Mengwi, Baliwakenews.com
Hujan lebat yang disertai angin kencang dan petir sejak Senin (23/2) malam hingga Selasa (24/2) membuat suasana pagi di sejumlah sekolah di Kabupaten Badung berubah drastis. Di beberapa titik, genangan air mulai meninggi, sementara angin kencang membuat pepohonan di sekitar sekolah bergoyang keras.
Sekitar pukul 11.00 Wita, satu per satu siswa dijemput orang tuanya. Sebagian lainnya menunggu di teras kelas sambil memandangi hujan yang tak kunjung reda. Di beberapa sekolah di Kecamatan Mengwi dan Kuta Selatan, kegiatan belajar mengajar dihentikan lebih awal demi keselamatan.
Situasi ini membuat Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Badung bergerak cepat. Melalui imbauan resmi, seluruh satuan pendidikan diminta meningkatkan kewaspadaan dan diperbolehkan mengalihkan pembelajaran menjadi daring jika kondisi dinilai membahayakan.
Kepala Bidang Pendidikan Dasar Disdikpora Badung, Rai Twistyanti Raharja mengatakan keselamatan siswa menjadi prioritas utama di tengah cuaca ekstrem yang memicu genangan hingga banjir di sejumlah titik.
“Jika hujan lebat disertai angin kencang dan petir terjadi saat jam pelajaran, terutama ketika ada kegiatan di luar ruangan, maka aktivitas harus segera dihentikan. Siswa diarahkan ke tempat yang lebih aman. Bila situasi tidak memungkinkan, pembelajaran dapat dialihkan menjadi daring,” ujarnya.
Di kawasan Kuta, Seminyak, hingga Tuban, beberapa sekolah bahkan terdampak genangan air. Kondisi tersebut membuat ruang kelas tidak lagi nyaman untuk digunakan. Guru-guru pun berinisiatif mengatur ulang metode pembelajaran agar siswa tetap bisa belajar dari rumah.
Bagi sebagian orang tua, keputusan memulangkan siswa lebih awal menjadi langkah yang melegakan. Mereka memilih menembus hujan untuk memastikan anak-anak tiba di rumah dengan selamat. “Yang penting anak aman dulu,” ujar salah satu orang tua siswa di wilayah Kuta Selatan.
Rai menegaskan, keputusan pembelajaran daring sepenuhnya berada pada kewenangan masing-masing sekolah dengan mempertimbangkan kondisi riil di lapangan. Pihaknya juga meminta agar pembelajaran daring dilakukan secara proporsional dan tidak membebani siswa, termasuk memperhatikan ketersediaan perangkat dan jaringan internet.
“Keselamatan adalah prioritas. Namun proses belajar harus tetap berjalan. Karena itu pelaksanaannya harus fleksibel dan adaptif,” tegasnya.
Disdikpora juga mengimbau kepala sekolah untuk terus memantau perkembangan cuaca, berkoordinasi dengan pihak terkait, serta memastikan jalur evakuasi dan sarana prasarana sekolah dalam kondisi aman. Kesiapsiagaan dinilai penting mengingat potensi cuaca ekstrem masih mungkin terjadi dalam beberapa hari ke depan.
Di tengah derasnya hujan dan suara petir yang sesekali menyambar, suasana sekolah mungkin tak lagi seperti biasa. Namun di balik itu, ada satu hal yang dijaga bersama: keselamatan anak-anak sebagai prioritas utama. BWN-05

































