Singaraja, baliwakenews. com
Dewan Perwakilan Rakyat Darrah (DPRD) Kabupaten Buleleng meminta masalah siswa belum bisa membaca ini, harus bisa diselesaikan tiga bulan. Sehingga sebelum kelulusan siswa pada Juni 2025 mendatang, mereka sudah lancar dalam membaca.
Hal tersebut disampaikan Ketua DPRD Kabupaten Buleleng, Ketut Ngurah Arya. Ia meminta sekolah mengkhususkan ratusan anak tersebut untuk belajar membaca, menulis dan berhitung. Dengan demikian, ia meyakini masalah ini akan cepat diselesaikan.
“Tidak perlu dengan membenahi dengan pelajaran lainnya, sehingga bulan agustus kita semua merdeka. Tidak ada lagi anak-anak melek baca, ini sudah kesepakatan kita bersama saat ini,” ucapnya, usai rapat dengar pendapat, Senin 5 Mei 2025 di Kantor DPRD Buleleng, Kota Singaraja.
Sementara itu Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disikpora) Putu Ariadi Priadi menyebut, keputusan untuk menaikan dan meluluskan siswa sepenuhnya menjadi kewenangan sekolah. Guru bisa tidak menaikkan siswanya, jika dirasa mereka belum mampu.
Ariadi mengatakan, selama ini tidak ada peraturan atau surat edaran yang mewajibkan sekolah menaikan dan meluluskan siswanya. Pihaknya pun meminta, agar sekolah memberikan penilaian siswa secara objektif.
“Kalau belum bisa baca dan menulis harus dipertimbangkan. Tidak ada surat edaran (harus meluluskan). Karena ini ketentuan dan ada di undang-undang bukan hal baru satuan pendidikan harus memahami saja,” kata dia.
Ariadi menyebut, pendampingan kepada 375 siswa belum mampu membaca, pemerintah dibantu oleh tim dari Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Undiksha sudah mulai turun untuk mendampingi siswa di 60 SMP di Buleleng. Dalam pendampingan tersebut, setiap siswa akan didampingi oleh satu mahasiswa dan satu sekolah satu dosen.
“Ini dilakukan screening berdasarkan metode yang disampaikan oleh FIP. Untuk mengetahui kondisi fisik dan psikis. Setelah itu diketahui, akan dibahas metode untuk mendampingi siswa. Paling lama lima hari sudah ada hasil,” sambung dia.
Selain screening, pemerintah juga akan melakukan tes psikologi terhadap ratusan siswa SMP tersebut. Hal ini untuk mengetahui, kondisi psikologis siswa terutama tingkat kecerdasan dari siswa tersebut. Penanganan masalah ini pun, ditargetkan bisa selesai dalam satu bulan.
“Tanggal 7 Mei ini akan diasesmen oleh konselor psikologi, di SMP 1 Singaraja. Ini untuk mengetahui psikis siswa, baik dari tingkat kecerdasannya supaya diketahui,” ucap Ariadi.
Tak hanya di siswa di tingkat SMP, sebanyak 842 siswa di Sekolah Dasar (SD) juga ditemukan belum mampu membaca, menulis dan berhitung. Disdik pun akan melakukan metode yang sama untuk melakukan screening terhadap ratusan siswa. Diman screening yang dilakukan dengan dibantu oleh mahasiswa.
“Penanganan di SD di screening tangga 9 Mei 2025 ini. Setelah itu baru tau kondisi anak-anak ini. Ini harus diketahui penyebabnya,” tutup Ariadi. BWN-03

































