Denpasar, baliwakenews.com
Rabu siang itu, udara di Ungasan cukup terik. Jalan Melasti yang biasanya ramai kendaraan menuju kawasan wisata, tampak lengang di sela jam istirahat. Di sebuah gang kecil di wilayah itu, seorang bocah perempuan berusia lima tahun sebut saja AKW tengah bermain di sekitar rumahnya. Tak ada yang menyangka, siang yang biasa itu akan berubah menjadi hari paling menakutkan dalam hidupnya.
Beberapa jam kemudian, suasana di rumah keluarga AKW berubah tegang. Sang ibu, SR (29), mulai curiga ketika putrinya tampak murung dan enggan berbicara. Bocah itu juga mengeluh kesakitan. Dengan lembut, SR mencoba menenangkan, hingga akhirnya sang anak perlahan bercerita tentang sesuatu yang tak seharusnya dialami oleh seorang anak seusianya.
Malam harinya, SR memutuskan melapor ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polresta Denpasar. Laporan itu segera ditindaklanjuti. Polisi bergerak cepat ke lokasi, memeriksa tempat kejadian dan mengumpulkan keterangan dari sejumlah saksi.
“Korban sempat ketakutan dan merasa sakit. Setelah ditanya lebih jauh, barulah terungkap bahwa ada tindakan tidak pantas terhadapnya,” kata seorang sumber yang enggan disebutkan namanya, Kamis (13/11).
Kejadian di Tengah Lingkungan yang Dikenal
Warga sekitar masih tak percaya. Wilayah itu tergolong aman, dengan rumah-rumah yang saling berdekatan dan warga yang saling mengenal. Namun, dari penyelidikan awal, pelaku diduga orang yang sudah mengenal korban dan lingkungan sekitarnya.
“Ada dugaan pelaku sudah mengenal korban dan memanfaatkan momen ketika anak itu sendirian,” lanjut sumber tersebut.
Ungkapan itu membuat banyak warga semakin resah. Mereka mulai saling mengingatkan agar anak-anak tak dibiarkan bermain sendirian. Rasa takut kini menyelinap di tengah rutinitas yang biasanya tenang.
Trauma yang Tak Terlihat
Di rumahnya yang sederhana, AKW kini lebih banyak diam. Ia mudah terkejut ketika mendengar suara keras. Sesekali memeluk ibunya erat, seakan takut berpisah. Bagi seorang anak seusianya, pengalaman seperti ini bisa meninggalkan luka panjang tidak hanya di tubuh, tapi juga di jiwa.
Psikolog anak yang sering menangani kasus serupa menjelaskan bahwa trauma pada anak korban kekerasan seringkali muncul dalam bentuk perilaku tertutup, ketakutan berlebihan, atau gangguan tidur. Butuh waktu dan pendampingan agar anak bisa kembali merasa aman.
Sayangnya, tidak semua keluarga memiliki akses mudah ke layanan pemulihan psikologis. Di banyak kasus, keluarga korban hanya berharap pada dukungan moral dari tetangga dan penanganan hukum oleh aparat.
Langkah Polisi dan Harapan Warga
Hingga Kamis (13/11) siang, polisi masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap pelaku di balik kejadian ini. Kasi Humas Polresta Denpasar Kompol Ketut Sukadi saat dikonfirmasi mengatakan, pihaknya belum menerima laporan rinci dari penyidik.
“Belum dapat info,” ujarnya singkat.
Meski begitu, warga berharap polisi segera mengungkap siapa pelaku dan memberi hukuman seadil-adilnya. “Kasihan anak itu, masih kecil sudah harus mengalami hal seperti ini,” ucap salah satu warga, matanya memerah.
Kasus ini menjadi pengingat pahit bahwa bahaya bisa muncul bahkan di tempat yang kita anggap paling aman: lingkungan sendiri. Di tengah geliat pembangunan dan modernisasi kawasan selatan Bali, ada suara kecil yang kini butuh perlindungan lebih suara anak yang hanya ingin bermain tanpa rasa takut. BWN-01
Catatan redaksi:
Identitas korban, pelaku, dan keluarga disamarkan untuk melindungi privasi anak di bawah umur.

































