Mangupura, baliwakenews.com
Upaya penanganan sampah di Kuta Selatan kini memasuki fase perubahan pola pikir masyarakat. Pemerintah kecamatan tidak lagi sekadar menggulirkan program, tetapi mendorong lahirnya gerakan kolektif berbasis rumah tangga melalui penerapan “Satu Rumah, Satu Komposter Aktif”.
Camat Kuta Selatan, Ketut Gede Arta, menegaskan bahwa persoalan sampah hanya bisa diselesaikan jika masyarakat terlibat langsung dari sumbernya. Ia menilai, selama ini pendekatan yang bersifat program belum cukup kuat tanpa diiringi aksi nyata di tingkat rumah tangga.
“Sekarang bukan lagi soal pilihan, tetapi keharusan. Semua harus bergerak bersama,” tegasnya, Senin (30/3/2026).
Menurutnya, kunci utama dari gerakan ini terletak pada konsistensi. Komposter yang dimiliki warga harus benar-benar digunakan, bukan sekadar menjadi pelengkap tanpa fungsi. Dengan pengolahan sampah organik secara mandiri, masyarakat ikut berperan langsung dalam menekan volume sampah.
Dominasi sampah organik yang mencapai sekitar 70 persen di wilayah Kuta Selatan disebut sebagai peluang besar untuk diselesaikan dari hulu. Jika pengelolaan dilakukan sejak dari rumah, beban sampah yang masuk ke TPS maupun TPST dapat ditekan secara signifikan.
“Kalau sampah organik selesai di rumah tangga, dampaknya akan sangat besar bagi pengurangan volume sampah secara keseluruhan,” ujarnya.
Gerakan ini juga diperkuat oleh peran desa adat yang menjadi ujung tombak di lapangan. Di Lingkungan Celuk, Kelurahan Benoa, misalnya, Desa Adat Bualu telah mengembangkan puluhan teba modern sebagai sarana pengolahan sampah organik.
Beragam metode pun diterapkan di masing-masing wilayah, mulai dari teba modern hingga penggunaan tong dan bag komposter. Variasi ini dinilai menjadi kekuatan karena disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat.
Namun, Camat Arta mengingatkan bahwa keberhasilan gerakan ini sangat ditentukan oleh kesadaran kolektif seluruh pihak. Pemerintah, desa adat, sektor swasta, hingga masyarakat harus berjalan seiring.
“Ini bukan tugas satu pihak saja. Semua harus terlibat karena ini tanggung jawab bersama,” tegasnya.
Dengan dorongan tersebut, Kuta Selatan kini tidak hanya fokus pada penanganan sampah, tetapi juga membangun budaya baru mengolah sampah dari sumbernya. Gerakan “Satu Rumah, Satu Komposter Aktif” pun diharapkan menjadi fondasi perubahan berkelanjutan, bukan sekadar slogan. BWN-04

































