Jakarta, baliwakenews.com – Istilah “brain rot” kian populer di kalangan pengguna media sosial, terutama generasi muda. Istilah ini merujuk pada kondisi ketika seseorang merasa otaknya “rusak” atau mengalami penurunan fungsi akibat terlalu sering mengonsumsi konten digital yang dangkal dan berulang.
Meski bukan istilah medis, “brain rot” banyak digunakan secara informal untuk menggambarkan efek negatif dari paparan konten pendek yang tidak memberikan nilai informatif atau edukatif. Jenis konten tersebut umumnya ditemukan di platform seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts.
Fenomena ini ditandai dengan menurunnya konsentrasi, kesulitan berpikir mendalam, hingga kecanduan scrolling berjam-jam tanpa tujuan. Psikolog menyebut perilaku ini dapat mengganggu kesehatan mental dan kognitif jika dibiarkan dalam jangka panjang.
“Secara tidak langsung, konsumsi konten semacam itu dapat menurunkan kapasitas otak untuk fokus dan menganalisis informasi secara kritis,” kata salah satu psikolog klinis dari Jakarta.
Para ahli menyarankan agar pengguna media sosial membatasi waktu layar dan lebih selektif dalam memilih konten yang dikonsumsi demi menjaga kesehatan mental dan kemampuan berpikir. BWN-01

































