Menjaga Harapan dari Pasir Pantai Banyuasri, Saat Nelayan Berjibaku Selamatkan 182 Telur Penyu Hijau

Iklan Home Page

Singaraja, Baliwakenews.com

Gelap masih menyelimuti Pantai Camplung, Desa Banyuasri, Kecamatan Buleleng, ketika dua bayangan besar perlahan muncul dari balik deburan ombak. Sekitar pukul 03.00 Wita, Kamis (4/6/2026) dini hari, dua ekor penyu hijau merayap ke daratan, mencari tempat aman untuk melanjutkan siklus kehidupan yang telah berlangsung selama ribuan tahun.

Di tengah keheningan pantai, induk-induk penyu itu mulai menggali pasir dan meletakkan calon generasi penerusnya. Namun, malam itu perjuangan mereka tidak sepenuhnya aman. Ancaman datang dari predator yang kerap berkeliaran di kawasan pesisir, yakni anjing liar.

Beruntung, sejumlah nelayan yang tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama (KUB) Karang Gunung bersama relawan Kurma Segara Raksa Banyuasri sedang melakukan pemantauan. Mereka sadar, setiap telur yang terselamatkan berarti satu peluang lebih besar bagi kelestarian penyu hijau yang populasinya terus menghadapi tekanan.

Baca Juga:  Dari Dapur ke Solusi: Gerakan Kulkul PKK Ubah Cara Warga Buleleng Mengelola Sampah

Ketua KUB Karang Gunung, Teguh, mengenang bagaimana situasi saat itu berlangsung. Salah satu sarang yang baru dibuat penyu hampir menjadi sasaran anjing liar. Nelayan dan relawan pun bergerak cepat mengamankan lokasi.

“Di titik pertama, telur sempat diincar anjing liar. Syukurnya bisa segera kami amankan. Sementara di titik kedua, ada nelayan yang menunggui penyu sampai selesai bertelur sehingga sarangnya tetap aman,” ujarnya.

Dari dua sarang tersebut, ditemukan total 182 butir telur penyu hijau. Sebanyak 73 butir berasal dari sarang pertama dan 109 butir dari sarang kedua. Satu per satu telur itu kemudian dipindahkan secara hati-hati ke tempat penetasan sementara yang telah disiapkan relawan.

Bagi masyarakat pesisir Banyuasri yang selama ini hidup berdampingan dengan laut, penyelamatan telur penyu bukan sekadar aktivitas konservasi. Ada rasa tanggung jawab moral untuk menjaga satwa yang sejak lama menjadi bagian dari ekosistem laut Bali Utara.

Baca Juga:  Bina Petani Arak di Kabupaten Buleleng, Pemprov Bali Selamatkan Kearifan Lokal

Ketua Relawan Kurma Segara Raksa Banyuasri, Nyoman Sadwika, mengakui fasilitas penampungan yang tersedia masih jauh dari kata ideal. Namun keterbatasan tersebut tidak menyurutkan semangat para relawan.

Di dalam bak penetasan sederhana itu, kondisi lingkungan diupayakan menyerupai habitat alami. Harapannya sederhana, namun penuh makna: agar sebanyak mungkin telur dapat menetas dan anak-anak penyu kembali menemukan jalannya menuju laut.

“Kami berharap semuanya bisa menetas dengan baik. Ini memang langkah kecil, tetapi kalau dilakukan terus-menerus, dampaknya akan sangat besar bagi kelestarian penyu hijau,” katanya.

Musim bertelur penyu hijau di Pantai Camplung diperkirakan masih akan berlangsung hingga Agustus mendatang. Bagi nelayan dan relawan, setiap jejak penyu yang muncul di pasir pantai selalu membawa harapan baru.

Baca Juga:  Antisispasi Lonjakan Harga Jelang Galungan, Pemkab. Buleleng Gelar Gerakan Pangan Murah

Kembalinya penyu bertelur di Banyuasri juga menjadi pertanda bahwa kawasan pesisir tersebut masih cukup layak sebagai habitat satwa laut dilindungi. Di tengah berbagai ancaman terhadap ekosistem pesisir, mulai dari pencemaran hingga aktivitas manusia, kehadiran penyu seolah menjadi pesan bahwa alam masih memberi kesempatan untuk dijaga.

Kini, di balik butiran pasir yang menyimpan 182 telur itu, tersimpan pula harapan besar. Harapan bahwa puluhan bahkan ratusan tukik akan menetas, berlari kecil menuju laut, dan suatu hari nanti kembali ke pantai yang sama untuk melanjutkan siklus kehidupan.

Sebuah harapan yang lahir dari kepedulian nelayan, relawan, dan masyarakat yang memilih untuk menjaga, bukan membiarkan. BWN-03

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment - Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR