Mangupura, baliwakenews.com
Kunjungan wisata bahari di kawasan Tanjung Benoa, Kuta Selatan, Badung, belum sepenuhnya kembali seperti capaian tahun 2024. Namun, di balik tren kunjungan yang cenderung stabil dan relatif menurun, pelaku usaha melihat adanya pergeseran pasar wisatawan yang membuka peluang baru bagi pengelola water sport.
Pengelola Pandawa Water Sport atau Wisata Bahari Tanjung Benoa, I Made Wijaya, mengungkapkan bahwa aktivitas water sport sempat mengalami peningkatan menjelang pergantian Tahun Baru 2026. Saat ini, jumlah kunjungan masih bertahan di kisaran rata-rata 250 orang per hari, meski secara keseluruhan belum menyamai periode yang sama tahun lalu.
“Sebelum tahun baru memang ada peningkatan dan sampai sekarang kunjungannya hampir sama. Kalau sudah merata sebenarnya cukup ramai, tapi dibandingkan tahun 2024 memang masih ada penurunan,” ujar Pengusaha yang juga Anggota Dewan Badung tersebut, Jumat (16/1/2025).
Menurut Pengusaha yang akrab disapa Yonda ini, penurunan paling signifikan terjadi pada pasar wisatawan Taiwan dan Jepang yang turun cukup drastis. Sementara itu, wisatawan Eropa relatif masih bertahan dibandingkan tahun sebelumnya. Di sisi lain, kunjungan wisatawan domestik juga mengalami penurunan.
“Yang menurun ini tamu Taiwan dan Jepang, itu drastis. Kalau wisatawan Eropa hampir sama. Domestik juga menurun,” jelas tokoh yang juga menjabat sebagai Bendesa Adat Tanjung Benoa ini.
Padahal, pada periode yang sama tahun 2024, kunjungan water sport Tanjung Benoa didominasi wisatawan domestik dengan rata-rata mencapai sekitar 350 orang per hari. Menariknya, kondisi saat ini justru menunjukkan perubahan komposisi wisatawan, di mana wisatawan mancanegara menjadi pasar dominan.
Yonda mencatat adanya lonjakan signifikan wisatawan asal India. Jika sebelumnya pangsa pasar India hanya sekitar 10 persen dan bahkan nyaris tidak terlihat, kini meningkat hingga sekitar 30 persen. Selain India, kunjungan juga didukung wisatawan dari Australia, Rusia, dan sejumlah negara lainnya.
Ia menilai, menurunnya kunjungan wisatawan domestik tidak lepas dari dampak kebijakan efisiensi pemerintah pusat yang berimbas pada berkurangnya agenda kegiatan kementerian maupun instansi di Bali. Kondisi tersebut turut mengurangi aktivitas outing atau kegiatan berbasis event yang sebelumnya cukup menopang kunjungan wisata.
“Kalau dulu agenda kementerian cukup banyak. Sekarang karena efisiensi, event berkurang. Sebenarnya bisa didorong dengan model libur kejepit atau outing pegawai. Kalau itu digencarkan, saya yakin kunjungan bisa ramai lagi,” ucapnya.
Selain faktor kebijakan, dia juga melihat tren wisatawan asing yang kini lebih menyebar ke berbagai destinasi lain di Bali dan sekitarnya, seperti Nusa Penida, sehingga tidak seluruhnya terpusat di Tanjung Benoa.
Meski demikian, Yonda tetap optimistis wisata bahari di Bali akan kembali bergairah. Menurutnya, kekuatan utama Bali terletak pada budaya, adat, dan keunikan lokal yang menjadi daya tarik utama wisatawan. Ditambah dengan upaya pemerintah dalam mengurai kemacetan, sektor pariwisata diyakini akan kembali tumbuh.
“Bali ini napasnya ada di budaya dan adat istiadat. Itu yang harus dijaga. Kalau persoalan kemacetan juga dibenahi, saya optimistis pariwisata Bali, termasuk wisata bahari, akan kembali meningkat,” pungkasnya. BWN-04





























