I K. Eriadi Ariana
PADA peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 5 Juni 2025 lalu, Green Studi Adventure–sebuah komunitas pecinta alam–mengundang saya sebagai pemantik diskusi bertajuk “Kenal dan Lestarikan Majegau”. Forum itu membicarakan satu flora penting yang menjadi identitas Provinsi Bali: majegau [majagawu].
Diskusi sore di seputaran Kuta, Badung, tersebut dihadiri para pecinta alam dari berbagai kalangan. Saya mendapat tugas membicarakan majegau dari sisi sastra tradisional. Pemantik lainnya adalah seorang penggiat lingkungan bernama Duta Dharma. Ia berbagi tentang pengalamannya membudidayakan majegau secara swadaya.
Duta Dharma adalah sarjana kehutanan jebolan Universitas Gadjah Mada yang telah lama “menanamkan” diri dalam upaya budidaya majegau. Aktivisme berkaitan dengan majegau telah dilakoni Duta sedari mahasiswa. Bahkan, skripsinya terkait tanaman yang kian langka ini. Pembibitan majegau secara swadaya dilakukan di Singaraja selama beberapa tahun terakhir. Sebuah upaya panjang dan tentu saja tidak mudah.
Duta menjelaskan, meskipun memiliki nilai tinggi secara spiritual, nilai ekonomi majegau tergolong rendah. Apabila dibandingkan jenis pohon lainnya, kecepatan tumbuh majegau sangat lambat. Pemanfaatan kayunya pun terbatas. Hal ini menyebabkan nyaris tidak ada orang yang membudidayakannya.
Selama bertahun-tahun, Duta membudidayakan majegau dari hal-hal paling mendasar. Sebagai tanaman yang tidak tumbuh di sembarang tempat, langkah pertama yang dilakukan adalah memetakan tempat tumbuhnya. Setelah mengetahui habitat tumbuh majegau, langkah selanjutnya adalah memantau masa berbunga, berbuah, hingga menghasilkan biji siap semai.
Biji yang siap semai belum tentu bisa tumbuh, terlebih jika media tanamnya yang tidak tepat. Maka dari itu, ia harus mencari formula pembibitan yang paling baik. Pada fase ini, Duta mengaku telah gagal berkali-kali.
Lolos dari berbagai kendala pembibitan, hambatan selanjutnya adalah mencari tempat tanam yang tepat. Ia beberapa kali membagikan bibit ke koleganya sesama pecinta alam. Sisanya ia tanam di beberapa tempat, utamanya gunung-gunung yang secara habitat cocok untuk majegau. Namun, lagi-lagi keberhasilan tumbuhnya sangat rendah. Meski demikian, ia tidak pernah menyerah.
Apa yang dikerjakan Duta bagi saya adalah sebuah langkah yang pantas diapresiasi. Apa yang dilakukannya bukan sekadar gincu aktivisme untuk sekadar viral. Budidaya yang dilakukannya adalah jalan sepi bedasar atas satu motif: kecintaan pada flora yang memiliki posisi sangat penting bagi ekosistem dan kebudayaan Bali.
Majegau dalam Dunia Rohani Bali
Majegau dalam kultur orang Bali sejatinya bukan tanaman yang asing. Tumbuhan dengan nama ilmiah Dysoxylum densiflorum ini masuk famili Meliaceae yang masih berkerabat dengan pohon suren (Bali: saren), mahoni, duku (Bali: ceroring), dan kecapi (Bali: sentul). Selain di kepulauan Nusantara, majegau ditemukan di beberapa tempat di Asia Tenggara seperti Myanmar, Thailand, dan Semenanjung Malaysia.
Kata cempaga di dalam bahasa Bali yang lebih arkais acapkali disepadankan dengan majegau. Oleh karena itu, sejumlah desa yang bernama cempaga diduga terikat dengan eksistensi tanaman ini di kawasan tersebut. Gejala toponimi yang didasarkan pada tumbuhan memang menjadi situasi umum di Bali.
Pohon majegau dalam dunia rohani orang Bali dianggap sebagai salah satu pohon “kelas tinggi”. Majegau diyakini sebagai pohon suci yang bermanfaat untuk mendukung laku spiritual orang Bali hingga dunia medis sebagaimana disampaikan Taru Pramana.
Menurut Kusuma Dewa, kayu majagau adalah salah satu bahan kukus arum ‘asap harum’ untuk memohon para dewa berkenan turun dari kahyangan menuju ke tempat suci pelaksanaan ritual. Campuran asap majegau yang dibakar bersama cendana dan menyan akan menghadirkan spirit Siwa, Sadhasiwa, dan Paramasiwa ke altar pemujaan (tumurun maka pangundang Bhatara Gangga, malejeg amoring kukus, menyan, majagawu, mwang candhana kang Siwa mwang Sadhasiwa Paramasiwa).
Selain cendana dan cempaka putih, majegau merupakan kayu yang dibenarkan sebagai media membuat pratima (arca perwujudan dewa-dewi), pralingga (perwujudan wahana dewa-dewia), maupun palinggih (bangunan suci). Teks Aji Janantaka adalah sastra yang melegalisasi narasi ini.
Aji Janantaka merupakan teks tutur yang menjelaskan asal mula, kegunaan, fungsi, dan manfaat berbagai spesies pepohonan. Adapun majagau (di dalam teks ditulis majagawu) digolongkan sebagai salah satu kayu merik (pohon harum) pewujudan salah satu Hyang Siwatiga (Tri Purusa).
Menurut konsep ini, majegau adalah perwujudan dari Hyang Sadasiwa. Sementara itu, cendana perwujudan Hyang Paramasiwa (perwujudan esensi Siwa tertinggi) dan cempaka putih perwujudan Hyang Siwajati. Ketiganya merupakan energi hidup dari seluruh bangsa pohon, yang menjadi inti dari bayu ‘spirit hidup’, sabda ‘suara’, dan idep ‘pikiran’.
Aji Janantaka juga menjelaskan kosakata penyusun nama pohon majagawu. Menurut teks, majagawu disusun oleh tiga frasem yakni maja, ga, dan wu. Maja artinya bayu ‘energi hidup’; ga adalah sarira ‘tubuh’; sedangkan wu disebut Brahma (tegesing taru majagawu, lwirnya, maja ngaran bayu, ga ngaran sarira, wu ngaran Brahma). Meskipun demikian, tidak dijelaskan lebih lanjut dasar pemaknaan ketiga frase tersebut.
Teks-teks Siwaisme–seperti Bhuwana Kosa, Wrehaspatipati Tattwa, Sanghyang Tattwajnyana, dan Jnana Sidhanta–menjelaskan Tri Purusa sebagai semacam lapisan “kepribadian” Tuhan (Siwa). Tri Purusa terdiri atas Siwa (Siwatma), Sadasiwa, dan Paramasiwa.
Siwa adalah entitas Tuhan yang mendapat pengaruh unsur prakrti ‘watak; karakter’ paling banyak. Sadasiwa merupakan entitas Tuhan yang sedikit terpengaruh prakrti (Saguna Brahman). Oleh karena itu, Sadhasiwa memiliki kuasa bernama cadusakti ‘empat kuasa’ yang terdiri atas wibhusakti, prabhusakti, jnanasakti, dan kriyasakti. Sementara itu, Paramasiwa adalah kepribadian paling murni dari Tuhan (Nirguna Brahman) yang tidak terpengaruh prakrti. Entitas Paramasiwa terbebas dari karakter, sehingga tidak terjelaskan dan terpikirkan oleh manusia.
Majegau dan Manusia Bali
Pertautan konsep Sadhasiwa dan majagau mengindikasikan makna mendalam tanaman ini di ruang batin manusia Bali. Majegau tidak hanya dipandang sebagai pohon secara fisik, tetapi juga mercusuar dari sifat-sifat Sadhasiwa. Kuasa cadhusakti dari Sadhasiwa inilah yang acapkali dipentingkan oleh penekun spiritual untuk mempertebal keyakinan terhadap kuasa Tuhan di alam semesta.
Apabila diturunkan ke dalam situasi kekinian, pertautan majegau dengan konsep Sadhasiwa menjadi refleksi penting dalam mengelola alam fisik maupun rohani orang Bali. Majegau menjadi pengingat kita dalam membaca situasi Pulau Bali kontemporer.
Majegau yang kian langka mungkin simbol manusia Bali yang kian terhimpit di tengah narasi keindahan pulaunya sebagai surga terakhir. Majegau mungkin juga cermin orang Bali yang semakin berjarak dengan kearifan dan dunia leluhur di tengah globalisasi yang menggandeng modernitas dan kencangnya topan kapital.
Apakah majegau dan kita telah kehilangan daya dan kesempatan? Saya rasa tidak.
Apabila orang Bali adalah pohon majegau, maka ia adalah Sadhasiwa yang secara alami memendam karater cadhusakti. “Sifat-sifat Siwa” itu sekiranya sepadan dengan kemapanan kognitif, emosional, dan kultural yang harus terus dilatih untuk mencapai karakter manusia unggul. Oleh Ida Pedanda Made Sidemen, upaya itu dirangkai dalam deretan kalimat indah, “karang awake tandurin”.

































