancanegara.
Pembedah buku, Heri Purwanto, S.S., M.Ag., dosen Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa, menyebut buku yang disusun secara swadaya oleh komunitas Lingkar Studi Batur itu berhasil menghadirkan perspektif sejarah yang kuat sekaligus menjadi pijakan untuk membaca masa depan Batur.
“Buku ini mengajak kita menyelami lorong waktu sejarah dengan memahami kebudayaan Batur dari masa lalu, membaca keadaan saat ini, dan berefleksi untuk masa depan. Ini menjadi catatan historiografi yang penting untuk memahami peristiwa Rarud Batur,” ujarnya.
Menurut Heri, terdapat tiga gagasan besar yang mengikat seluruh isi buku, yakni kebertahanan, adaptasi, dan kekhawatiran.
Kebertahanan menggambarkan perjuangan masyarakat Batur setelah direlokasi akibat letusan Gunung Batur. Adaptasi memperlihatkan bagaimana kehidupan sosial dan budaya dibangun kembali di ruang baru. Sementara itu, kekhawatiran muncul melalui berbagai tulisan yang menyoroti ancaman degradasi lingkungan, perubahan tata ruang, hingga potensi hilangnya nilai-nilai budaya dan warisan leluhur.
Ia juga mengapresiasi kemampuan editor meramu tulisan dari beragam latar belakang sehingga membentuk narasi yang utuh dan saling terhubung.
Namun demikian, Heri menilai masih ada ruang yang belum tergarap dalam buku tersebut, yakni aspek teologi Batur.
Menurutnya, kehidupan masyarakat Batur tidak dapat dipisahkan dari kepercayaan terhadap Gunung Batur, Dewi Danuh, dan relasi spiritual antara masyarakat dengan gunung maupun danau.
“Buku ini belum menyentuh aspek teologis, padahal masyarakat Batur dengan agama itu sangat erat. Ke depan perlu ada kajian akademik yang lebih mendalam mengenai teologi Batur,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa dalam tradisi Nusantara dikenal konsep pemujaan terhadap dewa-dewa lokal seperti Grama Dewata, Kula Dewata, hingga Parwata Rajadewa, yang berkaitan dengan pemuliaan gunung sebagai pusat spiritual. Menurutnya, konsep serupa juga dapat ditelusuri dalam tradisi masyarakat Batur melalui penghormatan kepada Ida Ratu Madue Gumi maupun Dewi Danuh.
Sementara itu, penyunting buku sekaligus Jero Penyarikan Duuran Batur, I Ketut Eriadi Ariana, mengatakan buku tersebut lahir dari keinginan sederhana untuk mendokumentasikan perjalanan sejarah Batur menjelang peringatan satu abad Rarud Batur.
Ia mengaku tidak menyangka antusiasme para penulis begitu besar hingga terkumpul puluhan naskah yang memperkaya perspektif mengenai sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat Batur.
“Awalnya kami hanya ingin menyediakan ruang untuk mencatat Batur dan merefleksikan peristiwa 100 tahun Rarud Batur. Setelah tulisan terkumpul, ternyata banyak data dan perspektif baru yang muncul, baik dari masyarakat Batur, desa-desa sekitar, akademisi nasional, maupun peneliti luar negeri. Kami berharap buku ini menjadi inspirasi lahirnya kajian-kajian baru tentang Batur,” ujarnya.
Melalui diskusi di FSBJ 2026, Seabad Relokasi Batur dinilai tidak hanya menjadi dokumentasi sejarah, tetapi juga membuka ruang dialog mengenai identitas, spiritualitas, dan masa depan kawasan Batur di tengah tantangan zaman. Buku ini diharapkan menjadi pijakan penting bagi penelitian lanjutan sekaligus memperkuat upaya pelestarian memori kolektif masyarakat Batur. BWN-03

































