Dua Petugas Imigrasi Bali Terlibat dengan Komplotan Kriminal Internasional

Iklan Home Page

Denpasar, baliwakenews.com – Malam di Jimbaran biasanya menyuguhkan suara ombak dan aroma sate lilit. Tapi pada 10 Juli 2025, suasana berubah tegang, seorang warga negara Rusia, inisial RS (42), disambut bukan oleh angin laut, melainkan oleh lakban di leher dan tinju di hidung.

Aparat Polda Bali akhirnya mengungkap skenario aksi kejahatan terorganisir yang tak kalah rumit dari plot serial kriminal Netflix. Dalam episode kali ini, peran antagonis dimainkan oleh dua warga Rusia the usual suspects dan dua WNI yang diduga nyambi jadi “imigrasi cosplay”.

Kapolda Bali Irjen Pol Daniel Adityajaya, dalam konferensi pers pada Jumat (1/8), tampil seperti host acara investigasi. Ia mengungkapkan dua pelaku WNA, Iurii Vitchenko (30) dan Ilia Shkutov (32), ditengarai sebagai bagian dari jaringan kriminal asal Rusia yang sepertinya lupa bahwa Bali bukan Siberia. Adapun dua WNI yang turut diamankan, Ernest Ezmail dan Yopita Barinda Putri, disebut-sebut sebagai staf imigrasi. Tentu, staf versi yang tidak tertera di organigram resmi Kemenkumham.

Baca Juga:  Sweeping Tempat Hiburan Malam, BNNP Tangkap Seorang Satpam yang Bawa Puluhan Ekstasi

Cerita bermula ketika RS baru saja tiba di rumahnya pukul 23.30 WITA. Ia menyalakan lampu, berharap melihat tanaman hias atau sofa empuk. Yang ada, beberapa pria asing sudah nongkrong di ruang tamu. Bukan untuk ngobrol atau ngopi, tapi langsung menjebak lehernya dengan lakban dan menghajarnya sampai mimisan. Romantis sekali.

Untungnya, drama berdarah ini dihentikan setelah mereka sadar RS bukan target utama. Tapi, tenang saja, masih ada plot twist: dua sosok berpakaian “mirip imigrasi” datang menginterogasi RS, memaksa membuka ponsel, mengambil foto paspor, dan tentu karena ini kejahatan berkelas memaksa pengakuan tentang uang USD 150.000 milik seseorang berinisial R.

Baca Juga:  Seorang Pemuda Dikeroyok di Lapangan Puputan Badung, Para Pelaku Lempari Korban dengan Batu  

“Kalau tidak ngaku, ancamannya deportasi, penjara, bahkan pembunuhan,” ujar Kapolda. Tentu, karena ancaman pajak atau tilang tidak cukup menakutkan untuk genre ini.

Seperti film detektif yang baik, rekaman CCTV jadi penyelamat. Mobil pelaku terekam kamera saat menyeberang ke Pelabuhan Lembar, NTB. Polisi berkoordinasi dengan tim Jatanras Polda NTB, dan voilà, dua pelaku ditangkap sedang makan santai di restoran kawasan Mandalika.

Beberapa hari kemudian, dua oknum WNI diciduk di tempat terpisah. Dengan demikian, cast utama lengkap sudah. Meski ada satu aktor pendukung yang masih buron, GG, warga Rusia, yang diduga sutradara dari kisah kriminal ini.

Menurut Kapolda, jaringan ini bukan sekadar geng berandalan. Mereka diduga terlibat dalam banyak lini bisnis bawah tanah, pemerasan, narkoba, prostitusi WNA, dan pencucian uang lewat crypto. Tampaknya, mereka sangat memahami prinsip diversifikasi portofolio.

Baca Juga:  Sekda Badung dan Ketua DPRD Ikuti Apel HUT Ke-80 Bhayangkara, Perkuat Sinergi Jaga Keamanan Daerah

“Ini bukan kejahatan biasa,” tegas Irjen Daniel. Ya, tentu saja tidak. Apalagi ketika para pelaku bisa mengubah ruang tamu warga menjadi ruang interogasi, dan crypto wallet menjadi ATM berjalan.

Kini, para tersangka mendekam di tahanan. Mereka dijerat dengan Pasal 170 dan/atau Pasal 351 KUHP, ditambah Pasal 55 dan 56 tentang pengeroyokan dan penganiayaan. Tapi tunggu dulu, penulis skenario belum menutup naskah. Pasal-pasal tambahan masih bisa ditambahkan seiring naiknya rating kasus ini.

Dan kita semua, penonton setia Bali yang damai, hanya bisa berharap: semoga ke depan, staf imigrasi kita tidak terlalu “berinisiatif” dan warga asing datang untuk liburan, bukan lakbanan. BWN-07

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -Iklan Galungan DPRD BadungIklan Galungan Pemkab BadungIklan Galungan PDAM BadungIklan Galungan DPRD Provinsi Bali Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR