Tabanan, baliwakenews.com
Suasana tenang di salah satu SMP di Kabupaten Tabanan mendadak berubah sejak pertengahan Oktober lalu. Seorang siswa kelas VIII datang dengan wajah canggung, membawa kabar yang membuat wali kelasnya terdiam: ia menerima kiriman video bernuansa pornografi sesama jenis dari guru ekstrakurikuler Pramuka-nya sendiri.
Guru itu berinisial AEWP, sosok yang selama ini dikenal aktif melatih para siswa dalam kegiatan Pramuka dan sering membimbing mereka di luar jam sekolah. Namun di balik kedekatan itu, muncul dugaan penyalahgunaan kepercayaan. AEWP diduga mengirimkan video tak pantas melalui aplikasi WhatsApp dengan menggunakan fitur sekali lihat, sehingga jejaknya sulit dilacak.
Kasus ini kemudian mencuat ke publik setelah pihak sekolah menyampaikan laporan resmi kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Tabanan pada 14 Oktober 2025. Dinas pun langsung memanggil AEWP untuk dimintai klarifikasi. Dalam pertemuan itu, AEWP mengakui telah mengirimkan sejumlah video bernuansa pornografi sesama jenis kepada beberapa siswa.
“Setelah itu, atas permintaan orang tua siswa, pihak sekolah langsung menonaktifkan yang bersangkutan dari tugasnya sebagai pembina Pramuka,” ujar seorang sumber di lingkungan sekolah.
Langkah itu disusul pelaporan ke Polres Tabanan oleh perwakilan korban. Kasat Reskrim Polres Tabanan, AKP Made Teddy Satria Permana, membenarkan laporan tersebut.
“Laporan kami terima Senin, 20 Oktober 2025. Saat ini masih dalam proses penyelidikan. Guru yang dilaporkan masih berstatus terlapor,” ujar AKP Teddy, Senin (27/10).
Menurutnya, laporan diajukan oleh satu orang pelapor yang mewakili tiga korban dari dua sekolah berbeda di Kabupaten Tabanan. Namun, polisi menghadapi kesulitan teknis karena video yang dikirim AEWP menggunakan fitur “view once”.
“Kami kesulitan memastikan apakah video tersebut benar mengandung konten pornografi sesama jenis atau tidak,” tambahnya.
Dari hasil penelusuran, AEWP ternyata tidak terdaftar sebagai guru di Dinas Pendidikan Kabupaten Tabanan. Ia hanya tercatat sebagai guru tidak tetap di salah satu SD swasta di wilayah yang sama.
Kini, kasus ini menjadi perbincangan hangat di kalangan guru dan orang tua. Banyak yang merasa prihatin, terutama karena dugaan pelanggaran dilakukan oleh seseorang yang seharusnya menjadi panutan.
Meski proses hukum masih berjalan, pihak sekolah berupaya menenangkan para siswa dan menjamin suasana belajar tetap kondusif. “Kami fokus pada pemulihan psikologis anak-anak. Ini ujian bagi kami semua,” kata salah satu guru.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa kepercayaan antara guru dan murid adalah ruang yang suci, yang harus dijaga dari penyalahgunaan sekecil apa pun. Sementara itu, pihak kepolisian memastikan akan mengusut tuntas dugaan pelanggaran ini untuk memberi rasa aman bagi dunia pendidikan di Tabanan. BWN-01


































