Mangupura, baliwakenews.com
Pagi itu, matahari baru saja menembus garis horizon, memantulkan cahaya keemasan di permukaan laut Tanjung Benoa. Di tepi pantai, pekerja wisata bahari telah bersiap menyambut tamu, sementara deretan bus pariwisata mulai berbaris di Jalan Pratama. Suara mesin diesel, klakson bersahutan, dan aroma knalpot bercampur dengan wangi asin laut. Di balik kaca-kaca jendela, wisatawan menatap keluar, sebagian tak sabar, sebagian pasrah.
Di sinilah nadi Tanjung Benoa berdenyut, di jalan yang sama, di jalur yang sama, setiap hari. Jalan Pratama, satu-satunya akses darat menuju kawasan ini, telah lama menjadi urat utama yang rapuh. Sekali terhenti, seluruh kehidupan tersendat.
Bagi warga, kenangan akan kemacetan parah di Agustus 2023 masih segar. Saat itu, sebuah event maraton di salah satu hotel membuat arus lalu lintas berhenti total selama berjam-jam. Anak-anak terlambat sekolah, pekerja tak bisa masuk tepat waktu, dan wisatawan terpaksa menunggu tanpa kepastian. Tidak ada jalur alternatif,semua terkunci di Jalan Pratama.
Karena itu, saat Rapat Koordinasi Penyusunan Detail Engineering Design (DED) Konservasi Teluk Benoa digelar di Kantor Lurah Benoa, Selasa (12/8/2025), pembahasan tiba-tiba mengarah ke sebuah ide lama yang tak pernah padam, pembangunan Jalan Lingkar Barat. Bendesa Adat Tanjung Benoa, I Made Wijaya, suaranya mantap namun sarat kegelisahan.
“Perhatikanlah ini dan jadikan skala prioritas. Jangan sampai DED yang disusun hanya menghabiskan anggaran tanpa tindak lanjut,” katanya, seakan menegaskan bahwa ini bukan sekadar proyek, tapi kebutuhan mendesak.
Dukungan datang beruntun. Bendesa Adat Tengkulung, I Gede Eka Surawan, menilai jalan ini akan menjadi “jalan napas” bagi warganya. Sementara Bendesa Bualu, I Made Mudita, menginginkan jalur tersebut membentang hingga desanya.
“Dengan begitu, baik dari Tanjung Benoa maupun Tengkulung bisa langsung direct, tidak harus lewat Jalan Pratama,” ujarnya, matanya berbinar membayangkan kelancaran yang selama ini hanya ada dalam harapan.
Bagi tiga desa adat ini, Jalan Lingkar Barat bukan hanya garis aspal di peta. Ia adalah janji kebebasan dari macet, peluang ekonomi yang mengalir tanpa hambatan, dan waktu yang kembali ke tangan warga.
Namun, seperti ombak yang datang dan pergi, rencana ini sudah beberapa kali muncul lalu menghilang. Kini, pertanyaannya menggantung di udara: akankah kali ini menjadi nyata, atau lagi-lagi sekadar cerita yang dibicarakan di ruang rapat dan dilupakan saat pintu ditutup? BWN-04


































