Mataram, baliwakenews.com
Masalah sampah masih menjadi tantangan serius di Bali. Untuk memperkaya wawasan dan mencari solusi pengelolaan yang efektif, Sekretariat DPRD Provinsi Bali melakukan studi banding ke TPST Sandubaya, Kota Mataram, Rabu (16/7).
TPST Sandubaya dikenal berhasil mengolah sampah organik menjadi Magot dan sampah plastik menjadi paving block. Menurut Kabid Pengelolaan Persampahan DLH Kota Mataram, Vidi Partisan, pengelolaan dilakukan tanpa melibatkan pihak ketiga. “Kami produksi 100 kg Magot per hari dan plastik kresek diolah jadi paving block,” ujarnya.
Kepala Bagian Umum Sekretariat DPRD Bali, I Kadek Suantara, menekankan pentingnya peran masyarakat. “Bali sudah punya regulasi, tapi perlu penguatan dari tingkat rumah tangga. Kunjungan ini untuk sharing knowledge, agar bisa jadi referensi dan bahan kajian di Bali,” ujarnya.
Sementara itu, Salikin, Kepala UPT DLH Kota Mataram, menyebutkan bahwa dari 200 ton sampah harian, 24,6 ton diolah menjadi Magot dan kompos. Magot dijual seharga Rp. 6.000 per kg. Pengelolaan dilakukan secara bersih dan langsung habis tiap hari untuk menghindari bau. BWN-09

































