Mangupura, baliwakenews.com
Di antara megahnya patung Garuda Wisnu Kencana dan hiruk-pikuk kawasan wisata Ungasan, langkah-langkah kecil ratusan anak Taman Kanak-Kanak terdengar berbeda pagi itu. Mereka bukan datang untuk sekadar berwisata, melainkan belajar tentang sesuatu yang kerap luput dari perhatian orang dewasa: sampah.
Melalui program bertajuk Green Movement, Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park menggandeng My Melali Community untuk menghadirkan edukasi lingkungan berbasis pengalaman langsung. Anak-anak diajak menyentuh, melihat, dan memahami proses pengelolaan sampah dari sisa makanan hingga plastik dengan cara yang sederhana dan menyenangkan.
Di satu sudut kegiatan, komunitas Magi Farm memperkenalkan pengolahan sampah organik berbasis maggot. Dengan bahasa yang ringan, para fasilitator menjelaskan bagaimana larva lalat hitam mampu mengurai sisa makanan dan mengubahnya menjadi sesuatu yang bernilai. Sementara itu, Get Plastic mengajak siswa mengenal inovasi daur ulang plastik yang dapat diolah menjadi bahan bakar alternatif.
Bagi anak-anak, ini mungkin sekadar pengalaman baru di luar kelas. Namun di balik keceriaan itu, terselip pesan yang lebih besar: persoalan lingkungan, khususnya sampah, adalah tantangan nyata yang mengiringi pertumbuhan pariwisata Bali.
Program edukasi semacam ini dinilai sebagai langkah awal yang penting. Menanamkan kesadaran sejak usia dini kerap disebut sebagai investasi jangka panjang. Namun di saat yang sama, muncul pertanyaan yang lebih mendasar, sejauh mana kegiatan edukatif ini terhubung dengan perubahan nyata di kawasan wisata itu sendiri?
Bali masih bergulat dengan persoalan sampah, terutama di destinasi populer yang terus dibanjiri kunjungan wisatawan. Edukasi kepada anak-anak dinilai tidak bisa berdiri sendiri. Ia membutuhkan dukungan berupa pengelolaan lingkungan yang konsisten, transparan, dan berkelanjutan oleh pengelola destinasi.
My Melali Community diposisikan sebagai ruang kolaborasi, tempat komunitas dan pelaku kreatif berkontribusi pada isu sosial dan lingkungan. Tantangannya, kolaborasi tersebut tidak berhenti pada agenda simbolik atau event sesaat, melainkan melahirkan praktik berkelanjutan yang benar-benar berdampak bagi lingkungan sekitar.
Direktur Operasional GWK Cultural Park, Ch. Rossie Andriani, menyebut bahwa GWK ingin menjadi ruang pertemuan antara pariwisata, edukasi, dan komunitas. “Menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini merupakan investasi penting untuk masa depan yang lebih berkelanjutan,” ujarnya, Sabtu (31/1/2026).
Pernyataan ini sekaligus membuka ruang evaluasi publik: bagaimana komitmen keberlanjutan itu diterjemahkan dalam operasional kawasan wisata secara menyeluruh, mulai dari pengelolaan sampah internal, konsumsi energi, hingga keterlibatan masyarakat lokal.
Ke depan, My Melali Community direncanakan terus berkembang dengan berbagai tema dan kolaborasi. Publik pun menanti, apakah gerakan hijau ini mampu menjadi pemantik perubahan nyata dalam praktik pariwisata berkelanjutan, atau hanya berjalan paralel dengan persoalan lingkungan yang masih belum sepenuhnya teratasi.
Di tengah langkah-langkah kecil para siswa TK hari itu, harapan tentang masa depan Bali yang lebih hijau seolah ikut dititipkan menunggu untuk benar-benar tumbuh, tidak hanya sebagai edukasi, tetapi sebagai praktik bersama. BWN-04





























