I K. Eriadi Ariana
SASTRA babad yang jumlahnya berlimpah memberi sumbangan yang besar dalam bangun peradaban orang Bali. Meskipun sarat nuansa politis dan mitologis, teks-teks babad memberi sumbangan penting dalam upaya menjejak perjalanan masa silam leluhur bersama dengan warisan kearifan yang hendak diwariskan.
Satu teks babad yang penting dibaca dalam konteks nasionalisme dan idealisme orang Bali adalah Babad Tambyak. Babad ini menuturkan ketokohan Ki Tambyak, seorang ksatria di masa Bali Kuno serta keturunannya yang hidup pada masa asta nagara di Bali. Selain membentang masa, teks ini juga lintas kawasan: dari Pegunungan Kintamani di utara hingga Gunung Pecatu di selatan Pulau Bali.
Menurut teks, Ki Tambyak adalah satu dari sejumlah patih unggul yang dimiliki Sri Astasura Ratna Bumi Banten, raja Bali Kuno terakhir sebelum ekspedisi Majapahit 1343. Atas kepiawaian dan kesaktiannya, pada era itu Ki Tambyak diberikan kuasa untuk memimpin wilayah Jimbaran.
Ki Tambyak merupakan putra Bhagawan Maya Cakru yang dilahirkan secara ajaib di tepi Danau Batur. Ia lahir di atas batu, di bawah pohon emas. Ketika lahir batu yang ditimpanya pecah. Peristiwa itu adalah tanda dari semesta bahwa ia akan menjadi manusia pilih tanding. Oleh karena itulah, bayi tersebut diberi nama Tambyak.
Selepas lahir, Tambyak kecil ditinggalkan begitu saja oleh kedua orang tuanya yang moksa. Tambyak lantas diasuh oleh orang-orang Bali Aga di wilayah Panarajon. Tahun-tahun berlalu, ia tumbuh menjadi pemuda yang kuat dan gagah, sehingga dilirik oleh Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten. Singkat cerita, ia diangkat menjadi patih di wilayah Jimbaran. Gelar kehormatannya “Ki” yang setara kedudukannya dengan patih-patih kerajaan Bali yang telah termasyur seperti Patih Ki Kalung Singkal, Patih Ki Tunjung Tutur.
Tahun 1343, Kerajaan Majapahit di Jawa Timur melakukan ekspedisi ke Bali untuk memenuhi misi membentuk mandala Nusantara. Mahapatih Majapahit, Gajah Mada, memimpin langsung ekspedisi ke Bali yang berhasil menaklukkan kuasa politik pulau tersebut.
Ki Tambyak gugur dalam pertempuran besar di kawasan Pecatu yang menjadi wilayah kekuasaannya. Pascaperistiwa berdarah itu, keturunannya kembali ke tanah kelahiran Ki Tambyak di Kaldera Batur.
Tidak diketahui berapa lama waktu berjalan, tersebutlah seorang keturunan Ki Tambyak yang hidup semasa dengan seorang pangeran Tabanan, Arya Notor Waringin. Pada sebuah pertemuan, keduanya pun jadi sahabat. Keduanya lantas bersama-sama melakukan pemujaan ke hadapan Ida Bhatari Dewi Danuh di Gunung Batur.
Singkat cerota, doa kedua sahabat ini dikabulkan. Arya Notor Waringin diberi anugerah untuk membangun kekuatan politik di daerah selatan Pulau Bali dan menjadi pemimpinnya. Kekuatan politik anugerah Bhatari Batur itu kelak dikenal sebagai Kerajaan Badung.
Atas jasa-jasa sahabatnya, Arya Notor Waringin mengangkat Tambyak sebagai patih. Keluarganya diberi keistimewaan, berupa pengampunan terhadap segala jenis kesalahan di masa depan. Apabila kesalahan yang dilakukan begitu berat, keturunannya hanya akan diusir dari pusat kerajaan.
Seolah jadi suratan waktu, pada suatu ketika, keturunan Tambyak melakukan kesalahan. Bagi orang biasa, kesalahan itu pantas diganjar hukuman mati. Namun, oleh karena keistimewaan yang diberikan Arya Notor Waringin, hukuman diperingan berupa pengusiran ke keluar istana.
Tiga Pusaka
Sebagai seorang ksatria pilih tanding, Ki Tambyak era Sri Astasura Ratna Bumi Banten memiliki tiga prinsip ksatria yang dipegang teguh sebagai tindak-tanduk dalam bersikap. Tiga prinsip ksatria itu ibarat pusaka. Ketiganya adalah abitah, pregitah, dan asayah.
Tiga prinsip ini ditulis dalam fragmen ketika Tambyak diuji oleh Sri Astasura Ratna Bumi Banten. Raja Bedahulu itu menguji keahlian Tambyak dengan Laskar Bedahulu yang dikenal terkoordinir baik. Namun, Tambyak yang piawai dalam pertarungan mampu menghadapi Laskar Bedahulu meskipun melawan seorang diri.
Tambak memiliki prinsip untuk tidak pernah takut dengan orang banyak (abitah). Kedua, ia tidak pernah gentar meskipun diamuk massa (pregitah). Prinsip ketiga adalah tidak pernah takut meskipun gugur di tangan musuh (asayah).
Ketiga prinsip ini menggambarkan karakter Ki Tambyak sebagai pemimpin yang memiliki idealisme. Ia tegak lurus pada prinsip, meskipun berbeda dengan arus kuasa yang lebih besar.
Sebagai seorang pemimpin, memang telah menjadi kewajiban untuk berani menghadapi orang banyak (abitah) baik secara fisik maupun mental. Seorang pemimpin hendaknya memiliki nilai dasar dalam menjalani kehidupan, khususnya dalam lakunya untuk memimpin suatu komunitas. Hanya pemimpin yang memiliki prinsip yang bisa membawa bahtera yang dipimpinnya melewati lautan tantangan. Bukan pemimpin yang sekadar membebek pada arus kuasa yang lebih dominan.
Kedua, seorang pemimpin hendaknya tidak takut menandingi orang banyak (pregitah). Setelah memiliki kepercayaan diri, seorang harus berani bersaing dengan siapapun. Nilai ini penting untui menstimulasi inovasi-inovasi dan ketahanan negara-bangsa, terutama dalam keadaan sulit.
Pemimpin hendaknya mampu melahirkan kultur yang mendukung kesejateraan rakyat dan bernilai tawar. Pemanfaatan sumber daya juga penting untuk diperhatikan, sehingga tidak ada alasan untuk tergantung dengan komunitas lain.
Asayah diterjermahkan teks sebagai tidak takut mati di tangan. Konsep ketiga ini mengingatkan tanggung jawab dasar seorang pemimpin. Segala macam kebijakan yang diambil wajib diperhitungkan secara masak, sehingga dapat dipertanggungjawabkan.
Seorang pemimpin ideal tidak akan pernah meninggalkan kelompoknya untuk berjuang sendiri-sendiri. Ia siap pasang badan untuk melindungi rakyat. Bagi seorang pemimpin, “medan pertempuran” adalah altar suci pemujaan sedangkan amanat rakyat adalah lingga yang dipujanya. Sudah menjadi konsekuensi bagi seorang pemimpin untuk mempersembahkan apapun, termasuk jiwa dan raga, hingga misi menyejahterakan rakyat bisa diwujudkan.
Demikian teks Babad Tambyak mewariskan arti prinsip menjadi kepemimpinan kepada para pembacanya. Lalu, pertanyannya kini, masihkah prinsip-prinsip tersebut bisa ditemui di dalam nurani mereka yang menyatakan diri sebagai pemimpin?


































