Bali Diprediksi Hadapi Ancaman Ganda 2026, Kemarau Lebih Cepat, Gelombang 4 Meter Intai Perairan Selatan

Iklan Home Page

Mangupura, baliwakenews.com

Tahun 2026 menjadi peringatan serius bagi Bali. Di darat, musim kemarau diprediksi datang lebih awal dan lebih kering dari biasanya. Di laut, gelombang setinggi 2,5 hingga 4 meter berpotensi menghantam perairan selatan, termasuk Selat Badung.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan Bali masuk dalam wilayah yang mengalami awal kemarau lebih cepat dari normal. Secara nasional, 46,5 persen wilayah Indonesia atau 325 Zona Musim (ZOM) diprediksi memasuki kemarau lebih awal, termasuk Bali dan Nusa Tenggara.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan, berakhirnya La Niña Lemah pada Februari 2026 dan pergeseran menuju fase Netral menjadi pemicu utama. Bahkan peluang berkembang menjadi El Niño lemah hingga moderat pada pertengahan tahun mencapai 50–60 persen. “Perubahan ini memicu kemarau lebih awal dan berpotensi lebih kering,” ujarnya.

Baca Juga:  Badung Rancang Petani Dapat Insetif di Tahun 2023

BMKG memperkirakan puncak kemarau terjadi pada Agustus 2026. Pada periode itu, Bali diproyeksikan sudah berada dalam fase kemarau penuh dengan curah hujan di bawah normal. Kondisi ini meningkatkan risiko kekeringan lahan pertanian, penurunan debit air bersih, hingga ancaman kebakaran hutan dan lahan.

Bagi Bali yang bergantung pada sektor pariwisata dan pertanian, dampaknya bisa meluas jika tidak diantisipasi. Petani diminta menyesuaikan pola tanam dan memilih varietas tahan kering, sementara pemerintah daerah didorong mengoptimalkan waduk, embung, dan distribusi air bersih.

Baca Juga:  Tiba di Bandara, Delegasi G-20 Harus Lalui Ini

BMKG Wilayah III Denpasar dalam rilis kondisi sinoptik 6–9 Maret 2026 memperingatkan potensi angin kencang di perairan utara dan selatan Bali dengan kecepatan 5–30 knot.

Gelombang setinggi 1,25–2,5 meter berpeluang terjadi di Perairan Utara Bali dan Selat Lombok bagian utara. Sementara itu, gelombang lebih tinggi 2,5–4,0 meter berpotensi terjadi di Selat Badung, Selat Bali bagian selatan, Perairan Selatan Bali, dan Selat Lombok bagian selatan.

Kondisi tersebut berisiko terhadap keselamatan pelayaran, terutama bagi perahu nelayan, kapal tongkang, hingga kapal ferry jika kecepatan angin dan tinggi gelombang melampaui ambang batas keselamatan.

Baca Juga:  Bupati Giri Prasta Hadiri Karya Ngenteg Linggih di Banjar Tegal Kuta  

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menegaskan, informasi ini merupakan peringatan dini agar pemerintah daerah dan masyarakat segera melakukan langkah antisipatif.

“Ini early warning yang harus diikuti early action untuk meminimalkan risiko,” tegas Faisal.
Masyarakat Bali kini dihadapkan pada dua tantangan sekaligus, menjaga ketersediaan air di tengah kemarau lebih panjang, sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap dinamika cuaca laut yang berpotensi membahayakan aktivitas pelayaran dan pariwisata bahari. BWN-04

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -Iklan Galungan Pemkab BadungIklan Galungan PDAM Badung Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR