Oleh: I K. Eriadi Ariana*
Takdir manusia hidup di darat, tetapi tidak dapat memutuskan hubungannya dengan laut. Kesadaran atas pentingnya laut itu diwariskan tetua Bali melalui konsep sagara-giri ‘laut-gunung’. Pada kedua ekosistem inilah orang Bali memohon kehidupan, ruwatan, pun pengampunan atas segala kekeliruan dan dosa.
Leluhur Bali telah mewanti-wanti agar keturunannya arif menata ruang hidup, termasuk laur. Pengelolaan lingkungan wajib berlandas pada etik lingkungan. Nilai-nilai itu bisa ditemui dalam beragam model simbolik kultural orang Bali, misalnya dalam ritual, adat-istiadat, tradisi lisan, pun dalam susastra tertulis.
Kakawin Ramayana adalah salah satu piranti etis yang diwariskan ke kita. Susastra ini dititipkan leluhur Nusantara dari berabad-abad lampau. Para pakar di bidang sastra Jawa Kuno meyakini Kakawin Ramayana ditulis pada masa Kerajaan Medang (Mataram Kuno), yakni pada kisaran abad ke-9 Masehi.
Apabila Kakawin Ramayana benar ditulis pada masa Mataram Kuno, maka dinasti ini telah mewariskan dua karya budaya yang kaya nilai. Pertama adalah kompleks candi-candi besar seperti Prambanan dan Borobudur. Kedua adalah susastra tidak lekang zaman semacam Kakawin Ramayana. Dua wujud tinggalan ini membuktikan bahwa rakyat tidak cukup hanya diwariskan infrastruktur fisik, tetapi juga infrastruktur mental-spiritual. Negara tidak cukup mengupayakan akses jalan mulus atau perut rakyat yang kenyang, tetapi juga wajib mengawal kesejahteraan akal budi rakyatnya.
Gelap Pikir Rama
Ada narasi menarik nan penting yang diwariskan Kakawin Rayamana terkait tata kelola laut kita. Mari kita periksa sargah (bab) ke-15 Kakawin Ramayana. Sargah tersebut menceritakan Rama yang telah beraliansi dengan Sugriwa untuk mencari keberadaan Sita.
Setelah mengumpulkan semua informasi tentang Sita, pasukan kera mengetahui bahwa putri Raja Janaka itu telah diculik oleh Rawana. Ksatria unggul bangsa kera, Hanuman, telah diutus menuju negeri para raksasa untuk memastikan berita tersebut. Hasilnya, Sita memang diculik Rawana dan kini tengah ditempatkan di Taman Angsoka.
Setelah memastikan berita tersebut, Rama bergegas merapatkan barisan menuju Alengka. Perasaannya bercampur aduk. Ia semakin gundah kala Dewa Kama melesatkan panah asmara tepat ke inti jantungnya. Rama, awatara Dewa Wisnu itu, tidak mampu menahan rindu untuk bisa kembali bersatu dengan kekasihnya.
Ketika pasukan keras dihadapkan pada lautan luas yang memisahkan daratan Jambudwipa dengan Alengkapura, Rama semakin kalut. Pikirannya jauh dari pikiran orang bijak. Putra Dasarata itu menganggap laut turut bersekongkol memisahkannya dengan Sita. Maka, diambillah busur dan sebuah anak panah. Puja mantra diucapkan. Tanpa berpikir panjang, Rama ingin mengeringkan samudera untuk mempermudah mobilisasi bangsa kera.
Tindakan Rama itu seketika membuat semesta berguncang. Lereng gunung longsor, arus laut pun tidak menentu. Air laut mendidih, ikan-ikan kepanasan tidak berdaya. Mereka seolah menyaksikan kiamat yang sesungguhnya.
Petaka tersebut direspons sigap Bhatara Baruna. Pelindung lautan ini dengan segera memperingatkan Rama. Baruna mengatakan tindakan Rama tidak bisa dibenarkan karena akan membuat kiamat. Tindakan seperti itu bertolak belakang dengan tujuannya dilahirkan ke dunia sebagai pembebas (He nātha wyartha dentātharu-hara umanah wwai ning jalanidhi/ āpan tan durbalā yan haliwatana ike tā sātana tuwi/ sakweh ning rāt gawentekana kita mangěmit lāwan kita baśa/ ndyānung prastāwaning mohita kadi malupeng janmmottama kita//).
Baruna menegaskan rencana pengeringan laut tidak ada bedanya dengan judi. Menang atau kalah, pada prinsipnya sang pemain tetap kalah. Jika laut berhasil dikeringkan, tentara kera tidak serta merta mampu melalui dengan mudah. Palung-palung dengan lumpur tebal siap melahap pelintas. Ikan-ikan besar juga pasti sangat marah dan menuntut keadilan atas ruang hidup meraka yang dirampas.
Namun demikian, Baruna paham betul tentang tugas utama Rama untuk menghentikan tirani Rawana di dunia. Oleh karena itulah Baruna menawarkan jalan samping agar tujuan Rama tercapai, yakni dengan membangun jembatan apung di atas laut. Jembatan itu kelak dinamai Situbanda. Rama menyadari kegelapan pikirnya. Ia mohon ampun dan menerima saran Baruna demi kebaikan dunia.
Pesan kepada Pembaca
Narasi Kakawin Ramayana tersebut mewariskan pesan mendalam terhadap tata kelola lingkungan, khususnya laut. Kakawin Ramayana mengingatkan bahwa sebaik-baiknya pemimpin, ia tetap manusia yang bisa gelap mata dan gelap pikir. Bahkan, pemimpin dengan segala kewenangan di tangannya memiliki potensi yang lebih besar dalam merusak lingkungan.
Peringatan ini menuntut cerdik pandai untuk hadir sebagai penerang etik. Mereka bertanggung jawab mengingatkan pemimpin agar tidak keluar dari rel etik. Pada sisi lainnya, seorang pemimpin wajib memasang telinga baik-baik, mendengar secara seksama setiap saran dan usul demi kemaslahatan bersama. Bukan justru membenci pengkritik, dengan dangkal menuduhnya subversif, antipembangunan.
Narasi itu juga mengingatkan kita untuk selalu memupuk empati. Empati itu tidak sebatas pada sesama manusia, tetapi juga pada seluruh isi semesta. Pengelolaan sumber daya alam idealnya wajib memperhatikan keberadaan setiap yang hidup dan pendukung hidupnya. Investasi wajib memberi manfaat lahir-batin, bukan justru merampas ruang hidup serta hak mereka atas hidup dan kehidupan. BWN-03




























