Denpasar, Baliwakenews.com
Suasana Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Denpasar, Rabu (13/5/2026), terasa berbeda. Di tengah arus digital yang serba cepat dan budaya membaca yang kian tergerus, ratusan peserta justru berkumpul untuk merayakan buku, literasi, dan nilai-nilai kearifan lokal Bali yang diyakini mampu menjawab tantangan dunia.
Melalui gelaran World Book Day 2026, Bank Indonesia Kantor Perwakilan Provinsi Bali menghadirkan lebih dari sekadar acara bedah buku. Mengusung tema “Bali Local Vibes, Global Tribe: Rooted in Local Harmony, Reaching Global Impact”, kegiatan ini menjadi panggung bagaimana filosofi lokal Bali bisa berbicara di level global.
Di balik lembaran buku dan diskusi literasi, tersimpan pesan besar tentang masa depan: menjaga bumi dimulai dari kesadaran kecil untuk membaca, memahami, lalu bergerak bersama.
Perpustakaan Bank Indonesia Provinsi Bali sebagai penyelenggara mencoba menghadirkan pendekatan berbeda. Literasi tidak lagi dipandang sebatas aktivitas akademis, melainkan jalan membangun kepedulian sosial dan lingkungan.
Generasi muda, komunitas literasi, akademisi hingga masyarakat umum tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan. Mereka diajak menyelami bagaimana filosofi Tri Hita Karana — harmoni antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam — tetap relevan menghadapi krisis lingkungan global.
Deputi Direktur Bank Indonesia Provinsi Bali, Yusuf Wicaksono H., mengatakan bahwa literasi harus mampu melahirkan perubahan nyata, bukan berhenti pada pengetahuan semata.
“Melalui World Book Day 2026, kami ingin mengajak masyarakat Bali untuk semakin mencintai budaya membaca sekaligus menumbuhkan kesadaran kolektif terhadap pentingnya menjaga harmoni lingkungan sesuai nilai Tri Hita Karana. Literasi tidak hanya berhenti pada membaca buku, tetapi juga menjadi inspirasi untuk menciptakan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat secara luas,” ujarnya.
Pesan itu terasa kuat di tengah kondisi dunia yang menghadapi berbagai persoalan lingkungan, mulai dari perubahan iklim, krisis sampah plastik, hingga kerusakan ekosistem. Bali, dengan akar budaya dan spiritualitasnya, dianggap memiliki modal sosial yang mampu menjadi contoh pembangunan berkelanjutan berbasis kearifan lokal.
Tidak hanya menghadirkan ruang diskusi, kegiatan ini juga mendorong aksi nyata. Peserta diajak membangun kesadaran kolektif bahwa perpustakaan bukan lagi sekadar tempat menyimpan buku, melainkan ruang kolaborasi, pusat pembelajaran, dan titik lahirnya gerakan sosial baru.
Di tengah modernisasi dan derasnya budaya global, World Book Day 2026 seolah menjadi pengingat bahwa identitas lokal tidak harus ditinggalkan untuk bisa mendunia. Justru dari akar budaya yang kuat, lahir pengaruh yang lebih besar.
Bali kembali menunjukkan bahwa harmoni bukan sekadar warisan leluhur, tetapi juga jawaban untuk masa depan dunia. BWN-03


































