Denpasar, baliwakenews.com
Oleh I K. Eriadi Ariana
ORANG Bali menempatan pendidikan dan ilmu pengetahuan sebagai dua hal yang sangat penting dalam kehidupan fisik dan spiritual. Dalam peristilahan tetua-tetua Bali, pengetahuan sering kali diidentikkan sebagai pelita yang akan menyinari temaram gua kehidupan.
Pemerolehan dan penguasaan pengetahuan maupun keahlian bukan semata-mata dipandang sebagai hasil akhir proses kognitif manusia sebagaimana teori para pakar evolusi modern. Pengetahuan dan keahlian diyakini bersifat kudus, yang hanya akan didapat melalui proses mengalami terus-menerus dan atas seizin entitas suci Yang Mahatahu: Pencipta Semesta.
Seorang yang telah menguasai suatu pengetahuan atau keahlian dianggap orang yang terpilih dan layak secara spiritual menguasai kecakapan tersebut. Situasi ini umum dikenal dengan istilah katakson, yakni situasi kala seorang telah mendapat anugerah spirit keahlian (taksu).
Narasi tentang penurunan ilmu pengetahuan dan keahlian oleh entitas-entitas kudus itu dapat diperiksa dalam sejumlah susastra warisan leluhur Bali. Tiga di antaranya adalah Tantu Panggelaran, Babad Kayuselem, dan Kakawin Purwaning Gunung Agung.
Tantu Panggelaran merupakan susastra yang diduga ditulis pada era Majapahit akhir di Jawa Timur. Teks ini kental bersifat Siwaistis. Kisahnya bergulat pada entitas Bhatara Guru (sahasranama Bhatara Siwa) yang mengupayakan ketentraman lahir-batin Pulau Jawa.
Konon, pada suatu masa Bhatara Guru kasihan melihat Pulau Jawa yang labil. Oleh karena itu, para dewa dikumpulkan dan disepakati bahwa mereka akan mengupayakan mega proyek pemindahan puncak Gunung Mahameru di Jambudwipa.
Setelah semua dewa bersepakat, proyek besar itu pun dimulai. Gunung Mahameru di Jambudwipa dipotong seperti memotong puncak tumpeng selamatan. Puncak itu kemudian diterbangkan ke Pulau Jawa dan menjadi sejumlah gunung. Gunung yang terbesar dan merupakan puncak tertinggi dari potongan Gunung Mahameru adalah Gunung Semeru. Pulau Jawa pun mulai stabil.
Setelah beberapa waktu, makhluk hidup mulai menempati Pulau Jawa. Salah satunya adalah manusia. Namun, di sana Bhatara Guru kembali gundah. Rapat besar bersama para dewa kembali dilakukan. Rapat membahas bagaimana cara menjamin kehidupan manusia yang kian bertambah. Dalam rapat tersebut beberapa dewa akhirnya ditugaskan untuk mengajarkan keahlian-keahlian untuk bangsa manusia.
Perintah pertama diberikan kepada Hyang Brahma. Brahma diperintahkan untuk turun ke Pulau Jawa untuk membuat berbagai macam peralatan bertahan hidup. Alat-alat itu antara lain senjata, parang, tatah, pasak, beliung, dan sebagainya. Alat-alat itu ditempa dari besi dengan teknik menjepit menggunakan kedua jempol kaki. Setelah dijepit, besi dipukul-pukul hingga menjadi senjata. Tempat membuat alat-alat itu bernama Winduprakasa dan dikenal sebagai Mpu Sujiwana atau sang pande wsi. Julukan ini menurun pada pengikut ajaran mengolah logamnya.
Setelah menugaskan Brahma, Bhatara Guru kemudian memberi tugas Hyang Wiswakarma. Arsitek para dewa ini diperintahkan untuk turun ke Pulau Jawa dan mengajarkan manusia membuat rumah. Jika manusia telah cakap membuat rumah, maka kemungkinan mereka untuk bertahan hidup dan membangun peradaban akan lebih besar.
Perintah tersebut dilaksanakan dengan penuh ketaatan oleh Hyang Wiswakarma. Sejak saat itu, Wiswakarma dan manusia-manusia dengan keahlian arsitektur itu mendapat julukan undagi. Permukiman pertama yang dibuat Wiswakarma diberi nama Medang Kamulan.
Hyang Iswara mendapat perintah selanjutnya. Bhatara Guru memerintahkannya mengajarkan manusia bertutur kata. Manusia diharapkan bisa bertutur kata yang baik. Pemahaman akan bahasa akan membuat manusia Jawa memahami etiknya sebagai manusia. Perihal etika, Iswara kemudian mengajarkan konsep dasasila dan pancasiksa. Oleh karena itu, Iswara dikenal sebagai Guru Desa.
Hyang Wisnu diperintahkan turun ke Jawadwipa untuk menjadi teladan manusia. Perkataan dan perilaku Hyang Wisnu akan dicontoh. Hyang Wisnu menjadi guru dan pemimpin bagi manusia Jawa dengan nama Hyang Kandawan. Bersama Bhatari Sri, Wisnu juga mengajarkan manusia berpakaian.
Keahlian-keahlian lain terus diturunkan oleh Bhatara Guru. Agar manusia mengenal mode, Hyang Mahadewa pun ditugaskan turun ke dunia. Atas keahliannya membuat pakaian dan perhiasan, sejak saat itu sang dewa disebut pande mas. Manusia jadi paham mode berpakaian dan mengenakan perhiasan yang menarik.
Agar kehidupan manusia Jawa semakin berwarna, Bhagawan Ciptagupta ditugaskan mengajarkan seni. Orang-orang diajarkan membuat beragam warna dan melukiskan imajinasinya menjadi visual yang estetik. Sebagai pelukis, Bhagawan Ciptagupta dikenal sebagai Mpu Ciptangkara.
Selanjutnya, Babad Kayuselem menjelaskan keahlian-keahlian dewata yang diturunkan kepada manusia Bali. Keahlian pertama yang diajarkan kepada manusia Bali adalah teknik bercocok tanam. Pengetahuan atas ilmu pertanian membuat orang Bali yang terus beranak-pinak tidak kelaparan.
Pada suatu masa, Bhatara Brahma mengundang Bhagawan Wiswakarma untuk datang ke Tampurhyang, sebuah tempat di Kaldera Batur. Wiswakarma diperintahkan untuk memahat sebatang pohon asam agar menyerupai manusia. Tugas itu dilakukan dengan baik, yang membuat orang Bali takjub.
Lantaran kecakapan Wiswakarma dalam mengukir batang kayu menjadi arca yang sangat mirip manusia, maka manusia Bali tertarik pada keahlian itu. Mulailah orang Bali belajar mengukir. Keahlian mengukir itu disebut kaundagian. Orang yang belajar dan menekuni ilmu tersebut disebut undagi.
Masih di Tampurhyang, Babad Kayuselem menjelaskan turunnya Sang Hyang Indra untuk melakukan kerja-kerja sangging. Indra turun sebagai sangging prabangkara untuk mempercantik arca yang sebelumnya telah dibuat Bhagawan Wiswakarma. Orang Bali kembali terpesona dengan keahlian Indra. ,Mereka memohon diajarkan keahlian itu, maka kini ada sekelompok manusia yang berprofesi sebagai sangging.
Selanjutnya, para widyadari diperintahkan turun untuk berjualan keris dan kain. Arca berbahan kayu asam itu pun dihias beragam kain. Manusia Bali kembali meniru laku widyadari, sehingga mereka pandai berbusana.
Konon setelah peristiwa itu, arca yang diukir dari pangkal kayu asam tersebut benar-benar menyerupai manusia. Orang-orang menjadikannya tontonan siang malam. Dewa pun takjub sehingga dikumandangkan japa-mantra pada arca itu hingga berubah menjadi seorang manusia sungguhan. Setelah menjadi manusia ia diajarkan bertutur kata, bersolek, dan berbusana.
Ketika Mpu Mahameru tiba di Tampurhyang, manusia yang berasal dari pangkal kayu itu diterima sebagai murid. Ia diberikan ajaran ketuhanan yang utama. Atas kecakapannya pada ilmu rohani, sang manusia pangkal kayu asam diwisuda menjadi Bujangga Bali.
Pustaka Kakawin Purwaning Gunung Agung menegaskan kemuliaan ilmu pertanian sebagai anugerah para dewa bagi orang Bali. Kakawin yang diduga sebagai buah pikir Pengarang Besar Bali Abad ke-21, Ida Pedanda Made Sidemen, itu mewartakan bahwa pengetahuan membuat sawah pertama kali diajarkan oleh Sang Hyang Trimurti.
Kakawin Purwaning Gunung Agung menceritakan, Bhatara Brahma dan Bhatara Wisnu telah mengupayakan penciptaan makhluk hidup di Pulau Bali. Manusia, binatang, burung, naga, hingga cacing diciptakan dengan mengepal tanah hutan-gunung. Tanah hutan-gunung itu diberi japa mantra. Kuasa kosmis dari kedua dewa akhirnya berhasil melahirkan beragam makhluk hidup untuk menjaga keseimbangan ekosistem Balidwipa.
Seiring berjalannya waktu populasi manusia kian bertambah, asupan makanan pun menyusut. Para dewa paham, lahan di Bali sangat sempit, sehingga perlu diberikan pemahaman tata kelola lahan yang efektif. Saat itu hadirlah Sang Hyang Trimurti mengajari manusia untuk mengelola alam secara berkelanjutan dengan membangun sawah serta menata permukiman. Keahlian itu diajarkan selama setahun, sepanjang siklus hidup padi. Setelah menguasai teknik persawahan, manusia Bali tidak lagi kelaparan.
Narasi Kakawin Purwaning Gunung Agung menarasikan momentum penting kelahiran sistem subak di Bali. Teks memberi kita pengertian betapa pentingnya tata kelola lanskap Pulau Bali. Pada saat yang sama, kita diajak untuk memahami mengapa orang Bali begitu menghormati sawah dan padi.
Kakawin Purwaning Gunung Agung menegaskan bahwa ilmu pertanian, khususnya sawah, adalah ajaran yang diturunkan langsung oleh para dewa. Pengetahuan atas pertanian sama dengan ajaran agama. Tidak boleh diabaikan, apalagi ditinggalkan. Mengabaikan perintah dewa sama dengan durhaka pada semesta.
Melalui konsep tersebut, tidak berlebihan jika siklus pertanian orang Bali identik dengan pelaksanaan ritus. Ritus pertanian ada dan diadakan sebagai cara manusia Bali untuk berkomunikasi dengan para dewa dan alam dalam menjaga keseimbangan kehidupan.
Berdasarkan tiga penjelasan teks di atas, kita bisa sedikit mengerti bagaimana orang Bali menempatkan ilmu pengetahuan dan keahlian dalam semesta pemikirannya. Pengetahuan dipandang sebagai spirit kudus yang mulia dan membebaskan.

































