Mangupura, baliwakenews.com
Ancaman kanker otak di Indonesia kian mengkhawatirkan, bukan hanya karena dampaknya yang mematikan, tetapi juga karena masih rendahnya deteksi dini di masyarakat. Ironisnya, banyak kasus baru terungkap saat sudah memasuki tahap lanjut, bukan karena gejalanya tidak ada, melainkan karena kerap diabaikan dan terbentur biaya pemeriksaan.
Isu ini mencuat dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Kasih Ibu Hospital Kedonganan, Senin (20/4/2026), yang menyoroti perlunya intervensi lebih kuat, termasuk dari pemerintah, untuk memperluas akses skrining kanker otak.
Direktur RS Kasih Ibu Kedonganan, dr. Ni Putu Ayu Utari Laksmi, menegaskan bahwa kanker otak merupakan penyakit kompleks dengan penyebab yang belum pasti, sehingga pendekatan terbaik saat ini adalah meningkatkan kewaspadaan dan deteksi dini.
“Masalah utamanya bukan hanya pada penyakitnya, tetapi pada keterlambatan diagnosis. Banyak yang menganggap sakit kepala itu hal biasa, padahal bisa menjadi tanda awal yang serius,” ujarnya.
Menurutnya, fasilitas seperti CT Scan dan MRI sebenarnya sudah tersedia. Namun, biaya yang tinggi masih menjadi kendala besar bagi masyarakat. Penanganan kanker otak bahkan bisa mencapai puluhan juta rupiah, tergantung tingkat keparahan.
Hal senada disampaikan dokter spesialis bedah saraf, dr. Steven Awyono Sp.BS, FTO. Ia mengungkapkan bahwa tumor otak merupakan salah satu kasus terbanyak dalam praktiknya, dengan dampak signifikan terhadap fungsi tubuh pasien.
“Pasien sering datang sudah dalam kondisi lanjut. Ini yang menjadi tantangan besar kita bersama,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa gejala kanker otak tidak selalu berupa sakit kepala. Dalam beberapa kasus, gangguan fungsi tubuh seperti penurunan kemampuan bicara, gerak, atau penglihatan justru menjadi tanda awal, tergantung lokasi tumor di otak.
Untuk itu, dr. Steven mendorong pentingnya skrining rutin, terutama bagi masyarakat usia di atas 40 tahun. Di beberapa negara, pemeriksaan bahkan dilakukan secara berkala setiap lima tahun. Namun di Indonesia, implementasi ini masih terbatas karena faktor biaya.
“Harapannya ada dukungan pemerintah untuk skrining penyakit otak, baik tumor maupun stroke, agar bisa dideteksi lebih awal dan tidak menunggu kondisi parah,” tegasnya.
Selain itu, penanganan kanker otak juga membutuhkan biaya dan sumber daya besar, termasuk perawatan intensif pasca operasi di ICU dengan tim medis khusus. Hal ini semakin menegaskan pentingnya pencegahan melalui deteksi dini yang lebih terjangkau.
Melalui forum ini, RS Kasih Ibu berharap kesadaran masyarakat meningkat, sekaligus mendorong adanya kebijakan yang lebih berpihak pada akses kesehatan, sehingga kanker otak tidak lagi menjadi “silent killer” yang terlambat disadari. BWN-04
































