Menjaga Warna, Menjaga Jiwa: Ny. Putri Koster Ajak Pelukis Bali Tetap Setia pada Akar Tradisi

Iklan Home Page

Gianyar, Baliwakenews.com

Aroma cat dan kanvas memenuhi ruang Toko Seni Warna, Lodtunduh, Ubud. Di antara deretan lukisan yang memancarkan detail khas Bali garis halus, kisah pewayangan, hingga lanskap spiritual Ny. Putri Koster berdiri, menyimak, lalu berbicara tentang sesuatu yang lebih dalam dari sekadar warna: akar tradisi.

Saat membuka pameran lukisan Aboedt Art, Ketua Dekranasda Bali itu tak hanya mengapresiasi karya yang terpajang. Ia menyuarakan kegelisahan sekaligus harapan—agar para seniman tetap ajeg menjaga gaya lukisan Bali asli di tengah dinamika pasar seni yang belum sepenuhnya pulih.

“Pelestarian aliran seni lukis Bali harus terus dijaga, dengan akar tradisi yang kuat sebagai fondasi utama,” ujarnya.

Gianyar, Rahim Para Perupa

Bagi Ny. Putri Koster, Gianyar adalah bukti nyata bahwa tradisi masih berdenyut. Hampir setiap desa melahirkan pelukis yang setia pada identitas budaya. Gaya Keliki yang detail dan presisi, misalnya, menjadi contoh bagaimana kekuatan lokal mampu bertahan di tengah arus global.

Baca Juga:  Wawali Arya Wibawa Buka Lomba Layang-Layang Mel Tanjung Kite Festival XVI, Jadi Wahana Ekepsreasi dan Kreatifitas Budaya Bagi Rare Angon

Namun, mempertahankan kualitas di masa pasar sepi bukan perkara mudah. Ia mengingat kembali pengalaman membuka program IKM Bali Bangkit saat pandemi sebuah pelajaran bahwa kesiapan dan konsistensi akan menemukan momennya saat keadaan membaik.

Karya, katanya, adalah cerminan isi hati perupa. Karena itu, berkarya harus dilandasi ketulusan, bukan sekadar tuntutan pasar.

“Kesabaran menjadi ujian utama dalam perjalanan berkesenian,” tuturnya lembut.

Bangkit Tanpa Menggadaikan Nilai

Di sudut lain ruang pameran, sang seniman Aboedt berbicara tentang tema besar yang diusung: Kebangkitan Seni Warna Indonesia. Baginya, kebangkitan bukan hanya soal penjualan, melainkan keberanian untuk tetap menjaga kualitas.

Baca Juga:  Pelatih Bali United, Teco Cugurra Tegaskan Main Fair Play vs Bhayangkara Presisi FC Besok Malam

Sejak pandemi COVID-19 melumpuhkan denyut galeri dan pasar seni, banyak perupa tergoda menurunkan harga demi bertahan. Aboedt memilih jalan berbeda.

“Hari ini saya berkarya lebih bebas, tidak terikat pasar, dan menggunakan bahan berkualitas tinggi. Jangan sampai kita sendiri merusak nilai karya kita,” katanya.

Ia mengingatkan pentingnya menjaga ekosistem seni, termasuk menata sistem komisi agar tidak merugikan seniman maupun merusak harga pasar.

Menjembatani Tradisi dan Masa Depan

Ny. Putri Koster melihat ruang pameran ini sebagai simbol kebersamaan seniman berkumpul, saling menguatkan, saling belajar. Ia bahkan mendorong gagasan pameran virtual untuk memperluas jangkauan apresiasi, membuka peluang agar lukisan Bali dikenal lebih luas tanpa kehilangan identitasnya.

Baca Juga:  Koster Gas Infrastruktur Bali: Tol 96,84 Km, Tiga Pelabuhan Logistik hingga LRT Masuk Radar Bappenas

Baginya, seni bukan sekadar komoditas, melainkan warisan nilai.

“Mari kita hargai setiap karya, karena pada akhirnya seni kembali pada selera dan rasa masing-masing,” pesannya.

Di Lodtunduh sore itu, warna-warna di kanvas bukan hanya pigmen. Ia adalah ingatan, kesabaran, dan keberanian untuk tetap setia pada jati diri. Di tengah pasar yang belum pasti, para pelukis Bali diingatkan untuk tidak goyah karena menjaga gaya lukisan Bali asli berarti menjaga jiwa pulau itu sendiri. BWN-03

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment - Iklan Lapor PajakIklan Nyepi Pemkab BadungIklan Idul Fitri Pemkab BadungIklan Idul Fitri Pemprov. BaliIklan Nyepi Pemprov. BaliIklan BWNIklan Nyepi PDAM BadungIklan Nyepi DPRD Badung Iklan UNWAR